Oleh: Chrysant Lily
Di awal tahun 2015, Komisi Penanggulangan AIDS Nasional bekerjasama dengan HIV Cooperation Program for Indonesia (HCPI) merilis modul pelatihan berjudul “Materi Riset Operasional Bagi Peneliti dan Pengelola Program HIV dan Kesehatan Reproduksi.” Modul pelatihan yang awalnya disusun oleh Population Council ini bertujuan untuk membantu peneliti serta pengelola program untuk memahami prinsip dasar Riset Operasional (RO), serta menggunakan RO demi pengembangan dan perbaikan program. Pemahaman tentang RO ini penting sebab ditemukan bahwa salah satu hambatan utama dalam penggunaan hasil riset untuk pengembangan dan perbaikan program adalah kurangnya pemahaman riset pada pengelola program. Akibatnya potensi penggunaan hasil RO untuk perbaikan dalam peningkatan cakupan, kualitas dan efektivitas program HIV masih belum optimal.
Jadi apa sebenarnya yang dimaksud dengan RO? Ada berbagai definisi yang telah dikemukakan oleh banyak peneliti dan lembaga, sebab RO memang bisa digunakan dalam berbagai disiplin ilmu. Tetapi menurut Maholtra dan Zodpey (2011), dalam konteks kesehatan masyarakat RO mencakup “semua penelitian yang menghasilkan pengetahuan praktis (dalam bentuk bukti, penemuan, informasi, dll.) yang bisa memperbaiki implementasi program (seperti efektivitas, efisiensi, kualitas, akses, scale up, dan keberlanjutan) terlepas dari jenis penelitian (desain, metodologi, pendekatan) yang digunakan.” Kata kuncinya disini adalah perbaikan, dimana penelitian digunakan sebagai alat untuk menghasilkan perbaikan dalam kinerja serta pengelolaan dari program pencegahan dan penanggulangan penyakit.
Lalu, mengapa RO potensial untuk menghasilkan bukti-bukti guna memperbaiki kinerja program? Jawabannya terletak pada fokus RO yang memang ada pada; (1) pengidentifikasian masalah operasional program, dan (2) pemilihan dan pengujicobaan solusi dari masalah tersebut dalam intervensi program dan, (3) Evaluasi dari implementasi intervensi. Fokus RO ini tidak bisa dilepaskan dari konteksnya yaitu siklus program kesehatan, yang terdiri dari input (sumber daya manusia, keuangan, dll.), proses (kegiatan program seperti penyediaan layanan, pengembangan kapasitas, dan advokasi), output (hasil langsung dari program seperti ketersediaan dan penggunaan layanan), outcome (hasil di tingkat penerima layanan seperti perubahan perilaku), dan dampak (hasil jangka panjang seperti peningkatan status kesehatan masyarakat).
Dalam pencarian solusi, RO memodulasi input dan proses dari suatu program (faktor-faktor yang ada di bawah kendali pengelola program atau variabel independen), guna mengukur tingkat perubahan yang diharapkan di tingkat outcome (variabel dependen). Dalam konteks HIV, contoh variabel independen termasuk pelatihan, logistik, VCT, pendidikan komunitas, kegiatan rumah sakit dan klinik, dukungan untuk anak ODHA, pengembangan kapasitas untuk LSM, mobilisasi komunitas, dan banyak lagi kegiatan lainnya yang merupakan bagian dari program pencegahan, perawatan, dan mitigasi dampak (Fishers dan Foreit, 2002). Pemecahan masalah yang ada di bawah kendali pengelola program ini merupakan salah satu karakteristik utama yang membedakan RO dengan jenis penelitian lainnya.
Kesimpulannya, dengan orientasinya pada pencarian solusi untuk perbaikan program secara terus menerus, RO menjadi alat penelitian yang bisa menghasilkan manfaat sebesar-besarnya bagi pengguna layanan dan sistem kesehatan. Karena itu RO perlu dimanfaatkan untuk mencapai tujuan dari kesehatan masyarakat, dan hal ini membutuhkan kerjasama antara tim peneliti, pembuat kebijakan, pengelola program HIV dan sektor kesehatan lainnya. Dengan kerjasama ini, RO yang berkualitas bisa dilaksanakan sehingga bisa menjawab permasalahan program HIV dengan menemukan solusi strategisnya.
Referensi
Fishers A.A. & Foreit J.R. (2002). Designing HIV/AIDS Intervention Studies, anOperations Research Handbook. The Population Council, New York.
KPAN. (2015). Materi Riset Operasional Bagi Peneliti dan Pengelola Program HIV dan Kesehatan Reproduksi. KPAN, Jakarta.
Maholtra, S., & Zodpey, S.P. (2011). Operations Research in Public Health. Indian Journal of Public Health, vol. 54, issue 3, July-September 2010 pp. 145-150.