Oleh: Hersumpana

Ilustrasi|shutterstockPemanfaatan kondom sebagai alat kesehatan yang efektif untuk mencegah penularan HIV dan IMS menghadapi tantangan kompleks. Kebijakan pemanfaatan kondom sebagai alat pencegahan belum berjalan secara optimal. Korelasinya dengan situasi perkembangan HIV menunjukkan persentase faktor risiko tertinggi adalah  kasus AIDS yang dilaporkan hingga akhir 2015 yaitu 80,3 % heteroseksual, 8% homoseksual (LSL), 4,1 % Ibu positif HIV ke anaknya, dan 3% Penasun (Ditjen P2PL, 2015). Tingginya   persentase kasus AIDS dari faktor resiko kelompok heteroseksual mencerminkan tidak efektifnya pemanfaatan fungsi kondom sebagai alat pencegahan AIDS. Ada kecenderungan terjadi peningkatan penularan HIV pada kelompok resiko rendah menurut hasil estimasi nasional 2015-2030 (KPAN, 2015). Di Yogyakarta, dilaporkan  kecenderungan peningkatan infeksi HIV pada ibu rumah tangga 12,7 % dan siswa/mahasiswa 6,8 % (Dinkes DIY, 2015). 

Dengan kecenderungan tingginya angka penularan pada kelompok heteroseksual dan kecenderungan perluasan penularan kepada kelompok resiko rendah maka perlu upaya mendorong optimalisasi pemakaian kondom sebagai alat kesehatan.  Tulisan ini akan mencermati kebijakan fungsi kondom sebagai alat kesehatan yang terintegrasi ke dalam sistem layanan kesehatan dasar dengan mengadaptasi pendekatan siklus hidup (lifecycle approach) yang menyasar pada ibu rumah tangga dan remaja.  

Pendekatan siklus hidup ini dalam upaya pencegahan HIV dan AIDS ini dipandang efektif untuk mencegah terjadinya penularan secara integral mulai dari anak, remaja dan perempuan dewasa. Secara konseptual  pendekatan siklus hidup ini memandang adanya keterkaitan antara kesehatan ibu, kesehatan anak, dan remaja sebagai kesatuan yang saling memengaruhi. Sehingga intervensi pada ketiga fase kehidupan perempuan tersebut. “Health risks at any one of these stages have broader effects on the lifecycle as a whole; similarly each stage represents a unique opportunity to introduce interventions that have broader benefits across these three stages. A “lifecycle approach” thus recognizes the interconnectedness of women, children and adolescents, and prioritizes interventions that have benefits across these population” (Roxby et al, 2014).

Dalam kontek penanggulangan HIV dan AIDS, pendekatan siklus hidup memberikan  kesempatan perempuan dan remaja untuk mendapatkan layanan kesehatan reproduksi yang mencakup program pencegahan HIV, pengobatan dan perawatan ODHA  sebagai intervensi optimal yang terintegrasi ke dalam  sistem kesehatan nasional. Implementasinya bisa dilakukan dengan mengintegrasikan  progam PPIA (Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak), kesehatan reproduksi  dan program KIA dengan cara promosi penggunaan dan  kondom sebagai alat kesehatan reproduksi sekaligus pencegahan penyakit menular melalui transmisi seksual.

Dalam kerangka pendekatan siklus kehidupan intervensi pencegahan penularan dengan menggunakan kondom merupakan bagian tidak terpisahkan dari peran dual function (fungsi ganda) kondom sebagai alat kontrasepsi dan alat pencegahan penyakit melalui transmisi seksual. Artinya, kebijakan penggunaan kondom yang menjadi domain BKKBN, sebagai lembaga yang memiliki kewenangan untuk melaksanakan pengendalian kependudukan, sekaligus secara strategis berperan melakukan pencegahan terhadap penyakit menular. Dalam praktik, secara dominan di Indonesia masih memrioritaskan penggunaan kondom sebagai alat kontrasepsi. Dalam sebuah diskusi  delphi permodelan PMTS yang dilakukan Tim Peneliti PKMK UGM di Medan didapatkan bahwa pemahaman kondom sebagai alat kontrasepsi pada pengelola program Pemberdayaan Perempuan dan BKKBN masih konteks untuk alat kontrasepsi yang didistribusikan melalui Puskemas, dan Dinas Kesehatan[1]. Sementara kondom sebagai alat pencegahan penyakit HIV dan AIDS menjadi konsern pada aktifis pegiat AIDS, KPA dan LSM yang berperan dalam implementasi pemanfaatan kondom sebagai alat pencegahan HIV dan AIDS.  Kebijakan terkait kondom masih dipisahkan antar pemangku kepentingan terkait dengan pencegahan HIV dan AIDS. Terdapat hambatan  dan pengaruh dari aspek kultural dan sosial untuk pemanfaatan kondom sebagai alat pencegahan penyakit, khususnya dari para pemangku kepentingan kunci di tingkat SKPD, seperti BKKBN, Dinas Kesehatan dan Puskesmas. Sementara, kondisi yang agak berbeda terjadi di Merauke yang ada satu bidang khusus yang difungsikan untuk mengelola pengadaan dan distribusi kondom untuk pencegahan HIV dan AIDS, yakni Pusat Kesehatan Reproduksi (PKR) sebagai Sub bagian pelaksana teknis dari dinas kesehatan.  Hal ini tidak terlepas dari sejarah perjalanan penyakit di Merauke yang tahun 2000-an jumlah kasus IMS terbesar di Indonesia, yang kemudian menjadikan Merauke sebagai daerah merespon cepat untuk mengeluarkan kebijakan kondom 100 % melalui perda penanggulangan AIDS No. 5 tahun 2003 dan dipebarui dengan Perda no. 3 tahun 2013. Adanya kebijakan tersebut menciptakan lingkungan kondusif untuk pemanfaatan kondom sebagai alat pencegahan penyakit yang dilakukan pada tingkat layanan dasar di Puskesmas yang terkoordinasi di bawah PKR. Kemudian diperkuat perluasan peran pendistribusian kondom yang fokus pada pencegahan penyakit melalui jalur yang dikembangkan melalui KPA, LSM dan Komunitas.

