Oleh: Ita Perwira

IlustrasiTanggal 1 Maret 2016 kemarin diperingati sebagai hari tanpa diskriminasi sedunia (zero-discrimination day). Adalah menjadi hak setiap orang untuk mendapatkan kehidupan yang bebas dari stigma dan diskriminasi. Namun sampai saat ini, termasuk di Indonesia, stigma dan diskriminasi yang terjadi di layanan kesehatan masih cukup tinggi. Hal ini terlihat salah satunya pada pelayanan HIV dan AIDS termasuk layanan lainnya yang terkait, seperti layanan IMS. Adanya stigma dan diskriminasi di layanan kesehatan ini secara umum menjadi hambatan yang cukup besar dalam pencapaian target cakupan kesehatan secara menyeluruh (universal health coverage). Selain itu, secara khusus beberapa hasil penelitian juga menunjukkan bahwa stigma dan diskriminasi ini juga menghambat penanggulangan epidemi HIV dan AIDS, karena diskriminasi yang ada menghambat kelompok tertentu seperti populasi yang terpinggirkan (marginalized population) dan populasi kunci untuk mengakses layanan kesehatan (Nyblande, et al. 2009; Feyissa, et al. 2012).

Sayangnya stigma dan diskriminasi yang terjadi pada layanan kesehatan seringkali tidak disadari oleh petugas kesehatan itu sendiri. Penelitian yang dilakukan oleh Nyblande et al. (2009) menyatakan bahwa salah satu penyebab tingginya stigma dan diskriminasi terhadap HIV dan AIDS di layanan kesehatan adalah kurangnya kesadaran tenaga kesehatan atas apa itu stigma dan diskriminasi? Serta bagaimana dampak yang dapat ditimbulkan oleh stigma dan diskriminasi tersebut? Bentuk stigma dan diskriminasi ini sangat bervariasi, mulai dari penempatan papan status pasien secara terbuka pada tempat pelayanan, bergosip atau membicarakan tentang status pasien, pelecehan secara verbal maupun sikap, menghindari untuk melayani pasien ODHA, mengisolasi pasien ODHA, membuka status HIV tanpa persetujuan ataupun merujuk tes HIV tanpa diberikan konseling, serta berbagai macam jenis lainnya. Seringkali mereka tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan memberikan dampak secara psikologis tidak hanya terhadap pasien ODHA, tetapi juga terhadap lingkungan sekitar termasuk para petugas kesehatan sendiri. Hal tersebut menyebabkan orang tidak mau atau terlambat mengakses layanan terkait HIV karena takut stigma dan diskriminasi tersebut akan menimpa dirinya.

Stigma dan diskriminasi yang dilakukan oleh petugas kesehatan pada dasarnya disebabkan karena masih rendahnya pengetahuan komprehensif tentang HIV dan AIDS dan masih tingginya anggapan di masyarakat bahwa HIV berkaitan dengan perilaku yang amoral atau tidak patut. Stigma sendiri lebih banyak dihubungkan dengan sikap yang tidak menyenangkan terhadap seseorang atau sesuatu tertentu, sementara diskriminasi lebih pada tingkah laku terhadap baik individu maupun kelompok yang berdasarkan prasangka. Penelitian lain menunjukkan bahwa stigma dan diskriminasi terbesar terjadi karena adanya tindakan pencegahan tambahan yang dilakukan pada ODHA yaitu sebesar 66.44%. Selain itu stigma dan diskriminasi juga timbul karena masih tingginya ketakutan tenaga kesehatan akan penularan melalui pekerjaan yang mereka lakukan (53.33%) dan tidak adanya rasa aman saat berada disekitar pasien HIV positif (49.38%) (Feyissa, et al. 2012). Kondisi tersebut juga didukung oleh masih rendahnya kebijakan di pusat layanan kesehatan terkait dengan ODHA dan layanan yang seharusnya diberikan. Selain itu, belum banyak pelatihan khusus terkait dengan stigma dan diskriminasi, meskipun sebenarnya sudah ada pelatihan tentang HIV dan AIDS secara komprehensif tetapi hanya dilakukan kepada beberapa orang tertentu saja.

Di Indonesia sendiri, hal yang kurang lebih sama juga banyak terjadi di layanan kesehatan, meskipun belum diperoleh data secara detail dari penelitian yang dilakukan di Indonesia tentang jumlah maupun prosentase jenis-jenis stigma yang terjadi. Hal ini cukup mengecewakan karena layanan kesehatan adalah tempat yang diharapkan oleh banyak orang menjadi tempat untuk mendapatkan pelayanan yang terbaik terutama karena mereka memang sedang membutuhkan pertolongan. Oleh karena itu, belajar dari pengalaman yang terjadi pada penanggulangan HIV dan AIDS seperti yang digambarkan diatas, perlu dilakukan perubahan yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan dimana SETIAP ORANG, DIMANA SAJA, dapat mengakases layanan kesehatan tanpa adanya diskriminasi. Tujuan ini juga sejalan dengan target global untuk mencapai Universal Health Coverage (UHC). Untuk melakukan perubahan tersebut, ada beberapa masukan terkait fokus intervensi yang perlu menjadi pertimbangan untuk dapat dilakukan, yaitu dapat dilihat pada tabel dibawah.

Nyblande, et al. 2009 UNAIDS, 2016 – agenda zero-discrimination
  • Tingkat individu: meningkatkan kesadaran akan stigma dan diskriminasi pada tingkat individu khususnya pada petugas kesehatan melalui peningkatan pengetahuan yang komprehensif.
  • Tingkat lingkungan: pelaksanaan program perlu memastikan bahwa petugas kesehatan memiliki informasi yang mudah diakses, kelengkapan peralatan yang dibutuhkan untuk pencegahan umum (universal precaution/UP) dan pencegahan penularan HIV melalui kerja.
  • Tingkat kebijakan: perlu dikembangkan kebijakan yang melindungi keselamatan dan kesehatan pasien, serta petugas kesehatan sendiri untuk menghindari terjadinya diskriminasi terhadap ODHA.
  • Dampak politik: dengan meningkatkan komitmen politik melalui mobilisasi seluruh konstituensi kunci, untuk mengamankan agenda ini sebagai prioritas di seluruh tingkatan.
  • Akuntabilitas: melalui pelaksanaan kerangka dan mekanisme monitoring dan evaluasi untuk membangun bukti, memantau perkembangan dan memastikan akuntabilitas.
  • Implemetasi/pelaksanaan: dengan mendorong peningkatan implementasi dari aksi yang efektif untuk mencapai layanan kesehatan yang bebas diskriminasi

Kedua hal diatas dapat dijadikan pertimbangan dalam merespon stigma dan diskriminasi yang juga terjadi di Indonesia. Hal ini membutuhkan adanya koordinasi dan juga komitmen politik dari semua pemangku kepentingan dan juga individu pelaksana di layanan kesehatan di Indonesia demi tercapainya layanan kesehatan yang bebas dari stigma dan diskriminasi (IP).

Sumber:

  1. Nyblade, L., Stangl, A., Weiss, E., & Ashburn, K. (2009). Combating HIV stigma in health care settings: what works? J Int AIDS Soc, 12(1), 15. http://doi.org/1758-2652-12-15 [pii]\r10.1186/1758-2652-12-15
  2. Feyissa, G. T., Abebe, L., Girma, E., & Woldie, M. (2012). Stigma and discrimination against people living with HIV by healthcare providers, Southwest Ethiopia. BMC Public Health, 12(1), 522. http://doi.org/10.1186/1471-2458-12-522
  3. UNAIDS (2016). Agenda for Zero Discrimination in Health Care, I stand for #zerodiscrimination
0
0
0
s2smodern