Oleh: Hersumpana Ig.

Peristiwa kekerasan seksual terhadap perempuan (anak) yang dilakukan secara kolektif oleh laki-laki usia remaja  atas perempuan sebaya atau usia dibawah umur yang menyeruak ke publik kurun waktu terakhir memicu kemarahan dan keprihatinan banyak pihak[1]. Ditengah perdebatan pro dan kontra untuk memberikan hukuman kepada pelaku kekerasan seksual dengan sanksi yang berat, ada  usulan menghilangkan kemampuan pro-kreasinya dengan melakukan pengebirian diajukan sebagai bentuk hukuman dalam rancangan Peraturan Pengganti Undang-Undang (PERPU) tentang perlindungan anak dan perempuan dari kekerasan seksual.  Satu sisi kebijakan perlindungan terhadap anak dan perempuan dari serangan seksual secara kolektif tentu semua sepakat sebagai bentuk  upaya penertiban sosial dengan pemberian hukuman (punishment). Akan tetapi, sisi lain wacana sanksi pengebirian  tentu perlu pemikiran yang matang, karena menyangkut hak paling asasi dari pelaku untuk pro-kreasi. Sementara tujuan dari pemberian sanksi atau hukuman semestinya adalah untuk membangun kesadaran pelaku. Permasalahan yang patut dikritisi lebih lanjut adalah apakah dengan kebijakan penghukuman yang keras merupakan solusi yang tepat dalam kasus ini? Apa yang perlu dilakukan untuk mengatasi kasus kekerasan seksual, karena perilaku ini berakar dari faktor kegagalan negara dan masyarakat sendiri dalam pendidikan moral dan kultural.  Disamping itu, perlu mengembangkan strategi dan perspektif baru untuk pencegahan kekerasan melalui pendidikan kesetaraan dan sensitifitas gender kepada kaum laki-laki yang tumbuh dalam kultur patriarki untuk memutus lingkaran kekerasan seksual terhadap perempuan.

0
0
0
s2smodern
Oleh : Ign.Praptoraharjo

Satu isu sangat strategis dalam Sustainable Development Goals (SDGs) yang secara langsung mencerminkan upaya untuk mewujudkan keadilan dan pemerataan kesejahteraan secara nasional adalah perlindungan sosial (Social Protection) yang tampak pada tujuan 1.3: Implement nationally appropriate social protection systems and measures for all, including floors, and by 2030 achieve substantial coverage of the poor and the vulnerable.Perlindungan sosial pada dasarnya adalah semua upaya yang diarahkan untuk menyediakan pendapatan atau konsumsi kepada kelompok miskin, melindungi kerentanan terhadap berbagai risiko yang berpengaruh terhadap kesejahteraannya, dan memperkuat status dan hak sosial dari kelompok yang termarginalisasi. Tujuan dari perlindungan sosial pada dasarnya adalah mengurangi kerentanan sosial dan ekonomi kelompok miskin dan termarginalisasi[1]. Di Indonesia, upaya untuk mewujudkan perlindungan sosial ini bisa dilihat dengan diberlakukannya UU no 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional yang bertujuan untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar hidup yang layak bagi masyarakat Indonesia melalui jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun dan jaminan kematian.

0
0
0
s2smodern
Oleh: Swasti Sempulur

IlustrasiKelompok dukungan sebaya atau peer support group merupakan sebuah kelompok yang bertujuan mensupport setiap anggota kelompok dalam kehidupan keseharian mereka. Dukungan sebaya meliputi orang yang menghadapi tantangan yang sama misalnyapasien dengan infeksi tertentu, komunitas tertentu.[1] Kelompok dukungan sebaya (KDS) sangat dikenal dalam konteks penanggulangan HIV/AIDS untuk memberikan support bagi orang yang terinfeksi HIV (ODHA) maupun keluarganya. Pertama kali seseorang mendapati dirinya terinfeksi HIV, memiliki beberapa persoalan, terkait dengan psikologis, kekhawatiran terhadap kesehatan, relasi dengan pasangan, ekonomi dan prasangka akan didapati perlakuan stigma dan diskriminasi, dll.  Dukungan moral yang dibutuhkan oleh orang yang terinfeksi HIV sangat diperlukan untuk mengatasi berbagai persoalan tersebut, sehingga mereka tetap dapat hidup sehat, dan produktif.  Dukungan tersebut salah satunya diperoleh melalui kelompok dukungan sebaya (KDS).

0
0
0
s2smodern
Oleh : Ita Perwira

"Kita tidak selalu bisa membangun masa depan untuk para pemuda, tetapi kita bisa membangun pemuda untuk masa depan" - Franklin D. Roosevelt

Ilustrasi | beritaintrik.comKita semua sadar bahwa masa depan kita berada di tangan para pemuda. Oleh karena itu sangat penting untuk melindungi mereka dari berbagai tantangan yang mengancam termasuk salah satunya permasalahan kesehatan. Terutama saat ini kelompok remaja mengalami peningkatan risiko terhadap HIV dan AIDS karena kondisi psikologis, lingkungan sosial dan struktural serta proses transisi yang mereka alami sebagai bagian dari perkembangan fase kehidupan mereka. Risiko ini semakin tinggi pada kelompok kunci remaja yaitu remaja yang juga LSL, transgender, penasun, dan pekerja seks. Hal ini ditunjukkan dengan semakin meningkatnya angka penularan HIV (saat ini 35% penularan HIV pada kelompok usia 15-24 tahun) dan juga kematian secara global pada kelompok remaja di tahun 2005-2012, padahal pada kelompok usia lain menunjukkan penurunan[1]. Gambaran penyebab kematian pada remaja secara global ditunjukkan secara jelas pada grafik dibawah. Di Indonesia sendiri, persentase infeksi HIV pada kelompok umur 15-24 tahun 2015 adalah sekitar 19.3%, sementara untuk persentase kumulatif kasus AIDS sampai dengan tahun 2015 kelompok usia muda usia 20-29 tahun adalah kelompok yang tertinggi yaitu 31.8%. Hal ini bila tidak segera menjadi perhatian kita maka angka ini akan terus meningkat. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menghentikan penyebaran HIV sesuai dengan target 90-90-90 yang telah dicanangkan dengan salah satu fokus pada kelompok remaja mengembangkan upaya penanggulangan yang lebih baik.

0
0
0
s2smodern
Oleh: M. Suharni

Ilustrasi | flaticon.comPengelolaan sediaan farmasi dan alat kesehatan   salah satu subsistem dalam sistem kesehatan nasional. Kegiatan ini sangat penting untuk  menunjang kinerja penyediaan layanan kesehatan di fasilitas kesehatan, seperti di rumah sakit, puskesmas dan klinik agar mampu memberikan layanan yang optimal  sesuai kebutuhan pasien. Kegiatan pengelolaan ini bertujuan antara lain agar ketersediaan barang, obat-obatan dan alat kesehatan yang diperlukan tersedia dalam jumlah dan waktu  yang tepat dengan kualitas yang memadai. 

Pengelolaan  perbekalan farmasi dan alat kesehatan juga bertujuan untuk pengamanan dalam artian agar persediaan tidak terganggu oleh kerusakan, pemborosan, penggunaan tanpa hak, pencurian dan penyusutan yang tidak wajar lainnya. Selain itu dari sisi pembiayaan pengelolaan perbekalan farmasi dan alat kesehatan bertujuan agar dalam operasionalisasinya ada efesiensi pembiayaaan.  Oleh karena itu, pengelolaan sediaan farmasi dan alat kesehatan dalam sistem kesehatan nasional mesti didukung oleh regulasi yang akuntabel dan operasional serta  sumber daya yang memadai.

0
0
0
s2smodern
Penelitian

Knowledge Hub

Alert System

Peroleh informasi terbaru dari website ini, silahkan daftar ke alert system di bawah ini.

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID