Yukari C Manabe  et al.

Abstrak

Background : Infeksi Sipilis Selama Kehamilan yang menyebabkan kerawanan dan kematian yang tidak terhindarkan dan tetap merupakan suatu masalah penting di Benua Afrika. Meskipun inisiatif global untuk meningkatkan  proporsi perempuan hami yang diskrining, pelaksanaannya masih lambat. Kam menggali fisibilitas  dengan menambahkan skrining sipilis  yang terintegrasi dalam Klinik HIV Ibu Hamil.

Metode: Perempuan hamil yang mendatangi Klinik perinatal HIV untuk melakukan pemeriksaan dan partisipan yang sepakat menjawab sebuah kuesioner tentang perilaku seks dan kehamilan sebelumnya, menyediakan data sosial demografis dan dites menggunakan reagen sipilis (RPR). Jika positif, partisipan diobati dengan penisilin benzathine.  Semua partisipan diberikan sebuah slip permberitahuan kepada pasangan dan ditindaklanjuti setelah pelayanan untuk menentukan hasil kelahiran.

Hasil:  584 dari 606 (95.7%) perempuan didekati dan setuju melakukan tes sipilis. 570 perempua yang menjalankan tes (usia tengah  29 tahun (IQR 25–32) dengan sebuah rata-rata tengah (IQR) CD4 372 (257–569) cells/μL.  51% (29/570) kedapatan positif RPR, semua yang memiliki gejala, berhasil dikontak, dan diobati dengan penisilin benzathine tanpa menimbulkan reaksi  kurang baik.  Semuanya, 61 (12.1%) dari partisipan memiliki hasil kelahiran yang kurang baik.  Dalam analisis bivariat, hanya umur yang secara signifikan membedakan mereka yang  atau tanpa positif RPR (RR= 1.15, 95% CI 1.065-1.248; p < 0.001). Pasangan hanya 10  (34.5 %) kembali melakukan pengobatan.

Kesimpulan : Intervensi struktural seperti  pilihan melakukan tes sipilis dalam klinik perinatal yang terintegrasi dengan HIV  dapat berjalan dan bsia ditingkatkan pada program perawatan lanjut yang telah dikembangkan sebelumnya untuk Perawatan HIV. Pendekatan baru dibutuhkan untuk melibatkan pasangan.

Kata Kunci :  perinatal, sipilis, integrasi dan tes pasangan