hidayatullah.com | Rabu, 21 Januari 2015

Nila MoeloekHidayatullah.com–Menteri Kesehatan RI, Prof. Nila Farid Moeloek mengatakan bahwa penanggulangan Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) dinilai bagian penting pembangunan.

Mengingat di tengah masyarakat Indonesia saat ini kurangnya membangun kesadaran kesehatan itu sendiri. Dan ini juga merupakan integral dari Pembangunan Nasional.

“Penanggulangan HIV dan AIDS adalah bagian penting dari Pembangunan Kesehatan yang merupakan bagian integral dari Pembangunan Nasional,” rilisnya dan disampaikan pula oleh Dirjen P2PL Kemenkes dalam acara ‘Pertemuan Evaluasi Nasional Semester 9 (Juli-Desember 2014) dan Rencana Kegiatan Semester 10 (Januari-Juni 2015) di salah satu hotel di bilangan Gajah Mada, Jakarta Pusat, Selasa (20/01/2015) malam.

Kedaulatan Rakyat | Yon Haryono | Rabu, 21 Januari 2015

IlustrasiSEMARANG (KRjogja.com) - Ketua Pengurus Harian Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Tengah dr Widoyono Mph mengatakan, kondisi persoalan kesehatan remaja yang terpinggirkan tidak sepenuhnya salah masyarakat. Karena kondisi ini ditunjang dengan sistem yang belum support pada kesehatan remaja. "Masyarakat dan pemerintah harus mulai peduli pada para remaja usia produktif", tegasnya, Rabu (21/01/2015).

By KAMCILLA PILLAY | iol.co.za | January 21 2015

FILE PHOTO: Jason LeeDurban - Young women should be the focus of any new funding procured by the government in the fight against HIV and Aids in KwaZulu-Natal.

This, said Professor Salim Abdool Karim, director of the Centre for the Aids Programme of Research in SA (Caprisa), would be valuable in the fight against the spread of the disease.

Karim was responding to a plea for assistance made by Premier Senzo Mchunu to international group, The Global Fund.

The fund invests nearly US $4 billion a year to support Aids, TB and malaria programmes run by local experts in more than 140 countries.

TribunNews | Selasa, 20 Januari 2015

IlustrasiTASIKMALAYA, TRIBUN - Temuan kasus HIV/AIDS di Kota Tasikmalaya tahun 2014 hanya 25 kasus, menurun dibanding tahun 2013 sebanyak 28 kasus. Namun penurunan itu tidak bisa dipandang bahwa kasus HIV/AIDS menurun.

Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Tasikmalaya, Isep Suhendar, Selasa (20/1), mengatakan, fenomena menurunnya kasus penyakit yang belum ada obatnya itu, bisa karena yang terinveksi tidak melapor bisa juga memang tingkat kesadaran warga akan bahaya HIV/AIDS meningkat sehingga mereka menjauhi segala perbuatan yang berisiko.

Supported by

AusAID