Tanggal : 29 September 2015
Waktu : 10.00 – 11.30; 13.00 – 14.30; 15.00 – 16.30
Lokasi : Yayasan Karisma (Jalan Kikir)
Ledakan kasus HIV di kalangan pengguna suntik narkotika/psikotropika mencuatkan kelompok ini dalam debat kebijakan sosial dan menjadikannya salah satu kelompok marjinal yang paling sering diteliti. Di sisi berlainan, pengguna narkotika dan psikotropika merupakan kelompok yang heterogen di mana variasi pola penggunaan dan interaksi sosial berkaitan dengan karakteristik pasar narkotika/psikotropika yang digunakan di samping dampak buruk langsung yang dihasilkan dari penyalahgunaannya.
Perilaku perolehan dan penggunaan narkotika/psikotropika di luar cara suntik dan jenis opiat bisa saja mengikuti pola sosial yang berbeda karena dua hal berikut. Pertama, luasnya penyalahgunaan sehingga kelompok yang terdiri dari para penyalahguna tidak dapat terpilah secara sempurna dari populasi umum. Hal ini dapat diamati pada kelompok narkotika/psikotropika dengan efek adiksi lebih rendah seperti ganja atau amfetamina dan turunannya (disebut juga amphetamine-type stimulant/ATS) sehingga memungkinkan seseorang memasuki dan keluar dari pola konsumsi berulang dan dalam waktu yang singkat.

Bekerjasama dengan Yayasan Karisma, dilakukan FGD sebagai informasi awal analisa dan sebagai bahan referensi dalam penelitian lanjutan mengenai karakterisktik dan jejaring sosialdan perilaku perolehan serta penyalahgunaan narkotika dan psikotropika ilegal di provinsi DKI Jakarta, sehingga nantinya dapat memberikan bantuan layanan dan intervensi yang sesuai dengan kebutuhan mereka dan tepat guna.

FGD dilaksanakan dalam satu hari dengan pembagian menurut jenis penggunaan utama menjadi 3 kelompok yaitu :
- Pengguna Amphetamine
- Pengguna Ganja
- Pengguna Benzo
Masing-masing kelompok melakukan FGD pada waktu yang berbeda dengan durasi sekitar satu setengah jam. Peserta pada masing masing kelompok diskusi berjumlah 5-7 orang, dengan 2 orang fasilitator yang memandu jalannya diskusi.
Diskusi kelompok pertama (ganja)
Peserta yang memakai ganja sangat tertutup dengan lingkungan mereka ketika memakai karena takut akan hukum yang berlaku. Menurut mereka, tertangkap oleh kepolisian karena ganja hukumannya sangat berat dan dengan alasan keamanan ketika pemakaian, mereka umumnya memakai ganja diluar lingkungan mereka.
Peserta atau para pemakai ganja ini juga lebih suka memakai ganja bersama-sama, tidak sendirian dan mereka pun patungan untuk membeli ganjanya karna menurut mereka itu lebih asik, menyenangkan, dan lebih hemat tetapi mereka sangat tertutup dengan orang lain yang tidak mereka kenal. Alasan mereka memakai ganja adalah karena lingkungan dan pergaulan. Mereka tidak merasa ada masalah dengan pemakaiannya dan tidak merasa kecanduan.
Diskusi kelompok kedua (sabu/amphetamine)
Peserta atau pengguna narkoba jenis sabu ini ternyata memiliki masalah atas pemakaian mereka, antara lain karena efek dari sabu itu sendiri, seperti halusinasi, susah tidur dan perlu peredam/bantuan obat lain untuk tidur, di samping mereka harus mengeluarkan biaya yang cukup tinggi untuk membeli shabu yang terkadang kesulitan uang. Oleh karena itu, terkadang mereka juga melakukan hal kriminal seperti menodong atau mencopet agar memperoleh uang untuk bisa beli sabu.
Untuk mengatasi masalah susah tidur mereka ternyata mereka menggunakan narkoba lain seperti ganja, obat-obatan, dan alkohol. Mereka lebih sering membeli sabu di lingkungan mereka sendiri karena merasa bandarnya asik sehingga terasa lebih nyaman karena sudah akrab. Tempat mereka memakai sabu umumnya tidak menentu, namun yang pasti pemakaian dilakukan jika rumah dalam kondisi kosong.
Keluarga hampir semua sudah mengetahui mereka memakai sabu dan respon dari keluarga hanya diam, tidak menanggapi secara serius terhadap perilaku tersebut. Para pengguna sabu merasa bahwa dirinya tidak mengalami sakit meski jika tidak memakai sabu satu atau dua hari terasa pegal-pegal, panas dalam dan “suges” (ada dorongan untuk menggunakan lagi). Alasan utama dari para peserta dalam memakai sabu adalah karena faktor lingkungan. Mereka diajak dan diajarkan oleh yang orang/teman yang lebih tua. Beberapa peserta lainnya menyebutkan penggunaan sabu sebagai pengalihan dari narkoba jenis lain.
Diskusi kelompok ketiga (benzo)
Peserta merasakan kemudahan dalam mendapatkan benzo karena banyak dijual di toko obat pinggir jalan dan tidak pernah menemui kesulitan ketika membeli. Pengguna lebih dominan menggunakan benzo karena harga yang murah dan mudah didapat. Mereka selalu berkumpul jika ingin membeli benzo, mereka lebih suka “getting high” bersama dipinggir jalan. Berikut alasan pertama kali menggunakan benzo, yaitu sebagai pengalihan dalam menghadapi masalah keluarga (broken home), di’ajarin’ temen, rasa penasaran, dan ‘ikut-ikutan’ karena banyak dari teman-teman sebaya mereka diluar lingkungan yang menggunakan juga.
Untuk saat ini peserta memiliki rasa takut ditangkap karena melihat penangkapan Bandar benzo di media. Di daerah mereka tinggal banyak penjual benzo dan pengedar narkoba lainnya. Beberapa dari peserta menyebutkan tidak betah berada di rumah karena ceramah dari orang tua. Mereka merasa malas, dan tidak bergairah jika tidak menggunakan benzo, hal ini yang membuat mereka akhirnya menggunakan lagi. Ada pikiran untuk berhenti tapi selalu ada teman-teman yang mengajak untuk menggunakan lagi sehingga belum dapat direalisasikan.
