Oleh: Chrysant Lily Kusumowardoyo

Ilustrasi | bookmasters.comPendidikan sudah lama diakui sebagai salah satu jalan untuk mencegah penyebaran HIV dan AIDS, sehingga sering disebut sebagai ‘vaksin sosial’ dalam respon HIV. Lewat pendidikan, masyarakat bisa memiliki pengetahuan tentang bagaimana mencegah dan melindungi diri dari infeksi HIV. Pengajaran tentang isu HIV lewat sekolah- sekolah juga memungkinkan penjangkauan dalam skala besar kepada populasi umum yaitu para siswa dan kaum muda, yang di Indonesia merupakan kelompok usia yang paling beresiko. Pendidikan berbasis sekolah juga sangat potensial sebab ia memungkinkan siswa, guru, orang tua, dan masyarakat untuk terlibat bersama-sama dalam pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS. Ini menjadi penting sebab HIV dan AIDS sudah bukan sekedar merupakan masalah kesehatan saja, tetapi sudah menjadi masalah multi-dimensi yang membutuhkan penanganan yang melibatkan semua anggota masyarakat.

0
0
0
s2smodern
Oleh : Hersumpana[1].

Ilustrasi | afritorial.comPengetahuan Komprehensif AIDS merupakan indikator penting dalam upaya penaggulangan AIDS yang berguna untuk pengembangan kebijakan dan program yang tepat. Pengetahuan dalam tulisan ini dipahami sebagai sebuah informasi komprehensif terkait dengan pemahaman HIV/AIDS berdasarkan 5 pertanyaan kunci yang selama ini menjadi pertanyaan standard survey terpadu biologis dan perilaku[2]. Selama ini, pengetahuan tentang AIDS diperoleh melalui pendidikan yang dikembangkan oleh Kemenkes melalui dinas kesehatan dan nakes maupun pendidikan yang dilakukan oleh berbagai kelompok swadaya masyarakat, kelompok penjangkau, kader kesehatan dan Kelompok dukungan sebaya. Sasaran program pendidikan AIDS masih fokus pada kelompok populasi kunci atau kelompok resiko tinggi seperti WPS, Waria, LSL, HRM (high risk man). Banyak program dikembangkan fokus pada kelompok populasi kunci. Jika mencermati data pengetahuan komprehensif dari data IBBS pada kelompok berisiko dari kita mendapatkan gambaran bahwa tingkat pengetahuan yang dimiliki ternyata tidak berbanding lurus dengan perilaku. Seperti data IBBS tahun 2013 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan kelompok populasi kunci pada penasun dan kelompok LSL cukup tinggi mencapai 41 % 2013 dibanding tahun 2009. Namun demikian prevalensi AIDS-nya tidak banyak mengalami perubahan bahkan semakin meningkat. Pertanyaannya bagaimana pendidikan untuk masyarakat umum yang selama ini terabaikan?

0
0
0
s2smodern
Oleh:  Hersumpana

Ilustrasi | GoogleKesenjangan Geografis di daerah terpencil, sangat terpencil di Indonesia dengan daerah yang lebih maju di Jawa khususnya semakin lebar. Data yang disampaikan oleh  Kementerian Desa, Pembangunan daerah Tertinggal (PDT) dan Transmigrasi menegaskan disparitas ketersediaan layanan kesehatan dasar dan sumber daya kesehatan  di daerah tertinggal pada 2012 yakni dari 2.652 total jumlah kecamatan terdapat 303 kecamatan yang tidak memiliki Puskesmas, di level desa kesenjangan lebih besar lagi jumlah desa yang memiliki poskesdes terdapat 7.303 dari 29.273 desa, terdapat 11.910 desa yang tidak memiliki poskesdes. Ketersediaan dokter puskesmas 5.481 jika mengacu standar 2.500 orang per 1 dokter, kekurangan dokter puskesmas adalah 2.448 dokter dan jumlah bidan desa yang ada adalah 30.340 dengan standar 1 bidan per desa, kekurangannya 1.897 bidan[1]

0
0
0
s2smodern
Oleh: Chrysant Lily Kusumowardoyo dan M. Suharni

Ilustrasi | suluhbali.co121214 atau tanggal 12 Desember tahun 2014 ini menandai pertama kali dirayakannya Universal Health Coverage (UHC) Day atau Hari Cakupan Kesehatan Semesta[1]. Tanggal ini dipilih untuk memperingati resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada dua tahun sebelumnya, dimana semua negara anggota PBB mengakui UHC sebagai salah satu pilar penting dari pembangunan yang berkelanjutan[2].  Turut memperingati hari ini, PKMK FK UGM mengadakan seminar untuk menghasilkan masukan bagi pengembangan kebijakan kesehatan, khususnya terkait Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang merupakan kendaraan yang dipakai guna mencapai cakupan layanan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia. 

0
0
0
s2smodern
Oleh: Hersumpana

Pada 2013, terpapar hampir 60 % dari semua infeksi baru diantara orang muda usia 15-24 tahun muncul diantara gadis remaja dan perempuan muda. Fakta yang diungkap UNAIDS ini merupakan suatu tantangan baru dan pola perubahan epidemi global selain penularan pada kelompok paling rentan yakni kelompok gay yang 19 kali kemungkinannya lebih besar tertular dibanding populasi umum dan kelompok transgender perempuan yang 49 kali lebih besar tertular HIV dari semua kelompok usia reproduktif[1]. Data status AIDS di Tingkat Asia Pasifik selama sepuluh tahun dari 1990 – 2011, orang yang hidup dengan HIV (OHIDHA) (15+) estimasinya 370.000, sementara perempuan dengan HIV (15 +) estimasinya 110.000[2]. Data laporan Triwulan II Kemenkes RI 2013, menunjukkan bahwa persentase AIDS tertinggi pada kelompok Usia 30 -39 tahun (33,8 %) kemudian diikuti oleh kelompok umur 20 -29 tahun (28,8 %), sementara data dari KPA Nasional hingga Juni 2013 menunjukkan ada 1.996 kasus infeksi HIV baru pada usia 15-24 tahun[3].  Meski data penularan terbesar masih terjadi pada kelompok populasi kunci terutama  kelompok MSM dan PWID akan tetapi kecenderungan pergeseran penularan pada kelompok risti terutama pelanggan seks, ibu rumah tangga dan anak semakin mengkhawatirkan.

0
0
0
s2smodern
Penelitian

Knowledge Hub

Alert System

Peroleh informasi terbaru dari website ini, silahkan daftar ke alert system di bawah ini.

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID