Oleh: Eviana Hapsari Dewi

Logic ModelBeberapa pendekatan inovatif dalam upaya pencegahan HIV dan AIDS perlu untuk dilakukan seperti yang dinyatakan dalam salah satu dokumen Best Practice dari UNAIDS, bahwa jika hanya memberikan informasi kepada masyarakat umum mengenai bagaimana cara untuk melindungi dan melawan infeksi HIV, telah terbukti tidak cukup. Masyarakat perlu adanya lingkungan yang mendukung untuk mengurangi kerentanannya dan memungkinkan mereka untuk melakukan perubahan perilaku berdasarkan pengetahuan yang telah mereka peroleh. Dengan demikian, akan mampu menciptakan suatu kondisi masyarakat yang menjadikan isu HIV dan AIDS sebagai kepedulian bersama. Pengalaman global menunjukkan bahwa elemen-elemen penting untuk pencegahan HIV yang efektif adalah 1) peningkatan kesadaran untuk memberikan informasi dan melawan reaksi negatif di dalam populasi umum; 2) aksi-aksi persuasif yang berfokus untuk memenuhi kebutuhan yang khusus bagi kelompok rentan dan masyarakat; 3) kemitraan multi sektor dan multi level untuk memberikan program dan layanan lintas isu; 4) pelibatan masyarakat dalam pengembangan program dan intervensi, dan membangun kemauan dari kelompok atau individu untuk berkontribusi dalam upaya pencegahan di level nasional; 5) integrasi antara pencegahan dan perawatan untuk mengurangi biaya dan menurunkan tingkat stigma dan diskriminasi; 6) aksi untuk membangun resistensi masyarakat terkait penularan HIV dan mengurangi kerentanan yang sistematik pada sebagian individu, kelompok dan masyarakat.[1]

0
0
0
s2smodern
Oleh. Ita Perwira

Ilustrasi | www.npr.orgWaktu adalah penting bagi orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) untuk memperoleh perawatan sedini mungkin. Idealnya semua orang yang melakukan tes dan didapatkan hasilnya positif dapat sesegera mungkin memperoleh akses layanan kesehatan (termasuk ARV) untuk mencegah terjadinya penularan HIV lebih lanjut1. Namun kenyataan yang terjadi tidak sesederhana itu. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi dan menyebabkan akses layanan kesehatan untuk ODHA tertunda atau bahkan terlambat. Beberapa faktor yang mempengaruhi inisiasi ARV yang banyak ditemukan antara lain: faktor individu yang meliputi situasi demografi sampai dengan kondisi klinis; faktor sosio ekonomi yang berkaitan dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan layanan ARV; faktor layanan kesehatan yang tersedia, mulai dari segi adminitrasasi, kemampuan teknis atau kualitas layanan; juga faktor jaringan social dan budaya yang ada di lingkungan ODHA sangat berperan penting dalam proses inisiasi ARV2,3,4.

0
0
0
s2smodern
Oleh : Chrysant Lily

Ilustrasi | ReutersPada bulan Juli 2015, WHO mengeluarkan sebuah pedoman global yang baru untuk layanan tes HIV. Pedoman ini kembali menegaskan bahwa Provider Initiated Testing and Counseling (PITC) merupakan salah satu strategi penting dalam meningkatkan cakupan layanan tes HIV dan menghubungkan klien ke layanan lanjutan. PITC juga dikenal sebagai ‘tes rutin’ atau ‘tes konseling HIV terintegrasi di sarana kesehatan’ dimana berbeda dengan pendekatan tes HIV yang diprakarsai oleh klien, dalam PITC tes HIV ditawarkan oleh petugas di fasilitas layanan kesehatan secara rutin. Dengan pendekatan ini hambatan-hambatan yang ada dalam tes HIV yang diprakarsai oleh klien bisa diperkecil, antara lain karena klien bisa mendapatkan tes HIV sambil mengakses layanan kesehatan lainnya serta tes HIV bisa dilaksanakan tanpa harus bergantung pada motivasi klien untuk mencari tes HIV. Tes HIV bisa lebih dikondisikan sebagai sesuatu yang normal dan sifatnya rutin, sehingga diagnosa lebih dini bisa didapatkan oleh mereka yang mengakses layanan di fasilitas kesehatan.  

0
0
0
s2smodern
Oleh: M.Suharni

Ilustrasi | homes4health.comAda kesenjangan antara produk regulasi penanggulangan AIDS dengan implementasinya di lapangan. Secara normatif  upaya penanggulangan AIDS di Indonesia sudah memiliki banyak kebijakan baik di tingkat pusat maupun di daerah,  menurut KPAN terdapat sekitar 247  kebijakan sampai dengan tahun 2014. Akan tetapi keberadaan Kebijakan AIDS belum mampu menurunkan epidemi AIDS, Indonesia merupakan penyumbang 23 % infeksi baru di Asia Pasifik, hanya kalah dari India yang menyumbang 38 % seperti dilansir oleh laporan UNAIDS[1]Tulisan ini  menawarkan bagaimana langkah yang harus dilakukan oleh para pemangku kepentingan kunci agar  regulasi yang ada dapat lebih efektif dilaksanakan untuk mencegah peningkatan epidemi AIDS.

0
0
0
s2smodern
Oleh: Hersumpana Ign

Ilustrasi | seattlechurch.orgPembiayaan yang berkelanjutan bagi sektor komunitas dalam penanggulangan AIDS perlu pemikiran yang komprehensif  dan perencanaan strategis.  Peran sektor komunitas dipandang memiliki kontribusi penting dalam penanggulangan AIDS karena kapasitasnya dalam melakukan layanan yang lebih fleksibel berbasiskan nilai-nilai solidaritas yang menjangkau kelompok-kelompok terpinggirkan oleh stigma sosial dan diskriminasi, akan tetapi pembiayaan sektor komunitas selama ini masih menggantungkan sepenuhnya pada dukungan dari Mitra Pembangunan Internasional (MPI) seperti hasil temuan penelitian Sektor Komunitas  PKMK UGM (2015)[1]. Pemberdayaan sektor komunitas menjadi salah satu prioritas dalam SRAN 2015-2019[2] dalam penanggulangan AIDS yang komprehensif dan berkelanjutan.  Tulisan ini mencoba menggali gagasan kemungkinan potensi pembiayaan yang bersumber dari pendanaan lokal yang berkelanjutan untuk sektor komunitas. 

0
0
0
s2smodern
Penelitian

Knowledge Hub

Alert System

Peroleh informasi terbaru dari website ini, silahkan daftar ke alert system di bawah ini.

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID