0
0
0
s2sdefault
Kebijakan AIDS Indonesia

Oleh : Chrysant Lily

Dalam jurnal AIDS Care pada edisi yang berfokus pada tema mobilisasi komunitas, Campbell dan Cornish (2010)[1] memetakan tiga pendekatan utama yang telah berjalan dalam penanggulangan HIV dan AIDS khususnya yang menyasar pada perubahan perilaku. Pendekatan pertama adalah peningkatan kesadaran tentang HIV yang menekankan pada individu sebagai agen perubahan. Pendekatan ini menggunakan asumsi tradisional bahwa orang melakukan perilaku beresiko karena ketidaktahuan dan sebaliknya akan membuat pilihan yang rasional (yaitu merubah perilaku beresikonya) apabila memiliki informasi yang benar. Akan tetapi berbagai studi menunjukkan bahwa pendekatan berbasis individu ini seringkali membawa hasil yang mengecewakan, sebab akses terhadap informasi hanyalah sebagian penentu dari perubahan perilaku.

Meresponi kekurangan pendekatan berbasis individu, muncullah pendekatan generasi kedua yaitu pendidik sebaya. Asumsi dasarnya adalah kelompok sebaya memiliki pengaruh besar dalam perilaku seksual dan kesehatan seseorang, sehingga lebih masuk akal apabila intervensi ditargetkan kepada kelompok sebaya dan bukan pada individu sebagai unit perubahan. Namun pendekatan ini bukanlah tanpa kritik – kritik.  Pertama ada pada metode pendidikan yang digunakan banyak program pendidik sebaya yang cenderung bersifat satu arah, dan kritik kedua menyoroti ketiadaan konteks pendukung untuk menciptakan lingkungan yang memungkinkan program pendidik sebaya agar berhasil. Banyak yang berpendapat bahwa mobilisasi komunitas merupakan pendekatan yang bisa menjawab kedua kritik ini, sehingga muncullah pendekatan mobilisasi komunitas sebagai pendekatan generasi ketiga.

Dalam pendekatan generasi ketiga ini, unit perubahan sudah lebih luas lagi daripada sekedar pada kelompok sebaya, yaitu di level komunitas. Asumsi yang dipakai yaitu populasi kunci akan lebih mungkin merubah perilakunya apabila ada dukungan untuk melakukan perilaku yang baru – baik dari kelompoknya sendiri maupun dari aktor-aktor yang berpengaruh di luar kelompoknya. Di satu sisi ada kesepahaman umum bahwa mobilisasi komunitas yang kuat bisa memainkan peranan penting dalam memperkuat program penanggulangan HIV dan AIDS. Namun di sisi lain, ada keraguan bahwa sektor komunitas memiliki sumber daya yang memadai untuk memberikan respon terhadap HIV dan AIDS – apalagi karena sebagian besar komunitas yang terdampak adalah komunitas yang terpinggirkan dalam masyarakat.

Disinilah Campbell dan Cornish mengajukan dibutuhkannya pendekatan generasi keempat, yaitu bahwa konteks sosial yang lebih luas dimana mobilisasi komunitas untuk penanggulangan HIV dan AIDS dilaksanakan perlu diperhatikan. Argumentasinya adalah berbagai upaya mobilisasi komunitas hanya bisa efektif apabila lingkungan sosialnya mendukung upaya-upaya tersebut. Dimensi dari konteks sosial yang mendukung ini paling kurang ada tiga, yaitu dimensi simbolis, material, dan relasional. Dimensi simbolis adalah ideologi yang ada di dalam masyarakat – termasuk stigma yang mempengaruhi bagaimana suatu komunitas diperlakukan oleh komunitas lain. Sementara dimensi material berkaitan dengan dukungan dalam bentuk pendanaan untuk memobilisasi komunitas, dan dimensi relasional adalah dukungan dari pemangku kepentingan yang berpengaruh – seperti tokoh masyarakat, tokoh agama, politisi, polisi dan media. Selama tiga dimensi konteks ini tidak mendukung, kemungkinan upaya mobilisasi komunitas akan sulit untuk berhasil.[2]

Konteks sosial bukan merupakan sesuatu yang baku, namun seringkali merupakan produk dari  aksi para pengambil keputusan misalnya sektor pemerintah dan donor. Agar pendekatan ‘generasi keempat’ ini bisa berhasil, diperlukan komitmen politik yang kuat dari para pengambil keputusan untuk merubah atau menciptakan konteks yang diperlukan demi memaksimalkan hasil dari berbagai upaya mobilisasi komunitas. Seperti yang diungkapkan oleh Campbell dan Cornish, mobilisasi komunitas tidak cukup dengan memberikan keterampilan kepada kader-kader masyarakat untuk melakukan suatu program penanggulangan HIV dan AIDS bersama-sama. Memobilisasi komitmen politik untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi kegiatan komunitas baik di tingkat lokal, nasional, dan internasional juga mutlak diperlukan demi berhasilnya mobilisasi komunitas untuk penanggulangan HIV dan AIDS.


[1] Campbell and Cornish. 2010. Towards a “fourth generation” of approaches t HIV/AIDS management: creating contexts for effective community mobilisation. AIDS Care, vol. 22 no. supplement 2, pp. 1569-79.

[2] Penjelasan lebih lanjut tentang dimensi-dimensi dari lingkungan kondusif ini bisa dilihat dalam dua studi kasus yang disajikan oleh Campbell dan Cornish dalam tulisannya.

0
0
0
s2sdefault
Penelitian

Knowledge Hub

Alert System

Peroleh informasi terbaru dari website ini, silahkan daftar ke alert system di bawah ini.

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID