Oleh: Swasti Sempulur

IlustrasiKelompok dukungan sebaya atau peer support group merupakan sebuah kelompok yang bertujuan mensupport setiap anggota kelompok dalam kehidupan keseharian mereka. Dukungan sebaya meliputi orang yang menghadapi tantangan yang sama misalnyapasien dengan infeksi tertentu, komunitas tertentu.[1] Kelompok dukungan sebaya (KDS) sangat dikenal dalam konteks penanggulangan HIV/AIDS untuk memberikan support bagi orang yang terinfeksi HIV (ODHA) maupun keluarganya. Pertama kali seseorang mendapati dirinya terinfeksi HIV, memiliki beberapa persoalan, terkait dengan psikologis, kekhawatiran terhadap kesehatan, relasi dengan pasangan, ekonomi dan prasangka akan didapati perlakuan stigma dan diskriminasi, dll.  Dukungan moral yang dibutuhkan oleh orang yang terinfeksi HIV sangat diperlukan untuk mengatasi berbagai persoalan tersebut, sehingga mereka tetap dapat hidup sehat, dan produktif.  Dukungan tersebut salah satunya diperoleh melalui kelompok dukungan sebaya (KDS).

0
0
0
s2smodern
Oleh : Ita Perwira

"Kita tidak selalu bisa membangun masa depan untuk para pemuda, tetapi kita bisa membangun pemuda untuk masa depan" - Franklin D. Roosevelt

Ilustrasi | beritaintrik.comKita semua sadar bahwa masa depan kita berada di tangan para pemuda. Oleh karena itu sangat penting untuk melindungi mereka dari berbagai tantangan yang mengancam termasuk salah satunya permasalahan kesehatan. Terutama saat ini kelompok remaja mengalami peningkatan risiko terhadap HIV dan AIDS karena kondisi psikologis, lingkungan sosial dan struktural serta proses transisi yang mereka alami sebagai bagian dari perkembangan fase kehidupan mereka. Risiko ini semakin tinggi pada kelompok kunci remaja yaitu remaja yang juga LSL, transgender, penasun, dan pekerja seks. Hal ini ditunjukkan dengan semakin meningkatnya angka penularan HIV (saat ini 35% penularan HIV pada kelompok usia 15-24 tahun) dan juga kematian secara global pada kelompok remaja di tahun 2005-2012, padahal pada kelompok usia lain menunjukkan penurunan[1]. Gambaran penyebab kematian pada remaja secara global ditunjukkan secara jelas pada grafik dibawah. Di Indonesia sendiri, persentase infeksi HIV pada kelompok umur 15-24 tahun 2015 adalah sekitar 19.3%, sementara untuk persentase kumulatif kasus AIDS sampai dengan tahun 2015 kelompok usia muda usia 20-29 tahun adalah kelompok yang tertinggi yaitu 31.8%. Hal ini bila tidak segera menjadi perhatian kita maka angka ini akan terus meningkat. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menghentikan penyebaran HIV sesuai dengan target 90-90-90 yang telah dicanangkan dengan salah satu fokus pada kelompok remaja mengembangkan upaya penanggulangan yang lebih baik.

0
0
0
s2smodern
Oleh: M. Suharni

Ilustrasi | flaticon.comPengelolaan sediaan farmasi dan alat kesehatan   salah satu subsistem dalam sistem kesehatan nasional. Kegiatan ini sangat penting untuk  menunjang kinerja penyediaan layanan kesehatan di fasilitas kesehatan, seperti di rumah sakit, puskesmas dan klinik agar mampu memberikan layanan yang optimal  sesuai kebutuhan pasien. Kegiatan pengelolaan ini bertujuan antara lain agar ketersediaan barang, obat-obatan dan alat kesehatan yang diperlukan tersedia dalam jumlah dan waktu  yang tepat dengan kualitas yang memadai. 

Pengelolaan  perbekalan farmasi dan alat kesehatan juga bertujuan untuk pengamanan dalam artian agar persediaan tidak terganggu oleh kerusakan, pemborosan, penggunaan tanpa hak, pencurian dan penyusutan yang tidak wajar lainnya. Selain itu dari sisi pembiayaan pengelolaan perbekalan farmasi dan alat kesehatan bertujuan agar dalam operasionalisasinya ada efesiensi pembiayaaan.  Oleh karena itu, pengelolaan sediaan farmasi dan alat kesehatan dalam sistem kesehatan nasional mesti didukung oleh regulasi yang akuntabel dan operasional serta  sumber daya yang memadai.

0
0
0
s2smodern
0leh: dr. Husein Pancratius R*. Sekretaris KPA Provinsi NTT.

Pendahuluan

Dari temuan data HIV di NTT ditemukan bahwa penyebaran Epidemi HIV AIDS baik sebagai sumber penularan maupun sebagai penyebaran penularan hampir selalu ditemukan hadirnya angka angka yang bermakna dari 2 (dua) kelompok masyarakat yaitu Kelompok Populasi kunci dan Kelompok Lelaki berisiko tinggi. Kehadiran kedua kelompok ini terutama berkaitan dengan identifikasi anggota kelompok (untuk masuknya program intervensi) selalu kurang berhasil, karena berkaitan dengan berbagai sebab yang menyebabkan anggota kelompok menempatkan diri sebagai masyarakat underground. Kita siapa saja, baik Pemerintah, Lembaga Sosial Masyarakat terkait, maupun Kelompok Dukungan Sebaya (KDS), sudah berupaya keras untuk mengenal dan mendata mereka, tetapi hasilnya; jumlah anggota sesungguhnya dari kelompok ini (angka riil) tetap tak terjangkau. Padahal secara Epidemilogi kalau kelompok ini bisa dijangkau sampai 80 % saja maka angka laju epidemi bisa menurun secara bermakna.

0
0
0
s2smodern
Oleh: M. Suharni

Ilustrasi | flaticon.comHIV dan AIDS bukan hanya persoalan  kesehatan semata, tetapi juga  berimplikasi pada permasalahan sosial, politik hukum dan ekonomi. Oleh karena itu upaya penanggulangan HIV dan AIDS merupakan permasalahan multisekroral yang melibatakan para pemangku kepentingan. Para pemangku kepentingan  adalah mereka ada yang terdampak oleh HIV dan juga mereka yang  memainkan berbagai peran dalam upaya penanggulangannya, yang terdiri dari ODHA, para pemimpin lokal, tenaga kesehatan, pemerintah, organisasi non pemerintah, organisasi berbasis masyarakat, organisasi berbasis kepercayaan, ikatan dokter, para pengambil kebijakan, sektor swasta, mitra pembangunan internasional dan dunia akademis.   Oleh karena itu perlu  perlu usaha serius untuk mengoordinasi para multipihak tersebut untuk mendukung upaya penanggunggalangan HIV dan AIDS.

0
0
0
s2smodern
Penelitian

Knowledge Hub

Alert System

Peroleh informasi terbaru dari website ini, silahkan daftar ke alert system di bawah ini.

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID