Oleh : Chrysant Lily
"The true art of using data is in finding ways to use the data that address the particular concerns of the target audience." (UNAIDS/WHO 2004)

Data | Kebijakan AIDSHasil penelitian PKMK tentang keterlibatan OMS dan OBK atau yang biasa disebut sebagai sektor komunitas dalam penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia menunjukkan bahwa salah satu faktor yang mengakibatkan mereka tidak bisa secara maksimal berkontribusi pada pencapaian hasil adalah karena kegiatan-kegiatan yang dilakukannya menjadi cenderung mekanis, termasuk dalam pengumpulan data program. Pada dasarnya data program dikumpulkan untuk dua tujuan, pertama untuk akuntabilitas atas program yang dijalankan dan kedua untuk pengambilan keputusan dalam perencanaan dan perbaikan program. Sayangnya selama ini pengumpulan data yang dilakukan oleh OMS/OBK cenderung untuk memenuhi tujuan yang pertama saja, yaitu untuk pertanggungjawaban kepada donor ataupun kepada KPA. Data program sekedar dipakai untuk mengukur capaian target, tetapi tidak untuk meninjau apakah pendekatan yang dilakukan sudah tepat guna dan tepat sasaran. Akibat tidak dilaksanakannya tujuan yang kedua ini, daya tanggap OMS/OBK terhadap kebutuhan konstituennya menjadi lemah, sehingga kinerjanya dalam penanggulangan HIV dan AIDS menjadi kurang optimal.

Sebenarnya sudah banyak yang menyadari bahwa data program bisa dan perlu dimanfaatkan lebih dari sekedar untuk mengukur capaian, namun masih kurang yakin dengan caranya. Terbukti dalam Pertemuan Nasional AIDS V di Makassar, berbagai kalangan yang hadir termasuk pengelola program dan KPA dari berbagai daerah sangat antusias untuk mempelajari tentang pemanfaatan data untuk pengambilan keputusan. Sesi skill-building workshop bertema ‘Dari Penelitian ke Kebijakan’ yang diselenggarakan oleh PKMK FK UGM dan HCPI dijejali peserta sehingga melebihi kapasitas ruangan. Tulisan ini bukan hendak memberikan reportase atas kelas skill-building tersebut, melainkan untuk meninjau bagaimana data bisa digunakan oleh pengelola program untuk tujuan yang kedua yaitu untuk pengambilan keputusan yang strategis sifatnya, entah untuk perbaikan program maupun untuk menghasilkan bukti-bukti yang bisa diadvokasikan untuk pembuatan kebijakan yang lebih baik lagi.

Gambar 1: Kerangka Pemanfaatan Data untuk Pengambilan Keputusan | Sumber: diterjemahkan dari MEASURE Evaluation (2006)

MEASURE Evaluation (2006) menawarkan kerangka yang bisa menjelaskan bagaimana data bisa dimanfaatkan untuk pengambilan keputusan (lihat gambar). Langkah-langkahnya bisa dijelaskan sebagai berikut:

  1. Menentukan kebutuhan data. Langkah pertama adalah menentukan terlebih dahulu masalah yang ingin diselesaikan. Di tahap ini pengelola program perlu mendefinisikan pertanyaan kunci yang ingin dijawab, sebab dari situlah bisa ditentukan data seperti apa yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah. Dalam tahap ini, sangat penting untuk melibatkan pemangku kepentingan guna memastikan bahwa data yang dikumpulkan sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhan mereka.
  2. Pengumpulan dan analisa data. Di tahap ini, pengelola program perlu mengidentifikasi sumber data yang tersedia dan yang relevan untuk menjawab pertanyaan kunci yang sudah ditentukan. Data bisa berasal dua sumber, yaitu data yang berbasis populasi seperti Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP), sensus nasional, Riset Kesehatan Dasar, dan sebagainya. Ada pula data yang berbasis institusi seperti data yang dihasilkan oleh Puskesmas, Rumah Sakit, LSM dan sebagainya, yang merupakan kumpulan data hasil kegiatan yang dilakukan (sering disebut sebagai data program). Pengumpulan data lewat wawancara, diskusi, atau kuesioner juga bisa dilakukan untuk membantu menjawab pertanyaan kunci. Setelah itu, analisa atas data yang telah dikumpulkan kemudian dilakukan sehingga kesimpulan bisa diambil berdasarkan hasil analisa tersebut.
  3. Penyediaan informasi. Setelah data dikumpulkan dan dianalisa, hasilnya perlu dibagikan oleh pengelola program kepada para pemangku kepentingan. Idealnya data ini bisa mengidentifikasikan tindakan apa yang perlu diambil sehingga menjadi bagian penting dari perencanaan atau tinjauan terhadap suatu program. Data bisa didiseminasikan melalui berbagai metode, termasuk melalui artikel, fact sheet, laporan penelitian, policy brief, brosur, dan sebagainya.
  4. Penggunaan informasi. Di tahap ini, pengelola program (atau pemangku kepentingan) bisa memanfaatkan data yang tersedia untuk mengambil berbagai keputusan, seperti merubah desain program atau pendekatan suatu layanan, memobilisasi lebih banyak sumber daya untuk ekspansi program, menentukan alokasi sumber daya seperti mengurangi atau menambah staf, mengadvokasikan atau mengembangkan kebijakan tertentu, dan sebagainya.

Tahap-tahap pemanfaatan data untuk pengambilan keputusan di atas erat kaitannya dengan tahap-tahap penelitian, yang keterampilannya sangat mungkin untuk dikembangkan dan dimiliki oleh pengelola program. Namun berbeda dengan pengumpulan data yang sekedar bertujuan untuk memenuhi tuntutan pertanggungjawaban kepada pihak donor, proses ini memang ibarat sebuah seni yang tidak bisa dihasilkan secara mekanis. Oleh karena itu, salah satu penentu sejauh mana data akan dimanfaatkan untuk pengambilan keputusan adalah motivasi dan komitmen dari individu yang mengumpulkan dan menggunakan data tersebut. Tetapi yang perlu diingat adalah di saat para pengelola program dan pemangku kepentingan menggunakan informasi untuk membuat keputusan berbasis bukti, maka kemampuan mereka untuk memberikan respon yang lebih sesuai dengan kebutuhan konstituen dan masyarakat yang terdampak akan semakin besar sehingga kinerjanya pun bisa semakin efektif.

0
0
0
s2smodern
Penelitian

Knowledge Hub

Alert System

Peroleh informasi terbaru dari website ini, silahkan daftar ke alert system di bawah ini.

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID