Oleh: Hersumpana

Ilustrasi | bookmasters.comKeberhasilan dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS ditentukan oleh kemampuan merespon situasi epidemi yang berkembang berserta penghitungan kebutuhan-kebutuhan intervensi program yang sesuai dengan beban penyakit yang harus ditanggung. Pasalnya, dalam kenyataan mendapatkan gambaran yang mendekati kebenaran suatu epidemi membutuhkan metodologi yang kuat (robust) untuk dapat memerhitungkan beban penyakit yang harus ditangani pada populasi tertentu (populasi kunci). Tulisan ini menganalisis pentingnya pemahaman tentang kemampuan mengembangkan pendekatan/metode untuk mengukur situasi epidemi dengan kebutuhan intervensi program pada populasi kunci untuk pengembangan perencanaan strategis  yang berbasis data[1](data driven planning) untuk populasi kunci sebagai kelompok yang sulit dijangkau.

HIV merupakan masalah kompleks yang pada awal diketahuinya epidemi di Indonesia belum memiliki proyeksi atau estimasi yang dapat dijadikan sebagai rujukan untuk mengembangkan intervensi program yang sesuai dengan status epideminya, sehingga  UNAIDS dan WHO mengembangkan sebuah pedoman untuk melakukan proyeksi dan estimasi dengan membentuk Reference Group on HIV Modeling, Estimates and Projections pada akhir tahun 1998 (www.epidem.org). Berdasarkan rekomendasi Reference Group tersebut, dikembangkan sebuah model proyeksi yang lebih tepat untuk Asia.  Permodelan itu adalah  Asian Epidemic Model (AEM) yaitu sebuah model kurva-fitting dengan sejumlah parameter perilaku yang menggambarkan suatu keadaan epidemi nasional dari sub-epidemi pada sub-populasi khusus. Kemudian pada 2006 proyeksi epidemi HIV di Indonesia menggunakan HIV Epidemiological Modeling and Impact (HEMI). Estimasi dan proyeksi ini sudah memperhitungkan dinamika demografi dan prevalensi HIV pada populasi tertentu dan kemungkinan penularan HIV pada daerah pedesaan dan perkotaan serta dilengkapi dengan parameter.  Pada perkembangannya  di 2008, Indonesia mulai menggunakan perangkat lunak Asian Epidemic Model (AEM) yang memproyeksikan epidemi dengan mengkombinasikan data prevalensi HIV dan indikator perilaku yang relevan untuk dapat menentukan faktor yang paling mempengaruhi terjadinya infeksi HIV[2] 

Pengembangan permodelan untuk mengestimasi dan memproyeksikan situasi epidemi menjadi pijakan untuk mengembangkan intervensi program-program penanggulangan AIDS secara lebih terukur dan berbasiskan data, khususnya data dalam skala nasional.  Yang menarik pengembangan permodelan tersebut dari waktu ke waktu pada populasi kunci mengalami pemutakhiran karena faktor-faktor yang diperhitungkan semakin banyak sehingga angka-angka yang diprediksikan semakin mendekati kenyataan dan terpercaya[3]. Bagaimana pengalaman melakukan estimasi di daerah menarik disampaikan oleh  beberapa CSO yang mengembangkan pemetaan-pemetaan yang menggunakan standard nasional dan pengembangan metode-metode baru berbasis pada media sosial (website dan media sosial lain) untuk memetakan populasi kunci pada kelompok LSL, LBT, dan Penasun yang dilakuan oleh Vesta.  Pengalaman lapangan yang dikembangkan oleh kelompok CSO menjadi menarik  karena metode yang digunakan mencoba menggali karakteristik perkembangan tehnologi media yang menjadi sarana bagi kelompok LSL mencari pasangan seks. Penggunaan metode media sosial ini memungkinkan untuk analisis pemetaan karakteristik kelompok populasi kunci LSL, Penasun dan LBT yang unik.[4]

Berbeda dengan pendekatan yang dikembangkan oleh PKBI yang mengembangkan pendekatan pengorganisasian untuk melakukan pemetaan populasi kunci pada kelompok WPS.  Oleh karena, pendekatan yang digunakan adalah untuk perubahan sosial, model yang dikembangkan lebih fokus pada membangun kesadaran secara kualitatif dari populasi WPS untuk terlibat dalam upaya pemetaan bagi kelompoknya[5]. Pendekatan yang digunakan akan menentukan evaluasi yang digunakan. Upaya membandingkan antara pendekatan  kuantitatif dengan kualitatif tentu tidak menemukan titik temu  oleh karena masing-masing pendekatan memiliki karakteristik tersendiri.  Pendekatan yang bersifat kualitatif pertanyaan evaluasinya menggali  perubahan  nilai-nilai bukan terletak pada besaran cakupan yang diperoleh dari penjangkauan yang dilakukannya. Oleh karena itu, pemahaman yang tepat terhadap maksud dan karakter pendekatan yang digunakan menjadi penting sehingga tidak  keliru dalam menilai keberhasilanya.

Secara subtansial yang perlu ditegaskan adalah  pemahaman dan maksud dari  dilakukannya estimasi (proyeksi) dan pemetaan.  Tujuan melakukan estimasi  tidak bisa dilepaskan dari upaya mendapatkan gambarantingkat epidemi.  Pemetaan situasi epidemi dimaksudkan untuk mengukur besaran dan sebaran persoalan sehingga basis yang digunakan data-data terkait dengan populasi tertentu dibandingkan dengan jumlah total dari eksistensi populasi tersebut  sebagai denominatornya.  Estimasi merupakan suatu permodelan yang dibangun dari  asumsi yang disepakati untuk mendapatkan gambaran tentang besaran sebuah epidemi dan sebarannya sehingga bisa digunakan untuk membuat perencanaan  intervensi program umumnya secara nasional.  Sementara, pada tingkat daerah yang relatif terbatas, umumnya estimasi diakukan dengan mempertimbangkan data-data dari pemetaan sehingga data-data yang digunakan menjadi lebih baik.  Semakin sedikitnya jumlah estimasi populasi kunci pada kelompok populasi  kunci menunjukkan bahwa estimasi tersebut semakin mendekati kenyataan.  Artinya, semakin banyak faktor-faktor yang diperhitungkan untuk melakukan estimasi suatu populasi sesuai karakteristiknya, hasilnya semakin baik.

Berdasarkan diskusi diatas dapat ditarik benang merah bahwa penggunaan pendekatan/model untuk melakukan estimasi dan atau pemetaan populasi kunci yang relevan akan bermanfaat optimal dalam perencanaan program yang didukung dengan data yang representatif yang mempertimbangkan berbagai karakteristik dan keunikan populasinya. Pendekatan kuantitatif dan kualitatif dalam melakukan upaya pemetaan tidak bisa dipakai secara bersamaan karena memiliki asumsi dasar yang berbeda, akan tetapi dapat dijembatani dengan pengembangan survei untuk melihat perubahan perilaku dari kelompok populasi tertentu.  Dengan demikian, melalui pengembangan metode yang tepat dalam menggali data populasi kunci akan berpengaruh dalam perencanaan strategis program bagi populasi kunci tertentu sesuai karakteristik dan keunikannya.  Estimasi yang mempergunakan kombinasi hasil-hasil pemetaan dengan survei perilaku akan semakin mendekati kebutuhan dan situasi epideminya.


[1] Marilee J. Bresciani,  Data-Driven Planning: Using Assessment in Strategic Planning. NEW DIRECTIONS FOR STUDENT SERVICES, no. 132, Winter 2010 © Wiley Periodicals, Inc. Published online in Wiley Online Library (wileyonlinelibrary.com) • DOI: 10.1002/ss.374
[2] Kemenkes RI, 2013. Estimasi dan Proyeksi HIV/AIDS di Indonesia Tahun 2011-2016, hlm. 1-3
[3] Abu S. Abdul-Quader, Andrew L. Baughman, and Wolfgang Hladik, Estimating the size of key populations: Current status and future possibilities. ARTICLE in CURRENT OPINION IN HIV AND AIDS • JANUARY 2014 Impact Factor: 4.68 • DOI: 10.1097/COH.0000000000000041.
[4] Kegiatan  Diskusi Kultural, Jumat 8 Januari 2016 yang diselenggarakan PKMK FK UGM berkerjasama dengan Vesta yang mengangkat tema : Bagaimana menghiitung (estimasi) populasi kunci?
[5] Ibid.