0
0
0
s2smodern

Aktivis Yayasan Lentera Yunus Prasetyo menunggu surat keberatan orang tua siswa SDN Purwotomo terkait keberadaan anak asuhnya yang menjadi peserta didik sekolah setempat. Surat keberatan tersebut akan menjadi dasar baginya untuk mencari sekolah baru atau mengambil upaya hukum.

“Kami menunggu surat keberatan dari orang tua, bukan dari pihak sekolah. Tapi kami tetap berharap anak-anak tetap bisa sekolah di situ,” ungkapnya.

Yunus mengaku pihaknya menerima undangan dari Komisi Perlindungan AIDS (KPA) Surakarta untuk mengikuti sosialisasi HIV ke orang tua siswa dan pihak sekolah. Bukan untuk mengikuti rapat mediasi. Ia baru mengetahui jika di SDN Purwotomo terjadi kegelisahan di kalangan orang tua, saat menghadiri rapat mediasi tersebut.

 “Di forum itu kami sempat dituding-tuding oleh orang tua. Padahal anak-anak sekolah di sana karena ada regrouping. Itu urusan pemerintah. Dan saat itu tidak melibatkan kami juga. Sebenarnya bukan salah kami dan anak-anak. Wong waktu di SDN Bumi (sebelum pindah ke SDN Purwotomo, Red)  fine-fine saja,” bebernya.

Untuk meredam gejolak tersebut, Yunus memohon para orang tua membuat surat penolakan agar pihaknya bisa menarik anak asuhnya dari SDN Purwotomo dan mencari sekolah lain. Namun ia mengindikasi ada oknum orang tua yang menjadi provokator dalam situasi ini.

“Boleh anak-anak ditolak, tapi upaya hukum akan tetap jalan. Tapi kami lihat situasi dulu, cari siapa provokatornya. Pasti ada pemicunya, tapi saya kira tidak semua orang tua menolak,” katanya.

Menurutnya, aksi penolakan semacam ini sudah sering ia hadapi sebelumnya. Ia memprediksi jika anak asuhnya dipindah ke sekolah baru juga belum tentu situasinya menjadi kondusif. Jika memang benar ada provokatornya.

“Kami hanya gelo karena suasana di SDN Bumi sudah baik. Kenapa harus dipindah? Anak-anak kalau pulang sekolah dijemput naik mobil Lentera, semua orang sudah pada tahu, tidak apa-apa,” sambungnya.

Penolakan yang sering kali terjadi terhadap anak asuhnya, lanjut Yunus, selalu memberikan ancaman yang sama. Yakni seluruh siswa sekolah akan keluar jika anak asuhnya tidak dipindah. Akhirnya, Yunus dan anak asuhnya memilih mengalah dan menghadapi dengan santai sambil mempersiapkan diri dengan strategi.

“Anak-anak butuh pertolongan. Katanya, pemerintah hadir. Kita semua ikut terlibat dalam pemenuhan hak pendidikan anak. Tidak hanya anak HIV saja, tapi semuanya. Jangan dibedakan. Ini program kemanusiaan,” tegasnya.

Yunus mengaku kebingungan aspirasi yang disampaikan orang tua yang merasa keberatan jika anak asuhnya berbaur menjadi satu dengan siswa lainnya. Kekhawatiran para orang tua selalu seputar penularan virus HIV.

“Padahal sudah ada dokter yang menjelaskan kalau tidak menular. Saya juga sampai saat ini HIV negatif. Kalau dokter sudah bilang seperti itu, mereka mau percaya siapa?” imbuhnya.

Sehari setelah rapat mediasi atau kemarin, Yunus masih mengantarkan anak asuhnya berangkat sekolah di SDN Purwotomo. Tidak ada perubahan interaksi yang berarti terhadap anak asuhnya.

“Anak-anak tidak tahu kondisi ini. Tapi kami tetap kawal terus agar tidak ada diskriminasi. Hari ini (kemarin) anak-anak masuk sekolah, biasa saja. Mereka happy,” ujarnya.

Terpisah, Pengurus KPA Surakarta Tommy Prawoto juga prihatin atas kasus ini. Dia mengatakan, belum seluruhnya masyarakat memahami HIV/AIDS. Untuk itu Warga Peduli HIV/AIDS (WPA) terus digalakkan untuk menyosialisasikan di forum RW, RT dan kelurahan. Pihaknya juga mendorong masyarakat untuk melakukan tes HIV/AIDS. “Kalau nanti diketahui positif, kita ada kelompok pendamping sebaya. Selain mendampingi nanti juga mendapat motivasi,” katanya. (aya/irw/bun)

(rs/aya/irw/per/JPR)

Sumber: https://radarsolo.jawapos.com/read/2019/02/02/117389/tunggu-sikap-resmi-anak-anak-tetap-sekolah

0
0
0
s2smodern
Penelitian

Knowledge Hub

knowledgehub

knowledgehub

knowledgehub

Informasi

sejarahaids sistemkesehatan kebijakankesehatan kebijakanaids

Didukung oleh

AusAID