Oleh: Hersumpana,Ig. dan Ari Budianto
Transformasi pengetahuan untuk perubahan sosial dalam revolusi tehnologi informasi merupakan sebuah keharusan sejarah. Demikian juga dalam produksi pengetahuan terkait Penanggulangan AIDS dan penggunaannya untuk kepentingan praktis bagi pengambilan keputusan maupun pemanfaatan oleh masyarakat umum semakin menjadi kebutuhan. Tim AIDS PKMK FK UGM telah menginisiasi berbagai media untuk proses produksi dan berbagi pengetahuan kebijakan AIDS Indonesia dan Integrasi program ke dalam sistem kesehatan umum sejak tahun 2013 melalui pertemuan tatap muka dalam bentuk diskusi kultural rutin dengan berbagai pihak, diseminasi dan pengembangan wacana AIDS berbasis web (www.kebijakanaidsindonesia.net), dan pembelajaran jarakjauh berupa kursus kebijakan AIDS dengan webinar. Berbagai pengalaman pembelajaran tersebut semakin menegaskan pentingnya membangun sebuah komunitas yang secara intensif saling berbagi pengetahuan untuk perbaikan kehidupan. Pertanyaannya kemudian bagaimana proses berbagi dan penggunaan pengetahuan AIDS dari lembaga riset maupun perguruan tinggi dapat berkelanjutan dan memiliki dampak bagi penurunan dan pengurangan jumlah infeksi baru yang semakin efektif menjangkau kalangan yang lebih luas.
Berbagi pengetahuan melalui tatap muka dalam bentuk diskusi kultural memiliki kelemahan pada audiens yang terbatas, akan tetapi memiliki kelebihan pada proses interaksi maupun ikatan komunitas dan efektifitas dalam penyampaian pengetahuan dalam bentuk interaktif dan partisipatif. Dalam konteks pengembangan komunitas pembelajaran semua media saling berkaitan dan tidak berdiri sendiri. Sebagai contoh hasil diskusi tatap muka juga pada saat yang bersamaan bisa disebarluaskan melalui tehnologi streaming webinar yang bisa diikuti oleh berbagai pihak di berbagai lokasi. Persoalan yang perlu dikembangkan adalah bagaimana mengembangkan manajemen pengetahuan secara sistematis untuk kemudian bisa menjadi ‘power house’ untuk berbagi pengetahuan praktis bagi audiens yang lebih massif. Hasil pembelajaran tentang HIV dan AIDS akan dikelola sebagai sebuah data base pengetahuan yang dapat diakses setiap saat oleh siapapun melalui website.
Pengelolaan pengetahun melalui media sosial berbasis website menjadi terobosan bagi penyebaran pengetahuan yang lebih bermakna sebagai respon dari kemajuan tehnologi IT. Sebagian besar kalangan sekarang ini sudah aktif menggunakan berbagai produk IT yang dapat menyebarluaskan dan mengakses informasi secara cepat. Kesempatan ini dapat kelola untuk membangun sebuah komunitas saling berbagi pengetahuan yang berguna untuk perbaikan kondisi hidup seperti pengetahuan terkait penyakit HIV dan AIDS bagi kalangan masyarakat umum yang selama ini masih berpandangan sempit dan diskriminatif kepada orang yang hidup dengan HIV dan AIDS (ODHA).
Peluasan pengembangan media sosial sebagai media saling berbagi pengetahuan secara massif untuk kemajuan dan perbaikan hidup dapat menjadi gerakan yang strategis untuk mendorong perubahan-perubahan perilaku kelompok yang rentan, membangun pemahaman komprehensif tentang persoalan HIV dan AIDS untuk berbagai kalangan, tokoh agama, tokoh masyarakat, populasi kunci, dan pengambil kebijakan. Akan tetapi untuk mengelola Pengetahuan yang bermanfaat untuk kepentingan pengambilan keputusan pada lembaga-lembaga seperti KPA, Dinkes, dan LSM yang bergerak untuk AIDS secara berkelanjutan. Persoalan keberlanjutan ini terkait erat bagiamana sumber daya yang mendukung dapat dikembangkan melalui pembangunan database yang dapat diakses dengan mekanisme yang berbayar terutama untuk lembaga-lembaga yang strategis tersebut.
Berdasarkan pengalaman pembelajaran kombinasi pembelajaran melalui diskusi kultural, diskusi berbasis web (webinar) dan website, tranformasi pengetahuan dan wacana AIDS ke berbagai pihak semakin mendapatkan perhatian yang dapat dilihat dari peningkatan kunjungan ke website yang dapat dilihat secara gratis. Menjadi tantangan ke depan untuk konteks keberlanjutan bagaimana dapat membangun komunitas-komunitas yang aktif dan mau berbagi sebagai bagian dari masyarakat yang terbuka untuk perubahan dan perbaikan kondisi hidup. Transformasi kelompok pengetahuan AIDS (knowledge dissemination) menjadi knowledge management membutuhkan sebuah pengorganisasian, resources orang yang aktif untuk mengelola database pengetahuan tersebut. Sebuah media pembelajaran yang potensial untuk membangun masyarakat informatif terkait AIDS berbasis tehnologi media sosial yang semakin mewarnai perkembangan masyarakat modern termasuk perubahan orientasi dan perilaku seksual yang berisiko.