Kebijakan AIDS IndonesiaOleh : Hersumpana, Ig.

Pendidikan Tinggi Kesehatan (sekolah Tinggi, Universitas, Akademi) setidaknya mememiliki tiga  peran yang strategis sebagai lembaga publik,  1) melakukan penelitian untuk menyusun kebijakan,  2) mendidik dan meningkatkan kapasitas mahasiswa (tenaga kesehatan) dan 3) melakukan pendidikan dan pengembangan komunitas dalam penanggulanganan AIDS. Bagaimana Persepsi Sekolah Tinggi Kesehatan sendiri terhadap peran tersebut, apakah mereka sekolah-sekolah Tinggi kesehatan di sekitar Yogyakarta sudah memiliki kurikulum atau model untuk pendidikan AIDS?  Diskusi kultural yang diselenggarakan oleh PKMK FK UGM  pada 27 Pebruari 2015 secara khusus mengundang para pengelola sekolah tinggi kesehatan di sekitar Yogyakarta, yakni Stikes Aisyiah, Stikes Bethesda, Akademi Kesehatan Karya Husada, Akademi kebidanan Ahmad Dahlan, Akademi Keperawatan Karya Bakti Husada, dan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, serta LSM Kebaya mendiskusikan dan mengkaji persepsi peran pendidikan tinggi kesehatan dalam penanggulangan AIDS.

Pada praktiknya, sebagian besar sekolah tinggi kesehatan di Kota Yogyakarta belum mempunyai kurikulum  pendidikan AIDS. Kebanyakan dari lembaga pendidikan tinggi kesehatan  tersebut  memberikan materi AIDS sebagai sub bagian pokok bahasan dari matakuliah Keperawatan,  Kebidanan, dan pengabdian masyarakat seperti  program keperawatan berbasis komunitas. Setiap Sekolah Tinggi kesehatan memiliki kebebasan untuk menjadikan AIDS sebagai prioritas atau tidak dalam materi pendidikannya. Materi yang diberikan kepada mahasiswa sejauh ini masih terbatas dan bersifat teoritis dari aspek medis, belum menyentuh materi dari aspek sosial terkait dengan orientasi seks, dan gender sehingga ketika menjadi lulus dan menjadi tenaga kesehatan seperti dialami teman-teman kebaya sebagai pendamping ODHA, pembedaan perlakuan atau diskriminasi terhadap pasien ODHA, atau Waria itu masih dirasakan. Oleh karenanya, Pengetahuan yang komprehensif terkait HIV dan AIDS, baik secara medis maupun non medis perlu menjadi bagian dari kurikulum pendidikan kesehatan. Selain itu, kerjasama antara sekolah tinggi kesehatan dengan Komunitas ODHA dalam memberikan pengetahuan AIDS dapat menjadi terobosan baru sehingga materi AIDS tidak disalahpersepsikan dan merupakan penyakit yang tidak mudah untuk menular.

Kondisi ini juga tercermin pada hasil Riset Tim AIDS PKMK FK Universitas Gadjah Mada tentang evaluasi implementasi Layanan Komprehensif berkelanjutan HIV/IMS di Kota Yogyakarta (2014). Seorang tenaga kesehatan Puskesmas Kota Yogyakarta mengungkapkan pengalamannya. “Salah seorang pasien kami mendapatkan perlakuan diskriminatif. Rumah sakit menolak memberikan layanan dan mengirim kembali ke Puskesmas, ketika petugas mengetahui statusnya sebagai ODHA. Sebagai petugas semestinya tidak diskriminatif, karena pasien ini berhak mendapatkan layanan yang sama dengan yang lainnya” (Bidan Y, PKM Gedong Tengen, Kota Yogyakarta). Terkait diskriminasi, stigma dan penolakan ini, Jonathan Mann, direktur Program AIDS Global WHO, pada 1987, menyebutnya sebagai epidemi ketiga. Stigma dan diskriminasi merupakan  tantangan global seperti penyakitnya sendiri.

Realitas ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi kesehatan memiliki peran strategis dalam memberikan pendidikan dan pengetahuan baik kepada mahasiswa kesehatan maupun kepada masyarakat secara komprehensif  terkait AIDS untuk mengikis diskriminasi. Tingkat pengetahuan yang minim, ketidaktahuan para nakes  dari pengalaman tersebut dapat diatasi dengan peningkatan kualitas pengetahuan tenaga kesehatan dengan  adanya kurikulum dan model pendidikan HIV/AIDS yang diberikan oleh SekolahTinggi/Universitas/Akademi kesehatan sebagai penyelenggara pendidikan untuk tenaga kesehatan baik dokter, bidan, dan perawat. Tantangannya, masalah AIDS belum menjadi prioritas dalam pendidikan kesehatan di sebagian besar sekolah Tinggi Kesehatan di Indonesia, sehingga perlu proses advokasi yang terencana untuk mendorong Sekolah-Sekolah dan Pendidikan Tinggi Kesehatan mempunyai kurikulum pendidikan AIDS, bukan saja sebagai sub bagian pembahasan dari materi ajar tertentu seperti selama ini.  Meskipun demikian,  Kita bisa menyebutkan beberapa diantara pendidikan tinggi yang sudah menjadikan AIDS sebagai Mata kuliah tersendiri sebagai bagian dari kurikulum pendidikannya  seperti Stikes St. Carolus Jakarta,  dan FKM UI.  Sebagai tindak lanjut,  semua peserta sepakat untuk mengembangkan upaya, dan inisiatif melalui pengembangan berbagai kegiatan alternatif  untuk  membangun wacana dan pengetahuan AIDS di sekolah tinggi kesehatan.