Permasalahannya kemudian bagiamana mengintegrasikan pemanfaatan kondom sebagai alat kontrasepsi dan alat pencegahan penyakit (Kesehatan) dalam layanan dasar lebih optimal? Pendekatan siklus hidup ini dapat dimaksimalkan oleh petugas layanan kesehatan dasar di tingkat Puskesmas. Selama ini memang pemanfaatan kondom di layanan dasar masih sebagai alat kontrasepsi yang dominan, akan tetapi    mengacu pada Pedoman Pelaksanaan Kegiatan KIE Kesehatan Reproduksi  yang dikeluarkan oleh Depkes RI 2008, Kesempatan untuk memperluas itu dinyatakan dalam Pedoman Pelaksanaan KIE Kespro untuk petugas layanan kesehatan didasarkan pada prinsip keterpaduan dalam memberikan layanan  kesehatan ibu dan bayi baru lahir, kesehatan reproduksi, pencegahan dan penanggulangan IMS, HIV dan AIDS, dan Kesehatan Reproduksi lanjut. Dengan pendekatan siklus hidup, maka untuk pencegahan dan penanggulangan IMS, HIV dan AIDS merupakan bagian integrasi dalam layanan kesehatan dasar. Misalkan petugas kesehatan yang memberikan layanan untuk ibu hamil dan remaja yang sakit perlu memberikan pengetahuan tentang penyakit menulas seksual dan pencegahannya.

Kebijakan Pengintegrasian layanan pencegahan HIV dan AIDS di Indonesia dilakukan dengan kebijakan Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) yang diintegrasikan dalam layanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Keluarga Berencana, dan PDP. Intervensi yang dilakukan adalah melalui pendidikan (KIE) Kehatan Reproduksi, Pencegahan  melalui Konseling dan Tes Sukarela (KTS), termasuk pemberian kondom. Kebijakan ini sudah dilaksanakan dalam kerangka Layanan Kesehatan Komprehensif (LKB) yang dilakukan bersamaan dengan SUFA. Implementasi PPIA berdasarkan data dari Kemenkes sudah dilaksanakan pada tahun 2013 mencakup 31 Provinsi dengan jumlah layanan di 92 Rumah Sakit dan 30 Puskesmas. Data Kemenkes yang terbaru yang melaporkan per desember 2015 menunjukkan perkembangan layanan PPIA menjadi 32 propinsi dengan jumlah layanan PPIA 261 dan jumlah ibu hamil yang mendapatkan layanan PPIA 1730 (Kemenkes, 2016).

