Oleh: M. Suharni

BigFive Images via Getty Images | huffingtonpost.caUpaya penanggulangan HIV dan AIDS adalah program vertikal yang perencanaan dan penganggaran  ditetapkan  dari pemerintah pusat. Sejalan dengan perubahan sistem pemerintahan di Indonesia dari sentralisasi ke desentaraliasi berpengaruh pada urusan kesehatan yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah termasuk upaya penanggulangan HIV dan AIDS. Di era desentralisasi, kepala daerah sebagai penanggung jawab pemerintahan tertinggi di wilayah mempunyai wewenang untuk menentukan apakah upaya penanggulangan HIV dan AIDS layak menjadi salah satu agenda prioritas di daerahnya. Tulisan ini menjelaskan bagaimana kerangka kerja yang diusulkan oleh Shiffman, J. dan Smith, S. (2007) untuk menilai upaya penanggulangan HIV dan AIDS menjadi prioritas politik para kepala daerah dan bagaimana situasi di Indonesia dilihat dari kacamata kerangka tersebut.

0
0
0
s2smodern
Oleh: Ita Perwira

IlustrasiTanggal 1 Maret 2016 kemarin diperingati sebagai hari tanpa diskriminasi sedunia (zero-discrimination day). Adalah menjadi hak setiap orang untuk mendapatkan kehidupan yang bebas dari stigma dan diskriminasi. Namun sampai saat ini, termasuk di Indonesia, stigma dan diskriminasi yang terjadi di layanan kesehatan masih cukup tinggi. Hal ini terlihat salah satunya pada pelayanan HIV dan AIDS termasuk layanan lainnya yang terkait, seperti layanan IMS. Adanya stigma dan diskriminasi di layanan kesehatan ini secara umum menjadi hambatan yang cukup besar dalam pencapaian target cakupan kesehatan secara menyeluruh (universal health coverage). Selain itu, secara khusus beberapa hasil penelitian juga menunjukkan bahwa stigma dan diskriminasi ini juga menghambat penanggulangan epidemi HIV dan AIDS, karena diskriminasi yang ada menghambat kelompok tertentu seperti populasi yang terpinggirkan (marginalized population) dan populasi kunci untuk mengakses layanan kesehatan (Nyblande, et al. 2009; Feyissa, et al. 2012).

0
0
0
s2smodern
Oleh: Hersumpana, Ig.

Ilustrasi | womenshealthency.comIsu kekerasan terhadap perempuan merupakan masalah penting yang membutuhkan perhatian serius, terutama kasus kekerasan terhadap perempuan dengan HIV dan AIDS. Sebuah survei pendokumentasian kekerasan pada perempuan dengan HIV Positif yang dilakukan oleh Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) memberikan gambaran penting mengenai tingkat kerentanan perempuan positif HIV terhadap berbagai kekerasan yang dialami. Risiko kekerasan yang kompleks dialami meliputi kekerasan fisik, kekerasan seksual, kekerasan psikis, kekerasan ekonomi, diskriminasi karena status HIV dan kasus sterilisasi/aborsi paksa[1]. Tulisan ini menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kompleksitas kekerasan terhadap perempuan positif HIV yang masih mengalami pengabaian hak-haknya untuk mendapatkan perlindungan baik secara hukum, sosial dan kultural.

0
0
0
s2smodern
Oleh : Swasti Sempulur

Ilustrasi | chinadailyKementerian Kesehatan melalui Laporan Situasi Perkembangan HIV dan AIDS Tahun 2015, menyebutkan bahwa secara kumulatif jumlah kasus AIDS pada kelompok usia 5 – 24 tahun sebanyak 3,913 orang[1], jumlah ini masih relative kecil dibandingkan dengan pada kelompok usia yang lain. Data ini menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan kasus HIV dan AIDS pada populasi anak dan remaja, meski tidak ada informasi secara detail sebaran kasus pada kelompok tesebut. Terdapat peningkatan kasus yang cukup signifikan pada tahun tahun 2013, dimana terdapat kenaikan sebesar lebih dari 51 %. Setidaknya dari data tersebut dapat memberikan gambaran bahwa ada kecenderungan adanya perilaku beresiko yang terjadi pada usia muda, dan serta jumlah anak yang terinfeksi HIV dari ibunya.

0
0
0
s2smodern
Oleh: Satiti Retno Pudjiati

Masalah HIV AIDS di Indonesia adalah salah satu masalah kesehatan nasional yang memerlukan penanganan bersama secara komprehensif. Sejak 10 tahun terakhir, jumlah kasus AIDS di Indonesia mengalami lonjakan yang bermakna. Hal ini menuntut perhatian semua pihak, terutama para tenaga kesehatan yang memberikan layanan kesehatan bagi pasien HIV AIDS. Salah satu bentuk layanan tersebut adalah konseling dan tes HIV yang bertujuan tidak hanya untuk menegakkan diagnosis namun juga memberikan konseling untuk mendapatkan terapi dan menangani berbagai masalah yang dihadapi oleh pasien.

0
0
0
s2smodern
Penelitian

Knowledge Hub

Alert System

Peroleh informasi terbaru dari website ini, silahkan daftar ke alert system di bawah ini.

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID