Oleh: Ita Perwira

Sustainable Development GoalsAkhir tahun 2015 kemarin menandai berakhirnya Millenium Development Goals (MDGs) dan memasuki awal tahun 2016 ini, telah diluncurkan agenda baru yang disebut Sustainable Development Goals (SDGs) yang berisikan 17 tujuan utama untuk membangun dunia yang lebih baik tanpa ada satu pun yang tertinggal (to build a better world with no one left behind). Berbeda dengan MDGs yang pada dasarnya lebih diarahkan pada negara dengan pendapatan rendah atau menengah, SDGs bersifat lebih universal, termasuk meliputi berbagai permasalahan kesehatan di berbagai negara sebagai komitmen global bersama dalam kerangka yang lebih luas dari pembangunan yang berkelanjutan.

Berkaitan dengan penanggulangan HIV dan AIDS, berbeda dengan MDGs yang secara jelas menyebutkan dalam salah satu tujuannya yaitu poin enam melawan HIV/AIDS, malaria dan penyakit lainnya, SDGs seperti yang dijelaskan pada paragraf diatas memiliki tujuan yang lebih universal yaitu untuk mencapai kesehatan dan kesejahteraan bagi semua orang (tujuan ketiga). Dengan tujuan tersebut sudah tidak ada lagi target secara khusus pada satu penyakit tertentu, tetapi lebih mengedepankan kesehatan dan kesejahteraan secara holistik. Dimana untuk mencapai itu berarti segala permasalahan kesehatan dan yang terkait telah dapat ditangani termasuk didalamnya permasalahan HIV dan AIDS.

Berbeda dengan MDGs yang pada dasarnya lebih diarahkan pada negara dengan pendapatan rendah atau menengah, SDGs bersifat lebih universal, termasuk meliputi berbagai permasalahan kesehatan di berbagai negara sebagai komitmen global bersama dalam kerangka yang lebih luas dari pembangunan yang berkelanjutan. Keempat hal tersebut salaing berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain, sehingga keempat dimensi tersebut harus dikembangkan secara bersama-sama. SDGs memahami bahwa pertumbuhan ekonomi tidak dapat dicapai tanpa adanya populasi yang produktif dan sehat, untuk itu menjembatani kesenjangan kesehatan nasional dan global menjadi bagian dari proses pembangunan yang penting. Sementara manfaat kesehatan dari adanya pertumbuhan ekonomi juga dinilai sebagai pendorong untuk mencapai tujuan kesehatan.

Pembangunan secara holistik yang diharapkan, mengakui masih ada banyak permasalahan kesehatan termasuk didalamnya permasalahan penanggulangan HIV dan AIDS serta berbagai penyakit progresif yang berdampak pada ODHA yang membutuhkan cara yang lebih adil dan berkelanjutan khususnya terkait jaminan kesehatan (universal health coverage/UHC) mengingat banyak dari ODHA juga datang dari kelompok yang termarjinalkan. UHC dan respon penanggulangan HIV secara umum memiliki banyak persamaan yaitu tujuan yang berkisar pada keadilan, non-diskriminasi, serta menjunjung tinggi martabat dan keadilan sosial. Disini sosial inklusi menjadi penting yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat miskin dan yang termarjinalkan agar dapat memanfaatkan kesempatan, serta memastikan bahwa setiap orang memiliki suara dan hak untuk mengambil keputusan yang dapat memepengaruhi hidup mereka dan menikmati akses yang sama ke pasar, layanan serta ruang politik sosial dan fisik.

Bila pendekatan UHC dan inklusi sosial tersebut dapat dilaksanakan dengan baik, maka agenda SDGs dalam mewujudkan kesehatan dan kesejahteraan sosial termasuk didalamnya penanggulangan HIV dan AIDS akan dapat diwujudkan. Dalam artikel komentar di lancet Buse, et al (2015) menyarankan ada lima pokok agenda yang dapat menjadi pertimbangan bagi kita untuk dapat dilaksanakan guna mencapai tujuan diatas khususnya terkait penanggulangan HIV dan AIDS yaitu pertama adalah bahwa harus ada tata kelola pemerintahan yang inklusif dan kerja sama yang luas termasuk didalamnya pelaksanaan prinsip pelibatan ODHA (Greater Involvement of People Living with AIDS/GIPA) untuk dapat memberikan layanan yang lebih responsif. Layanan HIV dan AIDS harus menjadi bagian dari UHC dan mengedepankan layanan berbasis komunitas yang melibatkan ODHA.

Kedua adalah harus ada mobilisasi sumber daya dan penyelarasan investasi, dimana sebagai bagian dari UHC, sumber pembiayaan dan sumber daya lainnya yang dibutuhkan oleh penanggulangan HIV dan AIDS seharusnya sudah dapat dicakup oleh pembiayaan UHC menggunakan dana nasional masing-masing negara. Untuk itu dibutuhkan adanya integrasi dan penyelarasan perencanaan pembiayaan antara UHC dan penanggulangan HIV untuk peningkatan efisiensi dan keberlanjutan.

Ketiga, seperti yang telah sedikit dibahas diatas bahwa perlu untuk mengutamakan pendekatan holistik untuk pengembangan yang berbasis manusia (people-centered development), dimana perlu adanya integrasi penuh atas kebutuhan kesehatan di masyarakat. Untuk ini perlu adanya pergeseran dari layanan kesehatan yang ada saat ini yang masih menggunakan model berbasis fasilitas (facility-based), sangat tergantung pada dokter dan fokus hanya pada penyakit menjadi layanan kesehatan yang lebih terintegrasi dengan mengedepankan promotif dan preventif, tidak hanya kuratif termasuk dukungan gizi yang dikembangkan pada tingkat komunitas dengan memprioritaskan kaum marjinal untuk mengeliminasi diskriminasi dalam layanan kesehatan.

Keempat adalah mengatasi permasalahan dasar terkait social determinants of health, mulai dari intervensi biomedis, sistem kesehatan yang kuat dan pembiayaan kesehatan yang adil. Dengan menggunakan hak asasi manusia dan kesetaraan gender sebagai dasar pemikiran untuk memastikan adanya akses ke layanan kesehatan termasuk didalamnya akses layanan HIV dan AIDS, spektrum determinan kesehatan ini harus lebih luas lagi di aplikasikan dengan tujuan utama adalah untuk mencegah penyakit.

Yang terakhir adalah meningkatkan akuntabilitas melalui mekanisme monitoring dan sistem pelaporan yang terintegrasi dalam layanan UHC, penanggulangan HIV dan AIDS diharapkan dapat meningkatkan akuntabilitasnya dimana berbagai pemangku kebijakan dapat mengakses dan juga ikut dalam melakukan monitoring serta ikut berpartisipasi dalam dialog dan penyusunan kebijakan bersama. Dengan adanya agenda bersama yang lebih komprehensif ini, diharapkan pelaksanaan penanggulangan HIV dan AIDS menjadi bagian dari agenda besar dalam usaha pencapaian tujuan SDGs secara global. (IP)

Referensi:

  1. Reddy, K. S. The Commonwealth health and development agenda: Beyond 2015.
  2. http://www.worldbank.org/en/topic/socialdevelopment/brief/social-inclusion
  3. Buse, K., Jay, J., & Odetoyinbo, M. (2016). AIDS and universal health coverage—stronger together. The Lancet Global Health, 4(1), e10-e11.
  4. Yi, I., & Kim, T. (2015). Post 2015 Development Goals (SDGs) and Transformative Social Policy. OUGHTOPIA, 30(1), 307-335.