Suara Pembaruan, 30 Mei 2014
[JEMBER] Sebanyak 49 anak berusia di bawah lima tahun (balita) di Kabupaten Jember, Jawa Timur, positif terinfeksi virus mematikan HIV/AIDS.
Mereka dipastikan tertular dari ibunya sejak dalam kandungan karena suami yang bersangkutan biasa njajan dengan wanita lain di luar rumah.
Di antara balita yang menyandang predikat orang dengan HIV/AIDS (ODHA) itu, beberapa orang meninggal dunia.
"Data itu kami catat sejak Voluntary Counceling Test Rumah Sakit Daerah (VCT RSD) dr Soebandi, Jember, berdiri 2006 hingga April 2014," ujar Koordinator konselor VCT RSD Soebandi Jember, Justina Evy Tyaswati, yang dikonfirmasi wartawan, Rabu (28/5).
Lebih lanjut Justina mengungkapkan, bahwa balita yang terinfeksi HIV membutuhkan penanganan secara ekstra baik dari pihak keluarga maupun dokter yang menangani. Pasien harus benar-benar mendapatkan perawatan yang intensif untuk mempertahankan daya tahan tubuhnya.
Kekebalan tubuh balita yang terinfeksi HIV menurut dia sangat rentan terhadap penyakit karena kekebalan tubuh mereka masih belum stabil dibandingkan penderita dewasa.
"Kondisinya mudah memburuk dan berujung pada kematian," ujarnya lagi.
Biasanya balita yang terinfeksi HIV/AIDS menderita gizi buruk karena daya tahan tubuhnya semakin menurun, sehingga pihak keluarga harus benar-benar menjaga asupan gizi makanan balita tersebut dan melakukan konsultasi ke klinik VCT secara rutin.
Kepada pasien ini, harus rajin minum obat antiretroviral (ARV) guna mempertahankan daya tahan tubuhnya yang masih belum stabil.
"Obat tersebut membantu mempertahankan hidup balita lebih lama dari ganasnya virus HIV/AIDS," ujar Justina yang dikenal pula sebagai psikiater RSD dr Soebandi Jember.
Pada bagian lain, Justina mengatakan, bahwa penularan balita yang terinfeksi HIV/AIDS dari ibu mereka yang positif HIV/AIDS sebagian besar melalui pemberian air susu ibu (ASI).
"Makanya, ibu hamil yang positif mengidap virus HIV/AIDS sebaiknya melakukan kontrol kesehatan secara rutin untuk meminimalkan risiko tertularnya HIV kepada anak balitanya," ujar Justina lagi.
Ia mengingatkan, jika bayi itu sudah terlanjur lahir di dunia, sebaiknya asupan gizi yang diberikan bukan langsung minum ASI (air susu ibu), tetapi menggantinya dengan susu formula.
Banyak ibu hamil penderita AIDS tidak mendapatkan informasi yang benar tentang penyakit mematikan itu, sehingga tidak sedikit anak mereka diperiksakan ke klinik VCT dalam kondisi parah dan sudah stadium lanjut, ujar Justina sambil menambahkan, untuk menekan angka penyebaran HIV/AIDS, sudah seharusnya para kaum lelaki tidak njajan dan atau bergonta-ganti pasangan dalam berhubungan seks, terutama dengan perempuan nakal.
Justina juga mengaku prihatin dengan data yang ada, bahwa virus mematikan itu juga banyak melanda kaum pelajar di Jember dan sekitarnya, akibat pergaulan bebas.
Ia juga sudah lama mendengar, banyaknya pelajar yang terjangkit virus HIV/AIDS karena mengikuti 'arisan seks' yang digelar setiap minggu, untuk membocking dengan perempuan pekerja seks komersial.
Di Magetan
Sementara itu temuan pasien baru yang terjangkit HIV/AIDS di Kabupaten Magetan, Jatim dilaporkan mengalami peningkatan.
Dari 2011 terdapat 26 kasus, sehatun kemudian ada lagi 33 kasus, lalu satuh berikutnya (2013) terdapat 45 kasus. Untuk lima bulan terakhir hingga Mei 2014 bertambah lagi menjadi 57 kasus.
Sehingga dalam tiga tahun lima bulan terakhir, keseluruhan jumlah kasus HIV/AIDS di Magetan mencapai 223 kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 110 orang di antaranya meninggal dunia.
"Khusus Januari-Mei 2014 sudah ada 12 kasus temuan baru HIV/AIDS. Makanya, kita perkirakan jumlah tersebut masih terus bertambah, karena yang terjaring itu mereka yang menyadari tertular virus HIV/AIDS setelah kehidupan seksnya gonta-ganti pasangan di tempat kerjanya."
"Makanya ada tiga jiwa balita yang menjadi korban (tertular virus HIV/AIDS) dari ibunya, dan ada pula tertular sejak dalam kandungan karena ulah ayahnya," ujar Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Dinas Kesehatan (P2PL Dinkes) Magetan, Didik Setyo Margono, yang dikonfirmasi, Kamis kemarin.
Didik menyatakan sangat prihatin, karena temuan kasus HIV/AIDS yang dialami warga Magetan itu pada umumnya didapat ketika bekerja di luar negeri (dan luar kota). Mereka terjangkit virus tersebut saat berada di wilayah tempat kerjanya.
"Ketika pulang ke kampung halaman rata-rata mereka sudah terinfeksi dan kemudian secara sadar mendatangi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) ataupun Dinkes setempat," ujar Didik sambil menambahkan, ada pula mereka ditemukan petugas kesehatan saat menggelar kegiatan di Puskesmas-puskesmas. [ARS/L-8]
Sumber: Suara Pembaruan
