Ignatius Praptoraharjo. Durban, 21 Juli 2016.

Sesi Pleno: Peran Populasi Kunci dan CSO dalam perluasan respon dan mengawal kesepakatan global.

AIDS Conference Day 4 | Ig. PraptoraharjoSesi ini lebih berfokus pada harapan-harapan terhadap peran populasi kunci dan CSO dalam upaya untuk mengakhiri epidemi AIDS pada tahun 2030. Topik pertama adalah tentang strategi untuk memperluas pencegahan dan perawatan HIV dan AIDS bagi semua orang yang berisiko dan mereka yang membutuhkannya. Pembicara ini kembali menegaskan pentingnya partisipasi yang bermakna populasi kunci di dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan monev dari penanggulangan HIV dan AIDS yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun lembaga internasional. Situasi yang dihadapi oleh mereka yang berisiko dan membutuhkan adalah mereka sendiri sehingga 'bertanya' kepada mereka merupakan sebuah keharusan jika tujuan untuk perluasan layanan pencegahan dan perawatan ini bisa berhasil.

Sementara itu, pembicara lain menyajikan topik tentang posisi penanggulangan HIV dan AIDS dalam isu kesehatan global dan agenda sustainable devlopment goals. Pembicara ini menegaskan arti strategis dari Badan PBB untuk mewujudkan komitmen global agar upaya penanggulangan HIV dan AIDS ini bisa diperhatikan oleh negara-negara yang menjadi anggotanya. Namun demikian, perlu juga secara kritis melihat kepentingan negara yang didesakkan melalui atau mengkooptasi forum PBB untuk kepentingan negara atau swasta bukan kepentingan dari orang yang mengalami ketidakadilan sosial termasuk populasi yang termarginalisasi. Untuk itu menjadi penting bagi CSO untuk menjadi wacthdog baik di tingkat global untuk mengawal kepentingan masyarakat yang tidak diuntungkan dalam pengambilan keputusan dan di tingkat regional atau nasional untuk memastikan kesepakatan tersebut dilaksanakan.

Aktivisme AIDS dari waktu ke waktu

Sesi ini menghadirkan sejumlah aktivis dari berbagai negara yang berbeda generasi untuk berbagi pengalaman tentang motivasi aktivisme dalam penanggulangan HIV dan AIDS dan hambatan-hambatan yang dihadapi dalam mewujudkan tujuan dari gerakan tersebut. Ada perbedaan besar dalam tujuan aktivisme penanggulangan HIV dan AIDS dari waktu ke waktu. Pada awal epidemi, aktivisme lebih dipicu oleh mereka yang yang secara langsung terdampak dengan HIV baik ODHA maupun orang dekat dari ODHA di Amerika dan Eropa. Tujuan aktivisme pada waktu itu lebih untuk mencari pengobatan atas penyakit yang dialaminya sehingga terbangun solidaritas yang kuat antar aktivis untuk mewujudkan tujuan itu. Aktivisme semakin meluas ketika permasalahan ini juga dialami oleh negara-negara lain sehingga terbangun solidaritas global yang bertujuan untuk mendesak pemerintah dan lembaga internasional untuk memberikan perhatian kepada permasalahan HIV dan AIDS. Aktivisme global ini semakin kuat ketika mulai tersedia obat yang bisa digunakan untuk terapi yang pada waktu itu hanya tersedia di negara-negara maju. Desakan dari aktivis agar ODHA bisa mengakses perawatan dan pengobatan yang tersedia memuncak pada Konferensi AIDS di Durban pada tahun 2000. Meski demikian, isu stigma dan diskriminasi terhadap HIV dan AIDS di masyarakat bahkan di populasi yang terdampak pun juga semakin menguat. Ada masa dimana para aktivis tidak mampu membicarakan tentang status AIDS secara terbuka karena kekhawatiran akan mengalami stigma dan diskriminasi diantara sesama aktivis. Sementara aktivisme saat ini cenderung lebih lebih berfokus pada penyediaan layanan, dan keterlibatan dalam proses pengambilan keputusan di tingkat nasional maupun internasional yang seringkali justru lebih menunjukkan tokenisme atau kooptasi atas populasi kunci dan CSO. Selain itu ada kecenderungan bahwa ada efek samping dengan ditemukannya obat untuk terapi ARV dan ketersediaannya yang meluas yaitu berkurangnya solidaritas aktivis karena merasa nyaman, terpenuhi kebutuhannya dan layanan sudah tersedia. Meski telah mengalami kemajuan dalam perawatan dan pengobatan, satu hal yang belum mampu diubah oleh aktivis hingga saat ini adalah masih banyaknya ketidakadilan yang dialami oleh mereka yang miskin, dimarjinalkan dan tidak diuntungkan misalnya masih kuatnya kriminalisasi populasi kunci, diskriminasi dan pembatasan-pembatasan atas layanan kesehatan yang telah tersedia serta ketidakpedulian negara atas isu-isu ketidakadilan sosial. Jika hal ini tidak menjadi fokus kembali dari aktivisme AIDS ke depan maka impian untuk mengakhiri AIDS pada tahun 2030 tidak akan terwujud.

AIDS Conference Day 4 | Ig. Praptoraharjo

Sesi Satelit: Pembiayaan AIDS

Sesi ini diselenggarakan oleh UNDP dengan tujuan untuk melihat pendekatan yang inovatif untuk meningkatkan pendanaan AIDS dalam rangka mengakhiri AIDS pada tahun 2030. Bukti yang disajikan menunjukkan bahwa akan ada kesenjangan yang cukup besar antara dana yang diperkirakan tersedia dengan dana yang dibutuhkan untuk penanggulangan AIDS khususnya di negara berpenghasilan rendah dan menengah bawah karena ada kecenderungan dukungan internasional semakin berkurang ke depan, sementara negara-negara tersebut merupakan negara yang paling terdampak oleh HIV dan AIDS. Pendekatan untuk meningkatkan pendanaan dalam negeri sebenarnya merupakan strategi yang layak tetapi kenyataan bahwa sebagian besar negara-negara tersebut mengkriminalkan populasi kunci maka tampaknya menjadi sulit untuk mendorong pendanaan yang lebih besar untuk AIDS. Meskipun demikian upaya untuk meningkatkan pendanaan domestik bisa dilakukan dengan cara: meningkatkan efisiensi alokatif dan teknis dari anggaran yang tersedia, mendorong kebijakan fiskal yang lebih besar untuk pembiayaan AIDS, dan advokasi anggaran HIV pada pemerintah nasional atau sub-nasional.

0
0
0
s2smodern
Penelitian

Knowledge Hub

Alert System

Peroleh informasi terbaru dari website ini, silahkan daftar ke alert system di bawah ini.

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID