PURWOKERTO, SATELITPOST-Rencana penutupan komplek kos Gang Sadar (GS) menurut Sosiolog Fisip Unsoed, Tri Wuryaningsih MSi tidak boleh dilakukan dengan gegabah, sebab menurutnya penutupan GS tanpa diimbangi langkah yang strategis justru dapat menimbulkan gejolak sosial baru di masyarakat.

Ia mengatakan, faktor ekonomi merupakan perihal yang paling dipertimbangkan.”Kami sadar bahwa setiap prostitusi punya dampak buruk bagi masyarakat. Namun bisa muncul dampak buruk yang lebih besar jika dikerjakan secara gegabah. Tidak bisa melihat sekadar ini haram, lantas langsung bubarkan begitu saja, ” kata dia.

Menurutnya, baik MUI, Polres dan Pemkab Banyumas harus punya skema yang jelas terhadap rencana penutupan GS. Keberadaan GS menurutnya juga tidak lepas dari persoalan memenuhi kebutuhan ekonomi, kemudian juga tumbuh kembang berkaitan dengan sektor ekonomi lain diluar transaksi prostitusi.

“Persoalan masyarakata secara mendasar kan sebenarnya adalah persoalan pemenuhan kebutuhan ekonomi. Begitupula GS, apalagi juga berkaitan dengan pekerjaan lain seperti ojek, rumah makan dan yang lainnya, ” kata dia.

Selain faktor ekonomi, ada pula faktor kesehatan terkait persebaran HIV AIDS. “Selamai ini di GS ada kepengurusan, ada pantauan dan skema kontrol serta pengawasan sebaran HIV AIDS. Jika kemudian ditutup, pengawasannya akan seperti apa?. Pemerintah bertanggung jawab penuh atas setiap dampak dari kebijakan yang keluar, ” kata dia.

Adapun menurut Seksi Kesehatan Paguyuban Gang Sadar, Darkim, terkait erat dengan aktifitas perekonomian ribuan warga di Baturraden. Ada penerima tamu, tukang ojek, pedagan asongan, rumah makan, pekerja rumah makan, ibu kos, pekerjaan anak kos dan sejumlah aktifitas perekonomian lain seperti jasa calo atau pengantar.

“Apakah bisa mengalokasikan sekian ribuan orang yang mencari pencaharian di Gang Sadar. Pedagang, penerima tamu, ojek, yayu-yayu, ” kata dia

Aktifitas keramaian di Gang Sadar, kata dia sudah ramai sejak tahun 1973. Sehingga sudah menjadi bagian dari jantung perekonomian dan aktifitas rutin warga di Desa Karangmangu, Ketenger, Kemutug dan desa lain di wilayah Kecamatan Baturraden.

“HIV/AIDS di GS lebih terpantau, terkontrol dan terminimalisir. Karena ada program penyadaran, dan program lain untuk meminimalisir. Bayangkan jika lepas tanpa kontrol, siapa yang akan bertangungjawab dan bagaimana mengatasinya. Cara berpakaian anak kos di Gang Sadar juga sopan, merokok di jalan saat keluar dari gang di sekitar Karangmangu juga tidak boleh. Sudah jadi aturan, ” kata dia. (kim)

Sumber

0
0
0
s2smodern
Penelitian

Knowledge Hub

Alert System

Peroleh informasi terbaru dari website ini, silahkan daftar ke alert system di bawah ini.

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID