Oleh : Dewi Rokhmah

Isue HIV dan AIDS pada Komunitas LSL

Setiap tahunnya di tanggal 1 Desember, seluruh masyarakat dunia mengenal Hari AIDS Sedunia (HAS / World AIDS Day). Cukup beralasanmengapa momen HAS ini menjadi penting, mengingat peningkatan kasus HIV dan AIDS yang cukup menghawatirkan di setiap tahunnya sehingga menjadi isu permasalahan global. Terbukti dalam tujuan Millenium Development Goals 2015, pada tujuan keenam disebutkan adanya upaya penurunan penyakit menular HIV/AIDS. Penyakit ini dengan cepat dapat menyebar ke seluruh dunia (pandemik).

Laporan dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia menyebutkan bahwa jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS dari awal peneluan kasus pada April 1987 sampai dengan bulan Juni 2014 sudah terdapat 55.623 kasus, dimana laki-laki berjumalah 29.882 dan perempuan sebesar 16.092, sementara sisanya tidak diketahui identitas seksualnya. Berdasarkan faktor risiko, kasus tertinggi ditemukan pada heteroseksual sebesar 34.187, kemudian IDU sebesar 8.451 kasus dan urutan ketiga tertinggi adalah homoseks dan biseksual sebesar 1.298 kasus (Direktorat Jendral P2 & PL Kemenkes RI, 2014). Dalam strategi komunikasi penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia, terdapat 2 target utama yaitu populasi kunci (key population) dan populasi umum. Populasi Kunci terdiri dari : Pengguna Narkoba suntik/ Penasun/IDU, Penjaja Seks Perempuan (PSP), Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) dan waria serta ODHA.

Peningkatan prevalensi HIV pada populasi LSL menjadi peringatan yang perlu mendapatkan perhatian pemerintah. Program penanggulangan AIDS populasi LSL selama ini telah menerapkan berbagai metode untuk merubah perilaku yang berisiko tinggi. Namun prevalensi HIV pada populasi LSL tetap saja naik. Hasil Survey Terpadu Biologi dan Perilaku (STBP) Tahun 2011 dan Tahun 2013 menunjukan adanya peningkatan prevalensi HIV pada populasi LSL. Di Jakarta, Bandung dan Surabaya pada Tahun 2007 dan 2011, terjadi peningkatan prosentasi prevalensi dari 8,1 %, 2,0 dan 5,1% menjadi 17,2%, 10,4% dan 9,8%. Sama halnya pada hasil STBP tahun 2009-2013, di kota besar lainya, yaitu : Yogyakarta dan Tangerang mengalami peningkatan prosentasi prevalensi HIV pada LSL dari 7,9% dan 9,5% menjadi 20,3% dan 18,8%. Hanya Kota makasar yang mengalami penurunan dari 3,0% pada tahun 2009 menjadi 1,6% pada tahun 2013 (Praptorahardjo dkk, 2014).

LSL adalah suatu kelompok atau sub masyarakat yang paling tersembunyi (hidden) sehingga sulit sekali untuk diidentifikasi. Diantara pria yang aktif berhubungan seksual, sekitar tiga persen diantaraya adalah mereka yang berhubungan intim dengan sejenis yang dikenal dengan istilah LSL. Menurut perkiraan para ahli dan Badan PBB dengan memperhitungkan jumlah penduduk lelaki dewasa, jumlah LSL saat ini diperkirakan lebih dari tiga juta orang. Sedangkan berdasarkan perkiraan tahun 2009, angkanya hanya sekitar 800 ribu, dimana 60 hingga 80 ribu diantaranya berada di Jakarta (Candra, 2011). Sebagai masyarakat yang paling tersembunyi (hidden), LSL sangat sulit terjangkau oleh program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS. Di sisi lain, perilaku mereka sangat berisiko terhadap penularan HIV/AIDS, misalnya bergonta-ganti pasangan seksual tanpa menggunakan kondom dan pelicin, serta melakukan oral dan anal seks. Artinya bahwa saat ini LSL yang positif HIV didominasi oleh mereka yang masih berusia produktif dan dalam kategori seksual aktif. Hal ini memungkinkan kemudahan dalam proses penularan HIV/AIDS ke orang lain melalui transmisi seksual (hubungan seksual).

Berdasarkan kenyataan yang disebutkan di atas, maka perlu adanya gerakan yang masif dalam pencegahan penularan HIV dan AIDS di kalangan LSL. Setidaknya momen Hari AIDS pada tanggal 1 Desember 2014 yang bertemakan Close the Gap, dapat diartikan sebagai perlunya upaya menutup jurang pemisah dalam penanggulangan HIV dan AIDS di kalangan LSL. Mengingat program penanggulangan AIDS pada populasi LSL selama ini telah menerapkan berbagai metode untuk merubah perilaku yang berisiko tinggi. Namun prevalensi HIV pada populasi LSL tetap saja naik.

Mengacu pada SRAN (Strategi dan Rencana Aksi Nasional) terkait penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia, program-program penanggulangan HIV dan AIDS dikelompokkan menjadi 3 kelompok besar yaitu : Pencegahan, Pengobatan dan Perawatan, serta Mitigasi dampak. Dimana untuk pencegahan dilakukan dengan PMTS, Harm Reduction, serta PMTCT (PPIA). Kegiatan pokok pencegahan penularan HIV memalui transmisi seksual (PMTS) menargetkan 80% populasi kunci (termasuk LSL) terjangkau dengan program yang efektif dan 60% populasi kunci berperilaku hidup sehat serta menggunakan kondom setiap kali berhubungan seks berisiko (safesex). Namun hal ini sangat sulit diterapkan terutama pada komunitas LSL. Walaupun mereka memiliki tingkat pengetahuan tentang IMS dan HIV/AIDS yang memadai, namun hal ini tidak dapat merubah perilaku seksual berisiko mereka. Hal ini seperti pada hasil beberapa penelitian terbaru yang menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh antara pengetahuan dan sikap tentang HIV/AIDS dengan tindakan pencegahan HIV/AIDS pada komunitas LSL.

Berdasarkan kondisi yang disebutkan di atas, maka pendekatan program PMTS melalui sosialisasi safesex pada komunitas LSL tidak efektif dalam menurunkan prevalensi IMS dan HIV/AIDS. Terbukti penemuan kasus baru pada komunitas LSL cenderung naik baik dari sisi jumlah maupun usia yang semakin muda. Hal ini diperburuk dengan hasil indept interview yang menunjukkan berbagai kendala dalam menerapkan safesex pada komunitas LSL, yaitu terkendala oleh alasan kenikmatan dan kenyamanan pada saat melakukan hubungan seksual dengan pasangan dekat atau pacar, sehingga perilaku berisiko seperti bergonta ganti pasangan tanpa kondom masih banyak terjadi. Kepedulian yang tinggi pada risiko terhadap HIV/AIDS tidak memiliki hubungan pada penggunaan kondom diantara 40 LSL Filipina (Malonzo et al, 2011).

Dalam hal ini bisa dijelaskan bahwa apabila komunitas LSL merasa nyaman dengan tidak menerapkan safesex, maka hal ini akan menjadi ancaman bagi kelompok masyarakat yang lain akan kemungkinan penyebaran IMS dan HIV/AIDS yang tidak terkendali. Mengingat ada kalanya pasangan seks LSL berasal dari laki-laki heteroseksual atau biseksual  yang bisa melakukan hubungan seks dengan istri atau perempuan lain. Departemen Kesehatan dan FHI pada tahun 2012 melakukan studi terhadap 275 LSL memberikan gambaran betapa jaringan seksual diantara kelompok berisiko sangatlah rumit. Laki-laki penjaja seks yang pelanggannya adalah homoseksual (gay), ternyata juga membeli seks dari wanita penjaja seks (WPS) (Praptorahardjo dkk, 2014).

Dari kondisi yang telah disebutkan di atas, maka sebuah keharusan bagi pemerintah untuk merubah strategi pelaksanaan kebijakan kesehatan terkait penanggulangan HIV/AIDS dari pendekatan preventive dan promotive melalui program PMTS (dengan sosialisasi safesex) menjadi pendekatan preventive dan promotive melalui pendidikan kesehatan reproduksi di SMP dan SMA. Dengan pendekatan model seperti ini dapat menumbuhkan rasa percaya diri pada identitas seksual mereka sejak usia remaja, termasuk dalam menjalin relasi seksual dengan orang lain yang lebih bijak dan bertanggung jawab terhadap pilihan hidup sebagai heteroseksual atau homoseksual. Terdapat multi faktor termasuk atribut psikologis dimana perilaku promosi kesehatan (Health promoting Behaviour) dan faktor biologis mempengaruhi kemampuan seseorang untuk membuat perubahan pada gaya hidupnya. Konsep self-esteem, self-efficacy dan harapan memiliki hubungan yang kuat dan konsisten dengan perilaku promosi kesehatan (Klein-Hessling et al., 2005).

Pendekatan preventif dan promotif dalam kebijakan penanggulangan HIV/AIDS pada komunitas LSL sangat diperlukan dalam rangka menurunkan prevalensi IMS dan HIV/AIDS baik dari sisi jumlah maupun dari sisi usia pertama kali terinfeksi. Hal ini seperti pada penerapan salah satu dari delapan elemen yang harus tercakup dan menentukan kualitas dari sebuah  kebijakan menurut WHO yaitu pendekatan holistik yang artinya bahwa pendekatan dalam kebijakan kesehatan tidak dapat semata-mata mengandalkan upaya kuratif, tetapi harus lebih mempertimbangkan upaya preventif, promotif dan rehabilitatif (Ayuningytas, 2014). Dalam kebijakan terbaru yang dikeluarkan oleh Kemenkes, yakni Permenkes No 21 tahun 2013 disebutkan pada bagian II, Pasal 9 (7d) disebutkan bahwa gay, waria, dan laki-laki pelanggan/pasangan Seks dengan sesama Lelaki adalan sasaran promosi kesehatan (Suharni, 2014). Generasi muda atau remaja LSL diharapkan menjadi target, secara alami terhadap promosi kesehatan yang menyediakan pemahaman yang benar tentang pencegahan dan penularan HIV ( Lachowsky et al, 2014).

Belajar dari Kabupaten Jember Dalam Penanggulangan HIV dan AIDS pada LSL

Kabupaten Jember adalah salah satu kota yang terletak di bagian timur Propinsi Jawa Timur. Data yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan dan KPAD kabupaten Jember, angka HIV/AIDS sejak 10 terakhir terus mengalami peningkatan. Bahkan data terakhir peringkat Kabupaten Jember naik menjadi posisi ketiga di Jawa Timur sebagai Kabupaten penyumbang HIV/AIDS terbesar setelah Kota Surabaya dan Kabupaten Malang (PKBI Propinsi Jawa Timur, 2014). Pada tahun 2004 merupakan tahun awal kasus HIV/AIDS di Jember pertama kali ditemukan, yaitu sebesar 1 kasus, dan terus meningkat setiap tahun hingga tahun 2014 bulan Agustus jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Kabupaten Jember  sudah mencapai 1433 kasus (Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, 2014).

Dari jumlah total ODHA tersebut, berdasarkan faktor risiko, penularan melalui heteroseksual sebesar 1232 kasus (85,97%).Sedangkan urutan kedua adalah dari hubungan homoseksual. Yaitu hubungan seks antara sesama jenis termasuk didalamnya laki-laki berhubungan seks dengan laki-laki, termasuk para waria berhubungan seks dengan laki-laki.  Sama halnya dengan fenomena data di tingkat nasional, bahwa ada tren baru yang menarik dalam penemuan kasus HIV/AIDS dikalangan LSL (laki-Laki suka seks dengan Laki-laki), termasuk di Kabupaten Jember. Dalam 3 tahun terakhir, ditemukan kasus HIV/AIDS baru pada LSL dengan prevalensi yang cukup tinggi.

Sampai dengan bulan Agustus 2014, kasus HIV/AIDS pada faktor risiko homoseks (LSL) sebesar 101 kasus (7,05%). Peningkatan prevalensi HIV pada populasi LSL menjadi perhatian khusus pemerintah Kabupaten Jember melalui KPAD. Program penanggulangan AIDS pada populasi LSL selama ini telah menerapkan berbagai metode untuk merubah perilaku yang berisiko tinggi, diantaranya melalui program PMTS. Namun hal ini tidak membawa perubahan signifikan terhadap penurunan penemuan kasus baru HIV dan AIDS dikalangan LSL di Kabupaten Jember. Maka dari itu diperlukan pendekatan baru dalam stategi pelaksanaan program preventive dan promotive dengan sasaran remaja SMP dan SMA yang bertujuan untuk menanamkan pendidikan kesehatan reproduksi yang di dalamnya terdapat pemahaman seksualitas sejak dini agar mereka memiliki rasa percaya diri pada identitas seksual mereka sejak usia remaja, termasuk dalam menjalin relasi seksual dengan orang lain yang lebih bijak dan bertanggung jawab terhadap pilihan hidup sebagai heteroseksual atau homoseksual. Hal ini telah dilaksanakan oleh LSM Laskar dengan sasaran remaja melalui kegiatan : Edukasi tentang HIV dan AIDS termasuk di dalamnya materi tentang kesehatan reproduksi remaja di sekolah SMP, SMA dan Perguruan Tinggi serta pondok pesantren. Selain itu LSM Laskar bekerjasama dengan Karang Taruna dan PIK-R  (Pusat Informasi Kesehatan Reprodukdi Remaja) yang terdapat di kelurahan atau kecamatan dengan membentuk PIKM (Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat) yang berasal dari komunitas LSL, serta membina peer educator dari komunitas LSL. 

Daftar Pustaka

Ayuningytas, D. (2014). Kebijakan Kesehatan; Prinsip dan Praktik. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Direktorat Jendral P2 & PL Kemenkes RI. (2014). Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia Per Juni 2014. Jakarta : Ditjen P2 & PL Kemenkes RI.

Klein-Hessling, J., Lohaus, A. Ball, J. (2005). Psycological Predictors of Health-Related Behaviour in Children. Psycology, Health & Medicine, 10 (1), 31-43.

Komisi Penanggulangan AIDS Nasional. 2010. Pedoman Program Pencegahan HIV Melalui Transmisi Seksual. Jakarta: Komisi Penanggulangan AIDS Nasional.

Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Jember. 2014. Laporan Situasi HIV/AIDS Bulan Mei 2014. Jember : KPA Kabupaten Jember.

Lachowsky, N.J, Saxton, P.JW, Dickson, N.P, Hughes, A.J, Summerlee, A.J.S,Dewey, J.E, (2014).Factors associated with recent HIV testing among younger gay and bisexual men in New Zealand, 2006-2011. BMC Public Health 2014, 14:294 doi:10.1186/1471-2458-14-294.

Malonzo, E. M., & Felix Jr, C. C. (2013). Sexual-Esteem, Sexual Self Efficacy and Sexual Risk Cognitions of Men Who Have Sex with Men (MSM) In Davao City.Southeast Asian Interdisciplinary Research Journal, 1(1), 59-76.

Praptorahardjo, I. Suharni, Pudjiati, S.R. Hersumpana, Setiawan, E.P, Bolilanga, S. Dewi, E.H. (2014). Kebijakan HIV & AIDS dalam Sistem Kesehatan di Indonesia : Ringkasan Kajian Dokumen. Yogyakarta : Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada dan Departement of Foreign affairs and Trade, Austalian Government.

Suharni, M. (2014).Menelusuri Kebijakan, Penganggulangan HIV & AIDS Pada Laki-Laki Seks Dengan Laki-Laki  Dan Jaringannya. Http://kebijakanaidsindonesia.net

0
0
0
s2smodern
Penelitian

Knowledge Hub

Alert System

Peroleh informasi terbaru dari website ini, silahkan daftar ke alert system di bawah ini.

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID