Universitas Udayana, 6 Agustus 2015

Diskusi kultural pertama diadakan pada hari Kamis tanggal 6 Agustus 2015 dengan manajer program dan petugas lapangan Yayasan Gaya Dewata, LSM yang bergerak di bidang penanggulangan HIV pada komunitas LSL di Kota Denpasar. Diskusi yang dihadiri oleh 12 orang peserta ini bertujuan untuk menggali berbagai isu terkait upaya pencegahan dan penanggulangan HIV pada LSL di Kota Denpasar. Isu terkait masalah dalam akses layanan IMS dan HIV pada LSL secara umum juga menjadi topik dalam diskusi. Hasil dari diskusi tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran awal bagi peneliti, sehingga nantinya mampu untuk memahami hal apa saja yang perlu digali lebih lanjut dari informan dalam penelitian. Diskusi berjalan selama 2 jam, dimulai dari pukul 14.30 sampai dengan 16.30 WITA.

Dari diskusi tersebut diketahui bahwa kejadian HIV pada LSL di Kota Denpasar terus meningkat dan sebagian besar kasus yang terdiagnosis berasal dari luar Bali. Umumnya mereka memiliki tujuan untuk bekerja di Bali dan sebagian besar dari mereka mengetahui adanya layanan IMS dan HIV bagi LSL melalui media sosial. Klien LSL pada umumnya tidak berkenan untuk datang sendiri ke layanan karena merasa malu atau khawatir akan situasi di layanan. Hal ini menyebabkan sebagian besar dari mereka mengharapkan bantuan dari petugas lapangan untuk mengantar ke layanan. Klien juga umumnya memilih untuk menjalani tes di layanan yang jauh dari tempat tinggalnya karena khawatir bertemu dengan orang yang dikenal jika menggunakan layanan di sekitar tempat tinggal mereka.

Yayasan Gaya Dewata selama ini merujuk klien LSL ke Puskesmas Denpasar Selatan 2, Denpasar Barat 2, Denpasar Timur 1, dan Denpasar Utara 2 untuk pemeriksaan IMS dan HIV. Menurut hasil diskusi, kualitas layanan di puskesmas dan rumah sakit bagi LSL yang ada saat ini dirasa sudah cukup baik. Hal yang dirasakan masih kurang mampu untuk dilaksanakan oleh layanan adalah penjangkauan dan pendampingan klien. Walaupun saat ini sudah ada satu orang yang direkrut oleh Dinas Kesehatan Kota Denpasar untuk menjadi PL di masing-masing puskesmas di Kota Denpasar, masih terdapat beberapa kendala yang dihadapi yang salah satunya adalah lebih rendahnya insentif yang diterima jika dibandingkan gaji saat bekerja di LSM.

Kegiatan Yayasan Gaya Dewata selama ini sebagian besar didanai oleh HCPI sebagai perpanjangan tangan dari AusAID. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bagi mereka jika bantuan dana dari donor akan berhenti tahun ini. Mereka tidak dapat memastikan apakah kegiatan penjangkauan dan pendampingan masih dapat dilakukan seperti saat ini, walaupun mereka akan tetap memberikan informasi kepada LSL yang membutuhkan. Terdapat kemungkinan bahwa pemerintah daerah akan mendanai usaha penjangkauan oleh PL tetapi jumlah PL yang bisa didanai mungkin sangat terbatas.

Keikutsertaan LSL dalam program JKN juga menjadi topik dalam diskusi, dan diketahui bahwa hanya sedikit LSL yang sudah memiliki dan menggunakan JKN saat ini. Kendala dari sisi administrasi kependudukan dan persepsi negatif tentang kualitas layanan yang diperoleh oleh peserta JKN menjadi penghambat peningkatan cakupan kepesertaan BPJS pada komunitas LSL.

Supported by

AusAID