Diskusi Kultural kali ini , mengangkat tema bagaimana peran (tokoh) agama dalam upaya penanggulangan AIDS. Sejak Tahun 2010, Upaya penanggulangan AIDS sudah melibatkan salah satu lembaga Agama, LKNU (lembaga Kesehatan Nahdratul Ulama) sebagai Principal Recipient (PR) GF untuk melaksanakan program berbasis pada organisasi keagamaan (Faith based Organisation). Diskusi ini akan secara kritis mencoba mengkaji terkait bagaimana dalam praktik Peran (tokoh) Agama dalam penanggulangan AIDS dari pengalaman LKNU dalam mengelola program AIDS.

Pengalaman LKNU ini telah dikaji secara ilmiah sebagai thesis yang dilakukan oleh Henri Puteranto, pada fakultas Ilmu Sosial Universitas Indonesia. Kesempatan ini kita akan mengkaji sejauhmana efektifitas peran LKNU dalam upaya penanggulangan AIDS, Apakah keterlibatan LKNU sebagai organisasi berbasis keagamaan besar di Indonesia dapat mempengaruhi dan merubah persepsi masyarakat luas untuk meminimalisir stigma dan diskriminasi. Sejauhmana pendekatan yang digunakan berbasis organisasi keagamaan memberikan kontribusi dalam penurunan prevalensi HIV di Indonesia selama 5 tahun program yang dilakukan? 

Pengalaman pendakatan berbasis organisasi keagamaan ( komunitas keagamaan) dari LKNU akan disandingkan dengan pengalaman pengorganisasian yang dikembangkan oleh pendekatan komunitas dari komunitas masyarakat sipil, yakni Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) yang menjadi Principal Recipient (PR) GF pada periode yang sama, bagaimana interaksi dan kolaborasi dari pendekatan komunitas yang dikembangkan oleh tokoh Agama dan tokoh masyarakat sipil dalam penanggulangan AIDS. Pengalaman dari kedua pendekatan oleh organisasi berbasis keagamaan dan masyarakat sipil ini perlu dilihat sejauhmana peran (tokoh) agama dan masyarakat sipil sebagai pembentuk opini di tengah masyarakat dalam penanggulangan AIDS? Sejauh mana legitimasi dari para tokoh NU (baca: kyai) diikuti dalam meletakkan AIDS sebagai persoalan sosial dan kesehatan?

Supported by

AusAID