I.Y. Adeoye[1], K. Ogungbemi[1], A. Adaoha[1], A. Adedayo[2]

Background: Out-of-pocket expenditure on HIV/AIDS services and goods is a component in national HIV/AIDS accounts that is most difficult to measure. Despite the increasing need for national data on out-of-pocketexpenditure (OOP) on HIV/AIDS, only few countries have data on it. Interestingly, healthcare financing in Nigeria is largely from out-of-pocket payments. Although HIV-related treatment is free; there are out-of pocket expenditures that people with HIV incur to maintain their health. Out-of-pocket expenditure(OOP) on health is defined as direct and indirect expenses incurred by an individual/household to maintain their health.

Methods: This assessment was undertaken in 26 health facilities and among 485 people living with HIV/AIDS in five Nigerian states using a cross-sectional study design by providing a retrospective account of household spending on HIV services.

0
0
0
s2smodern
Oleh:  Amy Nunn, Alexandra Cornwall, Jeannia Fu,Lauri Bazerman, Helen Loewenthal, and Curt Beckwith

Abstrak

Sekitar 17% dari orang-orang yang hidup dengan HIV/AIDS  berada di  Lembaga Pemasyarakatan setiap tahun. Penjara memberikan kesempatan unik untuk mendiagnosa dan mengobati infeksi HIV di antara populasi yang berisiko tinggi,  populasi sementara yang memiliki akses terbatas untuk pelayanan medis. Pada tahun 2007,  sumber daya Kesehatan  dan layanan administrasi  Amerika  mendanai  proyek demonstrasi multi lokasi berjudul” meningkatkan hubungan ke perawatan primer HIV dalam pengaturan penjara yang bertujuan untuk meningkatkan layanan diagnosis dan pengobatan untuk tahanan penjara HIV-positif dan menghubungkan ke  perawatan medis berbasis komunitas dan pelayanan sosial berdasarkan penghuni yang sudah bebas. Kami melakukan evaluasi demontrasi situs di Pulau Rhode berjudul kemitraan masyarakat dan layanan dukungan untuk orang yang terinfeksi HIV yang  meninggalkan penjara (COMPASS). Melalui wawancara kualitatif mendalam sebanyak 20 peserta HIV-positif COMPASS di Pulau Rhode, kami menilai  bagaimana COMPASS mempengaruhi akses ke perawatan kesehatan dan pemanfaatan pelayanan sosial. Kebanyakan individu yang menerima pengobatan HIV dan layanan perawatan berdasarkan pendaftaran, tetapi COMPASS meningkatkan hubungan perawatan medis dan tindak lanjut kunjungan untuk HIV dan faktor kerentanan  lain bersama untuk sebagian besar peserta.

0
0
0
s2smodern
Yukari C Manabe  et al.

Abstrak

Background : Infeksi Sipilis Selama Kehamilan yang menyebabkan kerawanan dan kematian yang tidak terhindarkan dan tetap merupakan suatu masalah penting di Benua Afrika. Meskipun inisiatif global untuk meningkatkan  proporsi perempuan hami yang diskrining, pelaksanaannya masih lambat. Kam menggali fisibilitas  dengan menambahkan skrining sipilis  yang terintegrasi dalam Klinik HIV Ibu Hamil.

Metode: Perempuan hamil yang mendatangi Klinik perinatal HIV untuk melakukan pemeriksaan dan partisipan yang sepakat menjawab sebuah kuesioner tentang perilaku seks dan kehamilan sebelumnya, menyediakan data sosial demografis dan dites menggunakan reagen sipilis (RPR). Jika positif, partisipan diobati dengan penisilin benzathine.  Semua partisipan diberikan sebuah slip permberitahuan kepada pasangan dan ditindaklanjuti setelah pelayanan untuk menentukan hasil kelahiran.

0
0
0
s2smodern
Oleh : J M Garcı´a-Calleja, E Gouws, P D Ghys.

IlustrasiSurvey sentinel pada wanita hamil yang datang di poli ANC merupakan sumber utama informasi untuk melihat trend HIV di Sub Sahara Afrika.  Para peneliti melakukan kajian laporan dari 20 survey kependudukan tingkat nasional dari 19 negara di Sub Sahara Afrika sejak tahun 2001. Mereka melakukan kajian tentang metodologi sampling, test HIV, dan rata-rata tingkat respon serta rasio prevalensi laki-laki dan perempuan dan rasio prevalensi desa kota.

Hasil kajian menunjukkan bahwa survey berbasis kependudukan nasional bervariasi di dalam kualitas, seperti terefleksi pada tingkat respon di keluarga antara 75.4% - 99.7%. Tingkat test pada perempuan antara 68.2%-97.3%. Tingkat rata-rata test pada laki-laki sebesar 62.2%-95.4%.

0
0
0
s2smodern
Campbell and Cornish, 2010, AIDS Care, vol. 22 no. supplement 2, pp. 1569-79.

Ilustrasi | Kebijakan AIDS IndonesiaSudah ada sekian banyak program pencegahan, perawatan, dukungan dan pengobatan HIV dan AIDS yang hasilnya mengecewakan akibat kurangnya mobilisasi komunitas yang efektif. Tetapi mobilisasi komunitas memang tidak mudah untuk diwujudkan. Oleh karena itu, tulisan ini menyajikan kerangka konseptual yang memetakan dimensi-dimensi konteks sosial yang berpotensi mendukung atau menghambat upaya mobilisasi komunitas – yaitu dimensi material, simbolis dan relasional. Tulisan ini dimulai dengan penjelasan mengapa mobilisasi komunitas dianggap sebagai bagian penting dalam pengelolaan program HIV dan AIDS yang efektif: yaitu karena mobilisasi komunitas meningkatkan cakupan dan keberlanjutan program, membantu mengisi kebutuhan perawatan di tengah-tengah terbatasnya sumber daya tenaga kesehatan, dan yang terpenting memfasilitasi proses kemandirian yang merupakan syarat penting bagi efektifnya upaya pencegahan, perawatan, dukungan dan pegobatan. Selanjutnya tulisan ini memetakan tiga generasi pendekatan terhadap program perubahan perilaku dalam lingkup HIV dan AIDS: kesadaran individu tentang HIV, pendidikan sebaya dan mobilisasi komunitas.

0
0
0
s2smodern
Penelitian

Knowledge Hub

Alert System

Peroleh informasi terbaru dari website ini, silahkan daftar ke alert system di bawah ini.

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID