Universitas Cendrawasih, 18 September 2015

Diskusi kultural yang diselenggarakan mengangkat isu tentang penutupan lokalisasi Tanjung Elmo. PAda kesempatan diskusi tersebut dihadiri oleh sejumlah mahasiswa yang memberikan pendapatnya terkait isu tersebut.

Pendapat peserta yang notabene adalah mahasiwa menunjukkan bahwa dengan peningkatan kasus HIV yang tinggi di Papua, maka perlu berbagai upaya untuk memonitor angka penyebaran HIV kaitannya dengan penutupan lokalisasi. Program penangulangan HIV dan AIDS sudah berjalan di Papua, namun demikian belum mampu untuk menurunkan angka kasus HIV dan AIDS. Dengan adanya penutupan lokalisasi untuk melakukan monitoring kesehatan bagi WPS menjadi lebih sulit.

Di lain pihak bagaimana sebenarnya upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat melakukan VCT. Penyedia layanan VCT perlu lebih proakktif untuk menjangkau pasien VCT.  Adat istiadat menjadi penghalang dalam untuk melakukan VCT. Penjaringan klien VCT dapat dilakukan melalui PITC.

Penyebarluasan informasi menjadi pentng untuk meningkatkan oengetahuan masyarakat tentang HIV. Informasi dapat dilakukan melalui media cetak seperti btosur, leflet, baliho, poster. media elecktonik berupa siaran TV local. Sosialisasi  juga dapat dilakukan secara langsung oleh tenaga kesehatan.

Dari diskusi yang berkembang dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Pemahaman mahasiswa tentang program HIV/AIDS: program pemerintah lebih banyak dikerahkan pada VCT. Untuk program lainnya seperti penjangkauan oleh tenaga kesehatan (PITC) masih sebatas dilakukan di ruang bedah ketika akan dilakukan suatu tindakan khusus terhadap pasien. PPIA yakni penanggulangan untuk pencegahan dari ibu ke anak masih kurang informasi. Yang lebih dominan dilakukan adalah penjangkauan dengan konseling
  2. Jumlah kasus yang ditemukan lewat VCT mengalami peningkatan karena adanya dukungan dari:
    • Masyarakat yang pengetahuannya mengalami peningkatan karena adanya sumber informasi yang berasal dari: media tv lokal, sosialisasi dari nakes, media massa, RRI.
    • Tokoh agama
    • Penjaringan yang proaktif dari pemerintah
    • Peran akif dari LSM misalnya CHAI
  3. Semakin tinggi angka kasus yang ditangani oleh karena: VCT, PPIA dan PICT dilakukan dengan baikà kamar operasi, obgin menemukan kasus baru dengan adanya peningkatan penanganan kasus pasien yang sudah positif
  4. Sistim informasi untuk data HIV terbantu dengan adanya SIHA.  Pertemuan setiap awal bulan untuk membahas tentang kasus tertentu misalnya ada pasien yang lost follow up; adanya kolom khusus terkait kasus HIVdi dalam media cetak.
  5. Penutupan lokalisasi akan membuat  penyebaran kasus tidak terkontrol/pemantauan terlepas,  dalam artian pemantauan sulit dilakukan karena para WPS tidak berada di lokalisasi sehingga akan menyulitkan petugas di dalam melakukan kontrol bagi mereka yang terkena IMS/HIV.
  6. Kesiapan pemerintah untuk memonitor: pemerintah Kabupaten melakukan suatu instruksi melalui distrik dan dinas kota. Hasilnya: tidak ditemukan
  7. Jika lokalisasi ditutup, demand terhadap penggunaan jasa WPS tidak akan menurun. Akan sulit memantau karena WPS jalanan saja masih sulit untuk dideteksi. Kasus akan meningkat karena  adanya ganti2 pasangan.
  8. Bebrapa pendapat terkait penutupan lokalisasi dari perspektif mahasiswa cukup variatif :
    • Dampak negative yang ditimbul akan akan sulit dikendalikan
    • Menyetujui penutupan lokalisasi dengan catatanan pemerintah perlu mengupayakan cara – cara tertentu untuk menolong WPS yang akan ditutup lokalisasinya
    • Perlu ada sosialisasi terlebih dahulu kepada masyarakat terkait penutupan tanjung elmo
    • Efek negative terhadap penutupan tanjung elmo harus dipikirkan dengan baik
    • Komitmen dari pemerintah asal WPS Tanjung Elmo yang belum jelas.