Oleh Diane Cooper,  et al.

Diane Cooper | www.uwc.ac.zaAbstrak

Latar Belakang

Integrasi Kesehatan seksual dan reproduksi (SRH) dan Kebijakan dan layanan HIV yang disediakan oleh pemberi layanan menjadi prioritas global,  khususnya di benua Afrika dimana prevalensi HIV tertinggi.  Afrika selatan memiliki program terapi ART yang terbesar di dunia, dengan estimasi 2.7 juta orang menjalankan terapi ARV, meningkatkan kemenonjolan Afrika Selatan sebagai satu pioner global dalam pengobatan HIV.  Pada 2011, Masyarakat klinisi HIV Afrika Selatan mempublikasikan  pedoman kehamilan yang lebih aman untuk Orang yang Hidup dengan HIV  dan pada 2013, Pemerintah Afrika Selatan mempublikasikan pedoman kontrasepsi yang menegaskan pentingnya SRH dan layanan perecanaan kesuburan bagi orang yang hidup dengan HIV.  Menangai kehamilan yang tidak diinginkan, kehamilan yang lebih aman dan isu-isu kesehatan ibu adalah krusial untuk memperbaiki  kesehatan Seksual dan Reproduksi Orang yang hidup dengan HIV dan memerangi epidemi Global.

Tulisan ini mengesplorasi perspektif para pengambil kebijakan  sektor publik Afrika Selatan tentang integrasi kebijakan Kesehatan Seksual dan Reproduksi dan HIV, dengan satu fokus khusus pada kebutuhan  untuk kebijakan nasional dan regional tentang kehamilan yang lebih  akan untuk Orang yang hidup dengan HIV dan pelaksanaan pedoman kontrasepsi.

Metode

Penelitian melakukan 42 wawancara mendalam dengan para pengambi kebijakan nasional, provinsi dan masyarakat sipil yang terjadi antara 2008-2009, dan 2011 – 2012,  ketika jumlah yang melakukan terapi ART meningkat.  Wawancara fokus pada tiga sasaran kunci: opini mengandung anak untuk orang dengan HIV; status integrasi kebijakan dan layanan  SRH-HIV ; dan pemikiran dan usulan integrasi SRH-HIV dalam merestrukturasi kembali kebijakan layanan kesehatan tingkat pertama. Data dikodifikasi dan dianalisis  menurut tema-tema tersebut.

Temuan

Para partisipan  mendukung integrasi kebijakan dan layanan SRH dan HIV.  Meskipun demikian, tantangan-tantangan integrasi yang teridentifikasi meliputi ketiadaan kebijakan dan pedoman, tenaga kesehatan yang terlatih tidak memadai, program bersifat vertikal,  tenaga kesehatan bekerja melebihi jam kerja, khususnya untuk kehamilan yang aman, kontrasepsi, dan kanker servik, terabaikan.

Para pengambil kebijakan mendukung  adopsi sektor publik  tentang kebijakan dan layanan  kehamilan yang lebih aman.  Para partisipan yang diwawancarai setelah perluasan terapi ARV merasakan lebih positif tentang kebijakan kehamilan yang lebih aman untuk orang yang hidup dengan HIV daripada parstisipan yang diinterview lebih awal.

Kesimpulan

Perubahan kebijakan HIV dekade lalu meningkatkan kesempatan bagi integrasi SRH-HIV.  Temuan-temuan memberikan  pemahaman penting untuk munculnya inisiatif-inisiatif integrasi kebijakan dan layanan  SRH dan HIV pada tingkat internasional, regional dan nasional.

Kata kunci : HIV/AIDS, Kesehatan Reproduksi dan Seksual, Integrasi, Pengambil Kebijakan, Afrika Selatan,  Pengaturan keterbatasan sumberdaya.