Oleh : Eviana Hapsari Dewi

World Hepatitis Day LogoHari Hepatitis Sedunia diperingati setiap tanggal 28 Juli. Tema global yang ditetapkan WHO untuk tahun ini adalah “Prevent hepatitis : Act now.”[1]. Bagaimana pengejawantahan dari tema tersebut, dikaitkan dengan upaya penanggulangan HIV dan AIDS selama ini? Kelompok penasun merupakan kelompok yang paling berisiko tertular HCV karena perilaku penggunaan jarum suntik yang tidak aman[2]. Hal ini diperkuat dengan hasil kajian sistematik mengenai penyakit Hepatitis B (HBV) dan Hepatitis C (HCV) yang menunjukkan bahwa kondisi epidemiologi HBV dan HCV secara global pada penasun di tahun 2010 adalah sekitar 10 juta penasun mengidap HCV positif dan tersebar di Eropa Timur (2,3 juta) serta Asia Timur dan Tenggara sebesar 2,6 juta. Jumlah ini kurang lebih 3,5 kali lebih besar daripada 2,8 juta penasun yang diestimasi dengan HIV. Sedangkan prevalensi pada populasi yang lain, misalnya LSL, dari salah satu hasil penelitian yang dilakukan di Boston, menunjukkan bahwa dari 1171 laki-laki yang terinfeksi HIV, dimana 96% nya merupakan LSL, sebanyak 1068 (91%) yang dilakukan skreening HCV, ternyata sebanyak 64 orang (6%) nya terinfeksi HCV[3]. Angka prevalensi ini tidak sebesar dengan prevalensi pada populasi penasun, seperti yang telah dinyatakan sebelumnya. Akan tetapi, data tersebut menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan tingginya angka prevalensi dan penularan penyakit Hepatitis C. Namun, WHO menyatakan bahwa pada tataran global penyakit Hepatitis C dirasakan masih kurang mendapatkan perhatian[4]. Padahal penyakit Hepatitis C berhubungan erat dengan infeksi HIV, karena ada kemiripan antara kedua infeksi tersebut. Dengan demikian, sebenarnya bisa diambil pembelajaran dari penanganan infeksi HIV untuk penanganan penyakit Hepatitis C. Virus Hepatitis C sepuluh kali lebih menular daripada HIV[3] melalui pertukaran sikat gigi atau alat cukur, pertukaran peralatan yang dipergunakan untuk menyiapkan napza, melalui transfusi darah yang tidak diskreening, sex yang tidak aman serta penularan dari ibu kepada anaknya.[5]. Dengan cara penularan yang relatif lebih mudah daripada HIV tersebut, maka Hepatitis C dianggap sebagai ‘silent killer’ dan semakin diperburuk jika ada koinfeksi dengan HIV[6].

Di Indonesia, respon terhadap penyakit Hepatitis C masih menyisakan persoalan terkait dengan kebutuhan untuk memperbaiki upaya pencegahan, perawatan dan pengobatan bagi penasun. Hal ini yang menjadi poin utama dalam sebuah policy brief yang dikembangkan oleh PKNI (Persaudaraan Korban NAPZA Indonesia) pada tahun 2013. Mereka menuntut adanya penurunan biaya obat Hepatitis C dan memasukkan dalam daftar obat esensial, sehingga mudah terjangkau; memasukkan kelompok penasun dan ODHA dalam surveilan tingkat nasional untuk tes antibodi HCV. Dalam policy brief tersebut juga direkomendasikan, khususnya kepada Kementerian Kesehatan RI untuk mengembangkan panduan nasional berdasarkan panduan internasional dari WHO dan konsensus nasional pengobatan infeksi Hepatitis C yang dikembangkan oleh Asosiasi Peneliti Hati Indonesia (Ina-ASL) untuk pencegahan, perawatan dan pengobatan HCV yang difokuskan pada penasun.[2] Aksi lain yang dilakukan oleh para aktifis pada peringatan Hari Hepatitis Sedunia (28 Juli 2015) adalah melayangkan petisi obat hepatitis murah Sofosbuvir ke Kementerian Kesehatan RI.[7] Di level sub nasional, yaitu Bengkulu[8] dan Bali[9], para aktifis di wilayah ini juga melakukan aksinya untuk menuntut Sofosbuvir bisa masuk ke dalam skema JKN. Terapi yang direkomendasikan oleh WHO untuk pengobatan infeksi HCV salah satunya adalah Sofosbuvir yang dikombinasikan dengan Ribavirin[10]. Jenis obat ini tergolong baru dan masih dalam proses untuk dapat masuk ke daftar obat esensial.[10]. Selama ini terapi infeksi HCV adalah mempergunakan kombinasi antiviral dengan interferon dan ribavirin. Namun sayangnya, interferon tidak tersedia secara luas dan kurang toleran terhadap beberapa penderita.[7]

Penjabaran di atas diharapkan dapat menjadi sebuah refleksi bersama terhadap tema “Prevent Hepatitis : Act Now” dikaitkan dengan upaya penanggulangan HIV dan AIDS selama ini. Masih diperlukan upaya bersama agar penyakit Hepatitis C mendapatkan perhatian yang lebih lagi dalam penanggulangan HIV dan AIDS, karena infeksi HCV seringkali merupakan koinfeksi pada penderita HIV seperti halnya penyakit Tuberculosis (TB).


 

[1] World Hepatitis Day 2015 (http://www.searo.who.int/entity/campaigns/world-hepatitis-day/2015/en/). Diakses tanggal : 1 Agustus 2015.
[2] HEP C POLICY BRIEF 2013 (http://korbannapza.org/id/library/detail/11/hep-c-policy-brief-2013). Diakses tanggal : 1 Agustus 2015.
[3] Garg SK et al (2013) Prevalent and Incident Hepatitis C Virus Infection Among HIV-Infected Men Who Have Sex With Men Engaged in Primary Care in a Boston Community Health Center, Clinical Infectious Diseases 2013;56(10):1480–7.
[4] Nelson PK et al (2011) Global epidemiologi of hepatitis B and hepatitis C in people who inject drugs : results of systematic reviews, Lancet 2011; 378: 571-583.
[5] PREVENT HEPATITIS: KNOW THE FACTS (http://www.worldhepatitisalliance.org/sites/default/files/resources/documents/Know%20the%20facts.pdf). Diakses tanggal : 3 Agustus 2015.
[6] Hepatitis C and general practice: the crucial role of primary care in stemming the epidemic (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1463125/pdf/bjpg55-259.pdf). Diakses tanggal : 3 Agustus 2015.
[7] Petisi obat hepatitis murah diserahkan ke Kemenkes (http://www.antaranews.com/berita/509179/petisi-obat-hepatitis-murah-diserahkan-ke-kemenkes). Diakses tanggal : 1 Agustus 2015.
[8] Obat Hepatitis C Terbaru Diharapkan Masuk JKN. (http://health.kompas.com/read/2015/07/30/141000523/Obat.Hepatitis.C.Terbaru.Diharapkan.Masuk.JKN). Diakses tanggal : 1 Agustus 2015.
[10] Hepatitis C. WHO Fact sheet N°164. Updated July 2015. (http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs164/en/). Diakses tanggal : 1 Agustus 2015.
[11] Hari Hepatitis Sedunia. BPOM: Obat Hepatitis C Sofosbuvir Masih Diproses dan Masuk Prioritas. (http://health.detik.com/read/2015/07/28/120035/2976880/763/bpom-obat-hepatitis-c-sofosbuvir-masih-diproses-dan-masuk-prioritas). Diakses tanggal : 1 Agustus 2015.