Oleh: Hersumpana Ignatius

Pola kebijakan pembiayaan penanggulangan HIV dan AIDS selama ini bersifat vertikal yang menggantungkan dari bantuan hibah dari donor internasional daripada menggali sumber-sumber pembiayaan dari dalam negeri. Kekawatiran keberlanjutan program penanggulangan HIV dan AIDS membayang di depan mata dengan rencana penghentian pembiayaan dari Global Fund pada 2016. Pertanyaannya sejauhmana kesiapan dari pemerintah Indonesia menggali sumber-sumber pembiayaan alternatif dari lokal yang dapat menjamin keberlangsungan intervensi program yang sudah dikembangkan selama ini ? sejauhmana integrasi kebijakan pembiayaan penanggulangan HIV dan AIDS dalam JKN?

0
0
0
s2smodern
Oleh: Muhammad Suharni

Trend prevalensi HIV dikalangan LSL terus miningkat, data Survei Terpadu Biologi dan Prilaku (STBP) tahun 2007 (5, 3 %), 2009 (7,0%), 2009 (12,4%) dan 2013 (12,8 %)[1]. Selain LSL, kelompok yang prepavensinya meningkat adalah Pengguna Napza Suntik. Sedangkan kelompok resiko tinggi lainnya menunjukkan prevalensi HIV menurun. Jika dilihat prevalensi HIV pada LSL berdasarkan kota maka peningkatan tertinggi terjadi pada LSL Yogyakarta dari 7 % tahun 2009 meningkat menjadi 20,3 %. Dari empat kota yang dijadikan wilayah STBP maka penurunan hanya terjadi pada kota Makassar dari 3,O % menurun menjadi 1,6 %. Dilihat dari pengetahuan komprehensif tentang HIV dan AIDS di kelompok LSL menunjukkan peningkatan, hasil STBP 2013 (41 %) jika dibanding hasil STBP 2009 (24%). Hal yang menarik lainnya adalah perilaku pencegahan dan risiko pada LSL. Pemakian kondom dikalangan LSL meningkat pada saat melakukan hubungan seks komersial terakhir dari 54 % tahun 2009 menjadi 74 % tahun 2013, sedang peningkatan tertinggi ada pada Waria. Konsistensi penggunaan kondom dikalangan LSL menunjukan persentase tertinggi pada LSL (46 %) tahun 2013 dan 31 % tahun 2009.

0
0
0
s2smodern
Oleh : Ign.Praptoraharjo

Satu isu sangat strategis dalam Sustainable Development Goals (SDGs) yang secara langsung mencerminkan upaya untuk mewujudkan keadilan dan pemerataan kesejahteraan secara nasional adalah perlindungan sosial (Social Protection) yang tampak pada tujuan 1.3: Implement nationally appropriate social protection systems and measures for all, including floors, and by 2030 achieve substantial coverage of the poor and the vulnerable.Perlindungan sosial pada dasarnya adalah semua upaya yang diarahkan untuk menyediakan pendapatan atau konsumsi kepada kelompok miskin, melindungi kerentanan terhadap berbagai risiko yang berpengaruh terhadap kesejahteraannya, dan memperkuat status dan hak sosial dari kelompok yang termarginalisasi. Tujuan dari perlindungan sosial pada dasarnya adalah mengurangi kerentanan sosial dan ekonomi kelompok miskin dan termarginalisasi[1]. Di Indonesia, upaya untuk mewujudkan perlindungan sosial ini bisa dilihat dengan diberlakukannya UU no 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional yang bertujuan untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar hidup yang layak bagi masyarakat Indonesia melalui jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun dan jaminan kematian.

0
0
0
s2smodern
Oleh: Swasti Sempulur

IlustrasiKelompok dukungan sebaya atau peer support group merupakan sebuah kelompok yang bertujuan mensupport setiap anggota kelompok dalam kehidupan keseharian mereka. Dukungan sebaya meliputi orang yang menghadapi tantangan yang sama misalnyapasien dengan infeksi tertentu, komunitas tertentu.[1] Kelompok dukungan sebaya (KDS) sangat dikenal dalam konteks penanggulangan HIV/AIDS untuk memberikan support bagi orang yang terinfeksi HIV (ODHA) maupun keluarganya. Pertama kali seseorang mendapati dirinya terinfeksi HIV, memiliki beberapa persoalan, terkait dengan psikologis, kekhawatiran terhadap kesehatan, relasi dengan pasangan, ekonomi dan prasangka akan didapati perlakuan stigma dan diskriminasi, dll.  Dukungan moral yang dibutuhkan oleh orang yang terinfeksi HIV sangat diperlukan untuk mengatasi berbagai persoalan tersebut, sehingga mereka tetap dapat hidup sehat, dan produktif.  Dukungan tersebut salah satunya diperoleh melalui kelompok dukungan sebaya (KDS).

0
0
0
s2smodern
Oleh : Ita Perwira

"Kita tidak selalu bisa membangun masa depan untuk para pemuda, tetapi kita bisa membangun pemuda untuk masa depan" - Franklin D. Roosevelt

Ilustrasi | beritaintrik.comKita semua sadar bahwa masa depan kita berada di tangan para pemuda. Oleh karena itu sangat penting untuk melindungi mereka dari berbagai tantangan yang mengancam termasuk salah satunya permasalahan kesehatan. Terutama saat ini kelompok remaja mengalami peningkatan risiko terhadap HIV dan AIDS karena kondisi psikologis, lingkungan sosial dan struktural serta proses transisi yang mereka alami sebagai bagian dari perkembangan fase kehidupan mereka. Risiko ini semakin tinggi pada kelompok kunci remaja yaitu remaja yang juga LSL, transgender, penasun, dan pekerja seks. Hal ini ditunjukkan dengan semakin meningkatnya angka penularan HIV (saat ini 35% penularan HIV pada kelompok usia 15-24 tahun) dan juga kematian secara global pada kelompok remaja di tahun 2005-2012, padahal pada kelompok usia lain menunjukkan penurunan[1]. Gambaran penyebab kematian pada remaja secara global ditunjukkan secara jelas pada grafik dibawah. Di Indonesia sendiri, persentase infeksi HIV pada kelompok umur 15-24 tahun 2015 adalah sekitar 19.3%, sementara untuk persentase kumulatif kasus AIDS sampai dengan tahun 2015 kelompok usia muda usia 20-29 tahun adalah kelompok yang tertinggi yaitu 31.8%. Hal ini bila tidak segera menjadi perhatian kita maka angka ini akan terus meningkat. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menghentikan penyebaran HIV sesuai dengan target 90-90-90 yang telah dicanangkan dengan salah satu fokus pada kelompok remaja mengembangkan upaya penanggulangan yang lebih baik.

0
0
0
s2smodern
Penelitian

Knowledge Hub

Alert System

Peroleh informasi terbaru dari website ini, silahkan daftar ke alert system di bawah ini.

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID