Fajar Online, 22 Juli 2014

Sekjen PBB Ban Ki-Moon foto.intJAKARTA, FAJAR - The Joint United Nation Program on HIV/AIDS sebuah badan PBB yang bertanggung jawab mengurusi program penanggulangan AIDS telah meluncurkan laporan diberi nama "GAP Report" yang berisi laporan kemajuan program penanggulangan AIDS secara global. Laporan itu mengetengahkan laporan kemajuan program di level regional dan level negara.

Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-Moon dalam pengantarnya mengungkapkan, misinya untuk membangun sebuah dunia lebih baik. Untuk tidak meninggalkan satu orang pun di belakang. Untuk berdiri bagi mereka yang paling miskin dan rentan dalam nama perdamaian global dan keadilan sosial.

Secara khusus dalam lembar faktanya, laporan itu menyoroti keprihatinan terhadap Indonesia. Angka infeksi baru meningkat 47 persen sejak 2005. Dilihat dari proporsi angka infeksi baru, Indonesia masuk peringkat delapan besar dunia dengan angka infeksi baru HIV terbesar dengan menyumbang empat persen dari total angka infeksi baru HIV di dunia. Ini berlawanan dengan data negara seperti India, Cambodia, Thailand dan Myanmar telah berhasil menurunkan angka infeksi baru.

Indonesia juga disoroti terkait dengan masih meningkatnya trend angka kematian akibat AIDS yang meningkat sejak 2005 sampai dengan 2013 sebesar 427 persen sementara beberapa negara lain di Asia dan Pacific telah menunjukan trend penurunan.

Salah satu penyeba tingginya angka kematian terkait AIDS di Indonesia ini, karena masih rendahnya cakupan terapi obat ARV bagi ODHA (Orang dengan HIV). Laporan ini mencatat cakupan pengobatan ARV pada ODHA baru sebesar 8 persen dari total orang yang terinfeksi HIV.

Di aspek HAM, Indonesia bersama beberapa negara disoroti karena mencatat bahwa praktek sterilisasi paksa pada perempuan dengan HIV masih terjadi

Direktur Eksekutif dari Indonesia AIDS Coalition (IAC) Aditya Wardhana mengatakan, PR kita belum selesai. Meski beberapa data laporan UNAIDS itu masih perlu disesuaikan dengan konteks Indonesia, misalnya apakah angka infeksi baru yang meningkat disebabkan epidemic yang memang meluas atau keberhasilan dari program case finding, namun ini adalah peringatan keras agar kita semua meningkatkan upaya dalam program penanggulangan AIDS. "Persoalan ini hanya bisa diselesaikan jika komitment politik ditingkatkan, alokasi pendanaan yang dibutuhkan dipenuhi, kepemimpinan diperkuat serta upaya dari masing-masing propinsi dan kabupaten kota perlu di lipat duakan. Serta yang tidak kalah penting pemerintah harus menggandeng komunitas terdampak AIDS sebagai inti dari program. Bekerja bersama ODHA dan bukan sekedar bekerja untuk ODHA," imbuhnya dalam rilis, Selasa 22 Juli. (rmol)

Sumber: Fajar Online