Oleh: Ita Perwira

Ilustrasi | FreedigitalphotosBeberapa minggu terakhir Indonesia kembali dikagetkan dengan kejadian pemerkosaan dan pembunuhan terhadap seorang anak perempuan yang masih duduk di bangku SMP yang dilakukan oleh 14 orang pemuda yang juga masih berusia muda yaitu sekitar usia belasan tahun sampai dengan awal 20an. Berbagai pertanyaan dan asumsi muncul bagaimana hal seperti ini bisa terjadi? Terutama dilakukan oleh laki-laki pada usia yang dianggap masih sangat belia terhadap perempuan juga pada usia yang sangat muda.

Sesungguhnya bila kita kaji kembali permasalahan kekerasan yang terjadi pada perempuan, kejadian diatas hanyalah contoh dari sekian banyak kasus yang tidak terungkan di media. Mungkin tidak banyak yang menyadari atau mungkin enggan untuk tahu bahwa banyak kasus kekerasan pada perempuan lainnya yang terjadi disekitar kita atau pada orang-orang terdekat kita. Catatan tahunan Komnas Perempuan[1] ada sekitar 321,752 kasus kekerasan terhadap perempuan dimana 305,535 bersumber dari data kasus yang ditangani oleh Pengadilan agama dan 16,217 dicatat dari lembaga layanan mitra Komnas Perempuan.

0
0
0
s2smodern
Oleh: Satiti Retno Pudjiati

Ilustrasi | Benjamin Jones/felixonline.coKepatuhan atau aderen terhadap terapi antiretroviral ( ART ) adalah kunci keberhasilan pengobatan infeksi HIV, karena ART berkelanjutan mampu menekan HIV hingga tak terdeteksi, mengurangi risiko resistensi obat, meningkatkan kualitas dan kelangsungan hidup, meningkatkan kesehatan secara keseluruhanserta mengurangi risiko penularan HIV. Sebaliknya, ketidakpatuhan terhadap pengobatan merupakan penyebab utama kegagalan terapi .

Mencapai kepatuhan terhadap ARTadalah penentu penting dari hasil jangka panjang pada pasien yang terinfeksi HIV.Untuk beberapa penyakit kronis, sepertidiabetes atau hipertensi , regimen obat tetap efektif meskipun pengobatan sempat dihentikan dan dilanjutkan kembali; namun dalam kasus infeksi HIV , ketidakpatuhan terhadap ART dapat menyebabkan kehilangan kontrol virologi, munculnya resistensi obat dan kehilangan pilihan pengobatan lanjutan dan memerlukan biaya yang tidak sedikit karena keterbatasan ARV lini kedua dan ketiga.

0
0
0
s2smodern
Oleh: Hersumpana

Ilustrasi|shutterstockPemanfaatan kondom sebagai alat kesehatan yang efektif untuk mencegah penularan HIV dan IMS menghadapi tantangan kompleks. Kebijakan pemanfaatan kondom sebagai alat pencegahan belum berjalan secara optimal. Korelasinya dengan situasi perkembangan HIV menunjukkan persentase faktor risiko tertinggi adalah  kasus AIDS yang dilaporkan hingga akhir 2015 yaitu 80,3 % heteroseksual, 8% homoseksual (LSL), 4,1 % Ibu positif HIV ke anaknya, dan 3% Penasun (Ditjen P2PL, 2015). Tingginya   persentase kasus AIDS dari faktor resiko kelompok heteroseksual mencerminkan tidak efektifnya pemanfaatan fungsi kondom sebagai alat pencegahan AIDS. Ada kecenderungan terjadi peningkatan penularan HIV pada kelompok resiko rendah menurut hasil estimasi nasional 2015-2030 (KPAN, 2015). Di Yogyakarta, dilaporkan  kecenderungan peningkatan infeksi HIV pada ibu rumah tangga 12,7 % dan siswa/mahasiswa 6,8 % (Dinkes DIY, 2015). 

0
0
0
s2smodern
Oleh :Swasti Sempulur

ilustrasi | www.coe.intPada sebuah acara serial diskusi kultural, seorang ibu menceritakan pengalaman menghadapi anak penyandang disabilitas tuna rungu dan wicara saat mengalami pubertas. Sama halnya dengan pengalaman remaja laki-laki pada umumnya yang mengalami perkembangan organ reproduksi dan seksual berupa mimpi basah, anak tersebut menganggap bahwa dia “ngompol” di saat-saat tidurya. Ibu tersebut mengisahkan bagaiamana dengan pengetahuan yang dimiliki seorang ibu untuk menyampaikan perkembangan seksualitas remaja pada anak dengan keterbatasan khusus. Kisah yang sama juga disampaikan seorang bapak yang memiliki kiat khusus untuk menghentikan emosi anak remajanya dengan disabilitas. Masih banyak cerita suka dan duka bagaimana orang tua menghadapi problematika seksualitas anak dengan disabilitas. 

0
0
0
s2smodern
Disampaikan pada kuliah umum, Koentjaraningrat Memorial Lectures XII/2015, Forum Kajian Antropologi Indonesia (FKAI), Jakarta 15 Oktober 2015
Oleh: Ignatius Praptoraharjo[1]

Abstrak

IlustrasiKetergantungan narkoba selama ini dilihat hanya merupakan sebuah episode dalam kehidupan seseorang sehingga harapan masyarakat bahwa seseorang yang telah melakukan perawatan ketergantungan narkoba juga merupakan satu episode lain yang harus dilakukan agar orang bisa kembali ‘sehat’. Namun kenyataan dalam komunitas medis dan ilmiah semakin membuktikan bahwa ketergantungan narkoba merupakan sebuah ‘penyakit kronis’ yang membutuhkan perawatan jangka panjang. Dalam artikel ini digambarkan tentang pola dinamis dari penggunaan narkoba yang mencakup awal penggunaan, penggunaan secara teratur, berhenti, menggunakan kembali termasuk pengalaman perawatan dan keterpaparannya terhadap penegakan hukum. Kebijakan tentang perawatan narkoba hendaknya mampu mengakomodasi pola dinamis ini jika mengharapkan sebuah kebijakan yang efektif. Jika tidak, maka kebijakan ini hanya akan merefleksikan kepentingan dominan (penegakan hukum, harapan masyarakat, kepentingan program) dengan mengabaikan pengalaman bagi mereka yang hidup dalam dan mengalami ketergantungan narkoba.

0
0
0
s2smodern
Penelitian

Knowledge Hub

Alert System

Peroleh informasi terbaru dari website ini, silahkan daftar ke alert system di bawah ini.

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID