Oleh: Ghanis Kristia - Pengelola Program KPA Kota Yogyakarta

Ilustrasi | Kebijakan AIDS IndonesiaPerkembangan kasus HIV dan AIDS di Kota Yogyakarta dewasa ini menunjukkan tren yang terus meningkat. Sampai dengan bulan September 2015 tercatat 726 kasus HIV & AIDS, dan dari jumlah tersebut 217 kasus sudah masuk dalam stadium AIDS. Dari jumlah kasus tersebut 56,8% berasal dari faktor resiko heteroseksual. Penggunaan kondom yang rendah di antara kelompok populasi kunci pada saat berhubungan seks beresiko menyebabkan tetap tingginya penularan HIV pada kelompok pekerja seks.

Menyadari akan tingginya angka kasus HIV yang disebakan karena heteroseksual di atas,maka KPA Kota Yogyakarta memprioritaskan pengembangan program intervensi struktural untuk Pencegahan HIV Melalui Transmisi Seksual (PMTS). Program ini mengedepankan pentingnya pelaksanaan program pencegahan yang komprehensif, terpadu melibatkan seluruh pemangku kepentingan dan pemberdayaan populasi kunci, secara khusus pekerja seks perempuan, dan pasangan seksual masing-masing. Program ini terdiri dari empat komponen, yaitu Peningkatan Peran Positif Pemangku Kepentingan di Lokasi, Komunikasi Perubahan Perilaku, Manajemen Rantai Pasokan Kondom dan Pelicin, serta Penatalaksanaan IMS. Program ini didukung oleh monitoring yang intensif untuk setiap komponen tersebut dan kemudian evaluasi perubahan perilaku setiap populasi yang ada di setiap komponen dan akhirnya perubahan perilaku pada populasi kunci.

Salah satu kegiatan dalam program PMTS kota Yogyakarta adalah penyusunan Kesepakatan Lokal Penanggulangan HIV di Wilayah Sosrowijayan Kulon. Penyusunan Kesepakatan Lokal diawali dengan mengadakan pertemuan – pertemuan yang difasilitasi oleh KPA Kota Yogyakarta dengan melibatkan stakeholder, pemilik wisma, keamanan lokal, LSM dan perwakilan pekerja seks di wilayah Sosrowijayan Kulon pada Tahun 2011. Setelah melaksanakan beberapa kali pertemuan akhirnya kesepakatan lokal di Sosrowijayan Kulon dapat ditandatangani pada tanggal 31 Maret 2012. Pada saat yang bersamaan juga dilakukan pembentukan Pokja HIV Sosrowijayan Kulon yang bertugas melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kesepakatan lokal.

Beberapa hasil yang dicapai antara lain adalah peningkatan jumlah distribusi kondom KPA dari 11.664 pcs pada tahun 2013, menjadi 75.024 pcs (tahun 2014) dan 94.896 pcs (tahun 2015). Selain peningkatan distribusi kondom, juga terjadi penurunan prevalensi HIV hasil sero survei Dinkes Kota Yogyakarta dari 9,14% pada tahun 2013, menjadi 6,39% (tahun 2014) dan 6,15% (tahun 2015). Namun beberapa tantangan juga masih dialami dalam pelaksanaan kesepakatan lokal tersebut yaitu masih rendahnya jumlah pekerja seks yang  melakukan penapisan IMS rutin yang dilakukan oleh Puskesmas Gedongtengen dan Klinik Griya Lentera PKBI DIY. Selain itu masih kurangnya peran Pokja Lokasi dalam melakukan pengawasan pelaksanaan kesepakatan lokal, yang mengakibatkan pelaksanaan kesepakatan lokal menjadi terkesan kurang maksimal hasilnya. Dan satu hal yang masih menjadi tantangan besar adalah mekanisme pengelolaan limbah kondom di wilayah Sosrowijayan Kulon. Pertemuan monitoring dan evaluasi rutin masih terus dilakukan untuk mencari solusi dari beberapa kendala tersebut.

Dari pengalaman tersebut, beberapa hal yang menarik untuk menjadi pokok bahasan kali ini adalah:

  1. Bagaimana strategi edukasi yang efektif agar pekerja seks memiliki kemauan yang kuat untuk melakukan pemeriksaan IMS rutin?
  2. Bagaimana strategi peningkatan peran Pokja Lokasi dalam melakukan pengawasan pelaksanaan kesepakatan lokal di wilayah Sosrowijayan Kulon?
  3. Bagaimana mekanisme yang efektif terkait pengelolaan limbah kondom di wilayah Sosrowijayan Kulon?
0
0
0
s2smodern
Load Previous Comments

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 3000 Character restriction
Your text should be less than 3000 characters