Ahmad Zubaeri (Staff Monev Yayasan Vesta Indonesia)

Temukan Obati PertahankanSerial diskusi kultural pada Bulan Juli ini diselenggarakan atas kerjasama Tim Kebijakan HIV dan AIDS PKMK FK UGM dengan Yayasan Vesta Indonesia dengan mengambil tema “(T)emukan, (O)bati, (P)ertahankan”. Diskusi diselenggarakan pada tanggal 29 Juli 2016, di kantor Yayasan Vesta Indonesia dan diikuti oleh peserta dari unsur LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), dinas kesehatan, KPA Kota Yogyakarta, KPA Provinsi serta perwakilan dari OBK (Organisasi Berbasis Komunitas) LSL, Waria dan WPS (Wanita Pekerja Seks). Ada dua narasumber yang diundang sebagai pemantik diskusi kultural ini, yakni Ignatius Praptoraharjo (PKMK FK UGM) atau biasa disapa Gambit, memaparkan mengenai salah satu strategi nasional yang dikembangkan dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS, yaitu yaitu TOP.Narasumber yang kedua adalah Suprianto Slamet atau yang akrab disapa Antok dari Yayasan Vesta Indonesia/YVI,memaparkan salah satu komponen dalam strategi TOP, yaitu “Temukandikaitkan dengan strategi GF (Global Fund) dalam model pendekatan search and find.

Diskusi ini sangat menarik karena mendiskusikan secara tuntasstrategi-strategi yang telah dikembangkan dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS untuk mencapai 3 zero (zero new infection, zero death and zero discrimination)Antok menjelaskan pada tahap Temukan”, kegiatan konkrit yang telah YVI lakukan dengan cara penjangkauan. Beberapa aktivitas yang biasanya dilakukan dalam penjangkauan kepada kelompok yang dianggap berisiko yaitu memberikan informasi HIV dan AIDS, mengajak melakukan pencegahan penularan HIV dengan menggunakan kondom serta mengajak untuk tes HIV(VCT). Model penjangkauan yang dulu terdiri dari beberapa tahapan dan menitikberatkan pada pemberian informasi HIV dan AIDS, pada pertemuan selanjutnya mengajak mereka untuk melakukan pencegahan penularan HIV dengan mempergunakan kondom setiap kali berhubungan seks yang berisiko, dan pada pertemuan selanjutnya baru mengajak mereka untuk test HIV(VCT). Pendekatan yang sekarang dikembangkan, yang dikenal dengan model pendekatan search and find, menitikberatkan pada ajakan untuk tes HIV(VCT) bahkan pada pertemuan pertama. Model pendekatan ini dikembangkan dalam upayanya untuk dapat membongkar fenomena gunung es dalam isu HIV dan AIDS. Ada konsekuensi yang muncul dan perlu untuk diantisipasi sedari awal ketika model pendekatan ini diterapkan. Bagaimana kesiapan dari pihak penyedia layanan kesehatan, terkait dengan ketersediaan reagen, obat ARV maupun kesiapan sumber daya manusia, ketika kemudian jumlah temuan kasus HIV dan AIDS meningkat secara tajam? Hal ini tentunya berhubungan dengan 2 komponen lainnya dalam pendekatan TOP, yaitu “Obati” dan “Pertahankan”.

Narasumber yang kedua, Gambit menjelaskan secara umum mengenai perkembangan strategi nasional yang dikembangkan di Indonesia yaitu TOP. Strategi ini membutuhkan kerjasama dan sinergitas dari semua pihak baik yang melakukan kegiatan temukan,obati dan pertahankan. Disampaikan pula bahwa pengembangan strategi dalam penanggulangan HIV dan AIDS yang dilakukan di Indonesia saat ini, menekankan pada bagaimana intervensi biomedis yang dilakukan oleh layanan kesehatan dapat diterapkan mulai dari Temukan,Obati sampai Pertahankan. Seperti telah diulas di atas bahwa perlu dipastikan kesiapan atas ketersediaan bahan-bahan yang diperlukan untuk mendukung upaya ini, misalnya reagen agar dapat memenuhi kebutuhan teman-teman yang menghendaki test HIV (VCT) serta ketersediaan ARV bagi teman-teman yang ternyata positif HIV. Selain itu, masih ditemukan kesenjangan antara jumlah yang ditemukan,jumlah yang diobati dan jumlah yang sudah diobati dan bisa mempertahankan pengobatannya. Padahal persoalan putus obat dihadapkan pada risiko rebounddari HIV dimana dalam periode 2 minggu saja berhenti melakukan terapi ARV, bahkan jika jumlah virus sudah tidak terdeteksi, maka jumlah virus tersebut akan meningkat dengan cepat.

Dsikusi Kultural TOP

Diakhir diskusi ini, beberapa peserta menyampaikan bahwa masih ditemui beberapa kendala dalam penerapan strategi TOP di DIY, diantaranya masih ada teman-teman yang belum memiliki kesadaran akan pentingnya tes HIV (VCT), padahal mereka tergolong dalam risiko tinggi untuk tertular HIV. Selain itu, persoalan lost to follow upmuncul dikarenakan tidak adanya jaminan kesehatan. Beberapa teman-teman yang sudah melakukan pengobatan memilih berhenti untuk melakukan pengobatan karena ketiadaan jaminan kesehatan tersebut. Masalah lain yang diungkapkan dari salah satu peserta, bahwa di bulan Juli 2016 terjadi kelangkaan obat jenis FDC. Dengan demikian, teman-teman yang biasanya mengkonsumsi FDC sehari 1 butir harus beralih ke jenis obat yang lain, di mana harus mengkonsumsi 4 butir obat dari semula 1 butir tiap harinya. Hal ini tentu saja menjadi ketidaknyaman tersendiri bagi pasien yang mengakses obat ARV.

Sebagai bagian penutup diskusi ini sekaligus penutup dari tulisan reportase ini, semua pihak yang terlibat dalam penanggulangan HIV dan AIDS di Daerah Istimewa Yogyakarta masih memiliki banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara bersama-sama dengan cara membangun sinergitas diantara pihak-pihak yang bergerak dalam kegiatan-kegiatan “Temukan, Obati dan Pertahankan.

0
0
0
s2smodern
Penelitian

Knowledge Hub

Alert System

Peroleh informasi terbaru dari website ini, silahkan daftar ke alert system di bawah ini.

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID