Pengantar (Introduction)

Pengantar Website Minggu Ke-42 2015

Kebijakan AIDS IndonesiaPembaca website yang budiman…

Epidemi AIDS dalam wacana global  akan berakhir  pada tahun 2030 sehingga AIDS  tidak lagi menjadi sebuah ancaman bagi kesehatan masyarakat  karena  penyebaran HIV dapat dikendalikan. Pendekatan untuk pencapaian target ini dikenalkan dengan strategi  Fast Track: End AIDS by 2030 oleh UNAIDS ( Link ). Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mencapai target ini ditandai dengan produk kebijakan seperti  arah pembangunan kesehatan dalam Rencana Pembangunan Menengah Nasional dan Rencana Aksi Nasional Pengendalian HIV di sektor Kesehatan 2015-2019 ( Link ).

0
0
0
s2smodern
Pengantar Website Minggu Ke-41 2015

Ilustrasi | chinadailyPembaca yang budiman...

Kebijakan anti prostitusi ibarat pedang bermata dua. Pada satu sisi,  kebijakan anti prostusi bermaksud melindungi perempuan dari ekploitasi seksual, pada sisi lainnya kebijakan ini justru menjadi alat legal untuk melakukan diskriminasi dan stigmatisasi terhadap populasi kunci yang berdampak pada diskriminasi dalam memperoleh akses layanan kesehatan. Kebijakan anti prostitusi di beberapa daerah tidak sejalan dengan upaya penanggulangan HIV dan AIDS. Penutupan prostitusi justru menyulitkan upaya pengendalian penularan IMS dan HIV. Begitu pula dengan ruang bagi populasi kunci (pekerja seks) untuk mengakses layanan kesehatan.

0
0
0
s2smodern
Pengantar Website Minggu Ke-40 2015

Kebijakan AIDS IndonesiaEdisi website kali ini mengusung tema tentang Konsep Resiko Penularan HIV dalam Konteks Relasi Sosial. Risiko adalah suatu kemungkinan terjadinya dampak buruk atas tindakan tertentu. Konsep resiko pada satu sisi bisa menunjukkan kemungkinan memperoleh dampak buruk (risk taking) atau sesuatu yang dilakukan pihak lain (something done to you).

0
0
0
s2smodern
Pengantar Website Minggu Ke-39 2015

Ilustrasi | AIDSIndonesia.comEdisi website kali mengusung tema tentang upaya penyusunan strategi promkes untuk pencegahan HIV dan AIDS dengan mempergunakan logic modelLogic model merupakan salah satu model perencanaan untuk menjelaskan dan menggambarkan maksud dan tujuan suatu program dan apa yang diharapkan diselesaikan dan mempunyai dampak. Secara lebih jelas seperti apa logic model itu dan bagaimana penerapannya, diulas dalam artikel utama“Logic Model dalam Pengembangan Strategi Promosi Kesehatan Pencegahan HIV dan AIDS” (Link) . Penulis mencoba untuk mengulas salah satu hasil penelitian di Cina yang menerapkan logic model untuk mereview evolusi yang terjadi dalam program pencegahan dan pengelolaan HIV dan AIDS di Cina (Link) dan tiba pada satu kesimpulan bahwa memang logic model merupakan model yang cukup komprehensif untuk membantu mensistemasi dan mengorganisir informasi-informasi yang ada dengan alur logis di dalamnya. Kemudian, penulis juga mencermati Rencana Operasional Promkes untuk Pencegahan HIV dan AIDS yang dikembangkan oleh Kemenkes RI melalui Pusat Promosi Kesehatan. Pedoman tersebut dirasa masih terlalu umum dan belum menjabarkan secara detail operasionalisasi strategi promosi kesehatan tersebut, padahal pedoman tersebut diharapkan menjadi acuan bagi kabupaten / kota. Dengan situasi epidemi yang berbeda-beda di masing-masing daerah, tentu perlu ada penyesuaian agar bisa diterapkan secara tepat dan berdampak. Pendekatan logic model direkomendasikan oleh penulis menjadi salah satu alternatif cara untuk membantu merumuskan strategi promosi kesehatan bagi pencegahan HIV agar bisa lebih efektif dan dapat menjawab kebutuhan-kebutuhan yang ada, khususnya untuk pengembangan strategi promkes pencegahan HIV bagi populasi umum.

0
0
0
s2smodern
Pengantar Minggu Ke-38 2015

Kebijakan AIDS IndonesiaPada edisi minggu ke-38, Website Kebijakan AIDS Indonesia mengangkat tema Layanan Komprehensif Berkesinambungan (LKB). Dalam Pedoman Penerapan Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan menyebutkan bahwa tujuan dari layanan ini adalah untuk (1)meningkatkan akses dan cakupan terhadap upaya promosi, pencegahan, dan pengobatan HIV & IMS serta rehabilitasi yang berkualitas dengan memperluas jejaring layanan hingga ke tingkat puskesmas, termasuk layanan untuk populasi kunci, (2) meningkatkan pengetahuan dan rasa tanggung jawab dalam mengendalikan epidemi HIV & IMS di Indonesia dengan memperkuat koordinasi antar pelaksana layanan HIV & IMS melalui peningkatan partisipasi komunitas dan masyarakat madani dalam pemberian layanan sebagai cara meningkatkan cakupan dan kualitas layanan, serta (3) memperbaiki dampak pengobatan antiretroviral dengan mengadaptasi prinsip “treatment 2.0”.

0
0
0
s2smodern
Penelitian

Knowledge Hub

Alert System

Peroleh informasi terbaru dari website ini, silahkan daftar ke alert system di bawah ini.

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID