Reportase Serial Diskusi Kultural II

Oleh : Kurniawan Rahmadi & Fitri Hudayani

Diskusi kultural yang terselenggara pada selasa, 22 September 2015 bertempat di kantor Kelurahan Mampang, dihadiri oleh 17 orang peserta yang terdiri dari Ketua PKK, pengurus PKK, PAUD, RW, Kasie dan staf Kesra Kelurahan. Pertemuan dibuka oleh Lurah Mampang yang dalam pidato pembukaannya mengangkat isu “HIV masalah kita bersama” dan kemudian menjadi tema diskusi pada kesempatan ini.

Sejauh ini HIV masih menjadi masalah yang menarik untuk dibahas tetapi belum menjadi keperdulian di dalam masayarakat karena masih besarnya stigma negatif terhadap kondisi tersebut. Hal ini disampaikan oleh para peserta diskusi, dimana tema HIV beberapa kali mejadi tema yang diangkat pada penyuluhan warga di kelurahan. Tetapi yang menjadi masalah, disaat ditemukan warga sebagai pupolasi kunci maka belum semua pengurus RW mau turun langsung untuk membantu menangani masalah tersebut.

Kesulitan dalam menerima dan menghindari stigma masih menjadi penghalang dalam usaha pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS diingkungan warga. Hal ini juga dipersulit oleh kurangnya konsentrasi pihak kelurahan terhadap program kesehatan khususnya HIV dan AIDS dengan alasan bahwa program tersebut bukan program unggulan propinsi dan juga bukan sebagai indikator kinerja. Sedangkan program terkait dengan estetika kota yang masih menjadi program utama yang harus didahului. Sehingga sampai saat ini belum ada terbentuk warga peduli AIDS (WPA) untuk dikelurahan ini dan petugas pun merasa berat karena telah banyak program yang harus mendapatkan supervisi di lapangan, sehingga program WPA belum dapat berjalan.

Salah satu peserta diskusi memiliki pengalaman langsung dalam merawat populasi kunci mulai dari pendampingan di rumah, berobat ke rumah sakit dan pengurusan jaminan. Keluhan yang dihadapi adalah kesulitan dalam pengurusan jaminan sehingga populasi kunci yang dirawatnnya menggunakan biaya sendiri. Sejauh ini belum banyak yang mau sampai turun memberikan pendampingan kepada populasi kunci.

Ada pula yang memenukan adanya peraturan terkait dunia pendidikan dimana adanya sekolah menengah atas dilingkungan kelurahan tersebut yang mewajibkan untuk tes HIV sebelum masuk sekolah tersebut. Tetapi orang tua calon murid kesulitan untuk melakukan tes anaknya karena puskesmas di kelurahan tersebut tidak menyediakan tes sehingga harus ke laboratorium swasta.

Harapan warga adanya pendidikan berkelanjutan kepada masayarat mengenai pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS dalam bentuk penyuluhan dan forum diskusi, sehingga adanya perbaikan pengetahuan dan perilaku warga mengenai hal tersebut. Warga juga berantusias jika pihak kelurahan akan membentuk WPA di lingkungannya. 

Supported by

AusAID