Untuk pengintegrasian layanan kondom sebagai alat pencegahan penyakit menjadi tantangan tersendiri sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pendekatan siklus hidup untuk kesehatan ibu dan anak secara komprehensif. Pengembangan pendidikan bagi perempuan resiko rendah dan remaja untuk pencegahan terhadap penyakit menular untuk materi kondom sebagai alat kontrasepsi menjadi penting dilakukan secara konsisten dan tidak terpisah dari kegiatan KIA dalam pendidikan kesehatan reproduksi. Hasil Penelitian LKB di Kota Yogyakarta dan Semarang yang dilakukan oleh PKMK FK UGM (2015) menunjukkan bahwa elemen pendistribusian kondom tidak terdapat data yang cukup memberikan gambaran sebagai bagian dari upaya layanan pencegahan yang dilakukan oleh petugas layanan kesehatan di tingkat primer. Dengan kecenderungan meningkatnya jumlah infeksi baru pada kelompok ibu rumah tangga dan remaja upaya promosi dan prevensi pemanfaatan kondom sebagai alat pencegahan penyakit menjadi relevan dan perlu secara integral menjadi bagian dari upaya promkes yang dilakukan oleh petugas layanan kesehatan primer bekerjasama dengan kader-kader kesehatan dan PL KB di tingkat desa. Dengan konsistensi promosi pemanfaatan kondom sebagai alat pencegahan penyakit IMS/HIV dan AIDS pada remaja dan ibu-ibu resiko rendah dalam kerangka pendekatan siklus kesehatan maka pencegahan terhadap penularan infeksi baru pada kelompok heteroseksual bisa ditekan. Sebuah analisis yang dilakukan oleh Bracher et al,(2004) tentang potensi pencegahan HIV dengan penggunaan kondom menunjukkan bahwa 42 % resiko tertular HIV pada kelompok yang tidak menggunakan kondom dan 8 % resiko tertular HIV yang melakukan hubungan seks dengan pasangan tidak menikah[2]. Hasil yang cukup efektif juga ditunjukan dari pengalaman di Merauke dimana prevalensi IMS mengalami penurunan dari   6%  pada 2007 menjadi kurang dari 3 % pada 2015 sebagai dampak dari kebijakan pemberlakuan kondom 100 % baik untuk kelompok berisiko tinggi maupun kelompok berisiko rendah.

Penguatan pemanfaatan kondom sebagai alat kesehatan dalam upaya pencegahan HIV dan AIDS mempunyai potensi untuk pengembangan lebih kuat untuk implementasi lebih lanjut melalui pengintegrasian layanan KIA dan Keluarga berencana melalui program PPIA dan penguatan layanan promosi kesehatan dalam kerangka siklus hidup kesehatan Ibu dan remaja melalui petugas layanan kesehatan dasar di tingkat puskesmas dan Kampung.  Dengan pendekatan yang komprehensif melalui siklus hidup kesehatan perempuan pada Perempuan dan remaja telah terbukti efektif untuk pengurangan prevalensi HIV dan IMS. Meski menghadapi tantangan cukup besar keberhasilan untuk mendorong optimalisasi penggunaan kondom sebagai alat kesehatan untuk pencegahan HIV ditentukan oleh komitmen dan keberanian dari pemerintah melalui SKPD terkait dalam melaksanakan kebijakan yang sudah ada secara konsisten dengan peningkatan kapasitas petugas sesuai dengan Pendoman Pelaksanaan KIE untuk kesehatan reproduksi yang perlu dilaksanakan secara integratif.  Pengembangan pendekatan struktural alternatif seperti di Merauke yang membentuk sub pelaksana tugas teknis yang berafiliasi pada Dinas Kesehatan setempat dapat menjadi setrategi yang bisa dikembangkan untuk menerobos stagnasi pendekatan yang fokus pada fungsi kuratif dan penekanan fungsi kontrasepsi pada pemanfaatan kondom. Sehingga kondom melalui pendekatan siklus hidup dan struktural dapat dioptimalkan untuk pencegahan penularan HIV dan peningkatan kesehatan Ibu remaja di tingkat  pada layanan  kesehatan primer.

Referensi:

Depkes RI, (2008).  Pedoman Pelaksanaan Kegiatan KIE Kesehatan Reproduksi untuk Petugas di Tingkat Pelayanan Dasar.

Ditjen P2PL, Kemenkes RI  (2016). Laporan Perkembangan HIV-AIDS Triwulan IV Tahun 2015.

KPAN (2015), Strategi Rencana Aksi Nasional Penangulangan HIV dan AIDS.

Kemenkes RI,  Laporan STBP 2007.

PKMK FK UGM (2015).   Penelitian Operasional Layakan Komprehensif Berkelanjutan di Yogyakarta dan Semarang.

Kemenkes RI, (20013). Rencana Aksi Nasional Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) 2013-2017

Drg. Daryanto Chadori, M.Kes, Presentasi Situasi Epidemi: HIV dan AIDS Kebijakan dan Upaya Penanggulangan, Dinas Kesehatan DIY, Maret 2016.

Roxby et al. A Lifecycle Approach to HIV Prevention in African Women and Children. Curr HIV/AIDS Rep. 2014 June ; 11(2): 119–127. doi:10.1007/s11904-014-0203-2.


[1] Diskusi Delphi pengembangan model PMTS di Medan, 6-7 April 2016
[2] Bracher et al., Assessing the potential of condom use to prevent the spread of HIV: a microsimulation study. Studies in Family Planning, 2004. Volume: : 35, Issue: 1, Pages: 48-64
0
0
0
s2smodern