Kurniawan Rachmadi

Penanggulangan infeksi HIV 2014 dan 2015Pada tanggal 30 Desember 2014, Unit Pelayanan Terpadu (UPT) HIV RSCM dan Perhimpunan Dokter Peduli AIDS Indonesia (PDPAI) mengadakan renungan akhir tahun mengenai upaya penanggulangan infeksi HIV & Hepatitis selama tahun 2014 serta harapan di tahun 2015. Renungan ini dihadiri oleh dokter, perawat, tenaga kesehatan lain, rekan-rekan aktifis serta mereka yang peduli pada penanggulangan HIV & Hepatitis. Juga turut hadir staf Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), pejabat kementerian kesehatan, serta perwakilan organisasi profesi AIDS & Hepatitis. Juga hadir perwakilan dari industri farmasi termasuk perusahaan farmasi nasional Kimia Farma.

Penanggulangan HIV pada tahun 2014 menunjukkan keberhasilan yang cukup menggembirakan. Minat masyarakat untuk mengetahui penularan HIV cukup tinggi serta partisipasi dalam pelaksanaan tes HIV terus meningkat, termasuk tes HIV pada ibu hamil. Tes HIV tidak hanya ditujukan untuk mereka yang berperilaku berisiko karena semakin disadari bahwa setiap orang meskipun tidak berperilaku berisiko dapat tertular HIV. Pemerintah pada tahun 2015 akan meningkatkan jumlah tes HIV, memberikan obat ARV secara lebih dini serta meningkatkan ketersediaan obat anti-retroviral. Jika pada tahun 2014 jumlah yang menggunakan obat ARV hampir 50.000 orang, maka pada tahun 2015 disediakan untuk 65.000 orang. Dana untuk obat Anti Retroviral disediakan oleh pemerintah. Meski anggaran yang diperlukan akan meningkat, namun peningkatan cakupan obat ARV akan menurunkan angka kematian, angka masuk rumah sakit, juga penurunan angka kasus infeksi baru pada bayi, sehingga secara keseluruhan justru akan menghemat biaya. Selain bermanfaat untuk orang yang terinfeksi HIV, obat ARV juga dapat melindungi penularan terhadap orang lain.

Data kementrian Kesehatan 2014

Grafik Penurunan Angka Kematian Pada Odha Dengan Pengobatan ARV Tabel Hasil Program Pencegahan Ibu ke Anak: Pencegahan Bayi Lahir +

Data Kementerian Kesehatan memperlihatkan bahwa pada tahun 2014 telah terjadi penurunan angka kematian pada Odha yang mendapatkan pengobatan ARV. Data lainnya juga memperlihatkan bahwa pengobatan ARV dapat menurunan infeksi kasus baru HIV pada bayi yang dilahirkan dari ibu yang positif HIV.

Jumlah penderita Hepatitis C di Indonesia ada sekitar 2,5% dari jumlah penduduk. Berarti jumlah yang memerlukan pengobatan Hepatitis C di negeri kita amat banyak. Pengobatan sekarang yang menggunakan suntikan Interferon serta obat kapsul Ribavirin memakan waktu lama dan biaya yang mahal. Akibatnya hanya sebagian kecil orang dengan Hepatitis C yang dapat memanfaatkan terapi Interferon. Pengobatan baru Hepatitis C menggunakan Sofosbuvir dan Ribavirin, di luar negeri menunjukkan hasil yang amat menggembirakan. Obat ini dapat diberikan secara oral dengan waktu pengobatan yang lebih pendek. Selain itu yang terpenting adalah obat ini dapat benar-benar mematikan virus Hepatitis C. Hambatan yang dihadapi adalah harga obat yang amat mahal. Beberapa perusahaan di India telah ditunjuk pemegang paten untuk memproduksi obat Sofosbuvir dengan harga murah. Beberapa negara seperti Mesir dan juga Pakistan telah dapat mengakses dan memanfaatkan obat ini dengan harga yang terjangkau. Mungkinkah Sofosbuvir digunakan di Indonesia?

Sofosbuvir merupakan terapi harapan di tahun 2015 di negeri kita. Banyak penderita Hepatitis C yang sudah lama menunggu untuk dapat menggunakan obat ini. Agar obat ini dapat tersedia serta dapat dimanfaatkan dalam pengobatan Hepatitis C, maka semua pihak harus berusaha membantu pengadaan obat ini. Diharapkan kalangan profesi kedokteran, Kementerian Kesehatan, Badan POM, industri farmasi, serta masyarakat bersama-sama mengupayakan agar obat ini tersedia untuk saudara-saudara kita yang membutuhkan. Peserta renungan mengharapkan obat ini dapat tersedia pada pertengahan 2015. Mudah-mudahan harapan ini dapat menjadi kenyataan. (SD)

0
0
0
s2smodern
Penelitian

Knowledge Hub

Alert System

Peroleh informasi terbaru dari website ini, silahkan daftar ke alert system di bawah ini.

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID