Ilustrasi | ThinkstockRiga Iman | Selasa, 03 November 2015

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI -- Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Sukabumi telah merampungkan pemetaan populasi kunci yang rawan terkena penyebaran HIV/AIDS. Hasilnya, ditemukan sebanyak 50 populasi kunci lelaki suka lelaki (LSL). 

"Pemetaan populasi kunci dalam sebulan ini menghasilkan banyak data baru,’’ ujar Sekretaris KPA Kota Sukabumi, Fifi Kusumajaya kepada wartawan, Selasa (3/11). Metode yang digunakan berbeda dan jauh lebih sistematis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.


Fifi menerangkan, pemetaan populasi kunci LSL ini merupakan program pemerintah pusat. Secara nasional hanya ada 16 kota/kabupaten di Indonesia yang melakukan pemetaan populasi kunci. Pemetaan di Kota Sukabumi telah menemukan populasi kunci dengan jumlah hotspot sebanyak 50 hotspot. 

Sementara jumlah populasi kunci LSL di Sukabumi berdasarkan hasil pemetaan mencapai sebanyak 1.600 orang. Mobilitas setiap populasi kunci rata-rata mencapai satu hingga tiga titik hotspot per hari. Artinya, setiap hari populasi kunci berpindah dari satu hotspot ke tempat yang lainnya. 

Jenis hotspot yang teridentifikasi antara lain mall, minimarket, dan salon. Lebih lanjut Fifi mengungkapkan, saat ini terdapat enam lembaga swadaya (LSM) aktif yang bekerja untuk penanggulangan HIV/AIDS. Bnetuk layanan yang dilakukan seperti penjangkauan, pendampingan, rujukan ke fasilitas layanan kesehatan (Fasyankes) dan pendampingan orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Di Sukabumi, terdapat 15  Fasyankes yang siap untuk penanganan HIV/AIDS. Variasi layanan antara lain IMS, VCT, LAS, PTRM, kesdas, IO, dan ARV. Salah satu kalangan yang peduli HIV/AIDS yakni Kelompok Sehati ( KUAS ) Sukabumi memandang posiif hasil pemetaan populasi kunci.


‘’Pemetaan ini sangat baik karena ke depan, data yang dihasilkan dapat menjadi bahan untuk intervensi dalam penanggulangan HIV/ AIDS,’’ terang Salma, Humas Kelompok Sehati (KUAS).

Source