Alexandra Conseil, et al.

Abstrak

Ilustrasi | wallstreetotc.comStudi kasus Vietnam bertujuan untuk melahirkan bukti empiris  tentang  manfaat relatif intrgrasi dari dua prioritas  intervensi kesehatan, HIV dan kontrol TB, ke dalam enam fungsi dari sistem kesehatan umum:  Tatakelola,  ketersediaan layanan, partisipasi, pengawasan dan evaluasi, perencanaan, dan pembiayaan.  Kajian dokumentas terseleksi dan wawancara  semi terstruktur  terhadap 25 narasumber dilakukan pada awal 2009 di Hanoi, Provinsi Hai Duong, distrik Chih Linh dan komunitas Hoang Tien dengan  informan dari lembaga international, nasional dan sub nasional yang mengelola Program HIV dan TB dan dari fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan HIV/AIDS dan TB.  Data yang terkumpul dibadingkan dan dievaluasi berdasarkan 25 unsur  integrasi. Setiap unsur integrasi dikategorikan sebagai “ terintegrasi penuh “,  terintegrasi sebagian, dan  “tidak terintegrasi”.

Hasilnya menunjukkan bahwa tidak satupun dari 6 fungsi program terintegrasi penuh ke dalam sistem kesehatan secara menyeluruh.  Program-program dikembangkan secara paralel , khususnya pada level administrasi yang lebih tinggi, atau dikategorikan sebagai terintegrasi sebagian. Temuan studi  mengungkapkan juga adanya  integrasi kecil  di antara kedua program.  Secara umum lembaga-lembaga internasional dan pemangku kepentingan domestik di level sub nasional lebih terintegrasi antara program-program vertikal (HIV dan TB)  dan sistem kesehatan umum, sedangkan badan nasional yang bertanggungjawab pada HIV dan TB semakin menguat secara vertikal sehingga  pendekatannya menjadi kurang terintegrasi. Ketiadaan asumsi dan tujuan bersama, adanya polarisasi pandangan  berdampak pada efektifitas dan efisiensi  yang kurang optimal dari setiap program penyakit maupun pada intervensi HIV/TB.

Kata kunci: Integrasi, kontrol penyakit, sistem kesehatan, HIV, tuberkulosis, Vietnam.