Diskusi Kultural dengan SAPDASerial diskusi kultural edisi Maret, diselenggarakan bekerjasama dengan Sentra Advokasi Perempuan, Difabel dan Anak (SAPDA), pada tanggal 31 Maret 2016. Diskusi yang mengangkat tema ini tentang disabilitas dan kesehatan seksual reproduksi, dihadiri oleh lebih dari 40 orang yang berasal dari jaringan SAPDA dan jaringan Tim Kebijakan AIDS PKMK FK UGM. Sebagai pemantik diskusi, ada 2 orang narasumber yang merupakan orang tua dari anak dengan penyandang disabilitas, menyampaikan paparan pengalaman mengasuh dan mendampingi anak dengan kebutuhan khusus, 1 orang narasumber dari penyandang disabilitas, dan selanjutnya paparan hasil penelitian oleh SAPDA.

Penelitian yang dilakukan oleh SAPDA (Sentra Advokasi Perempuan, Difabel dan Anak), menunjukkan bahwa remaja dengan penyandang disabilitas mengalami banyak hambatan untuk mengetahui informasi tentang kesehatan seksual dan reproduksi. Selama ini individu dengan diabilitas terabaikan dari intervensi program kesehatan khususnya kesehatan seksual dan reproduksi, karena lebih berfokus pada masyarakat non disabilitas. Sementara kematangan organ reprduksi dan seksualitas pada penyandang diabilitas tidak jauh berbeda dengan individu yang tidak meyandang disabilitas.

Testimoni yang disampaikan oleh orang tua dari anak peyandang disabilitas menunjukkan, bahwa informasi kesehatan seksual dan reproduksi sangat penting bagi anak mereka. Orang tua sebagai wali dan pendamping anak dengan disabilias, perlu diperkuat pengetahuan dan ketrampilannya dalam menyampaikan informasi kesehatan seksualitas. Tantangan bagi orang tua anak dengan disabilitas adalah bagaimana menyampaikan pesan yang sesuai dengan keterbatasan yang dimiliki oleh anak, karena seringkali terjadi kesalahpengertian anak terhadap informasi yang disampaikan. Selama ini model infomasi bagi penyandang disabilitas adalah dengan memberikan contoh dan pengulangan, dan sebatas pada bentuk-bentuk simbolik “larangan, atau membolehkan “ Sementara makna dan tujuan dari simbol tersebut tidak dijelaskan secara detail karena hambatan dan kesenjangan dalam berkomunikasi.

Paparan yang disampaikan oleh narasumber dengan disabilitas tuna rungu dan wicara, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam berkomunikasi untuk menyampaikan informasi kepada penyandang disabilitas, diantaranya adalah penggunaan bahasa yang sangat sederhana, jenis informasi yang disampaikan diolah sehingga menjadi lebih ringkas dan sederhana, menampilkan ekspresi wajah/ gesture yang jelas, serta menggunakan bahasa isyarat. Ada dua jenis cara berkomunikasi bagi penyandang diabilitas tuna rungu dan tuna wicara yakni dengan menggunakan bahasa bibir dan bahasa isyarat, namun yang lazim dan disukai adalah bahasa isyarat

Temuan penting dari hasil diskusi diantaranya adalah; informasi ksehatan seksual dan reproduksi merupakan hal penting bagi penyandang disabilitas.  Kajian tentang disabilitas dari perspektif kesehatan perlu lebih sering dikembangkan untuk mengetahui permasalahan kesehatan khususnya kesehatan seksual reproduksi yang selama ini jarang terungkap dan terdokumentasikan.

Supported by

AusAID