Radio Australia, 21 Juli 2014
Ayu Oktariani, delegasi Indonesia pada Konferensi AIDS 2014 di Melbourne, menyampaikan pidato yang memukau ribuan peserta pada upacara pembukaan, Minggu (20/7/2014) malam. Dalam pidatonya, Ayu menyerukan penghentian diskriminasi terhadap mereka yang hidup dengan HIV.
Postur boleh mungil, dan suara boleh lembut, namun Ayu Oktariani, seorang aktivis bidang HIV, berhasil memancing gemuruh tepuk tangan beberapa kali dalam pidatonya, yang disampaikan dalam acara pembukaan konferensi AIDS 2014.
Saat ditelepon oleh ABC sebelum keberangkatannya ke Melbourne, Ayu, yang mewakili komunitas hidup dengan HIV dan terdampak HIV, mengaku gugup, karena harus mengenakan pakaian daerah saat menyampaikan pidato pembukaan tersebut "takut keserimpet" (tersandung), katanya.
Toh, pidato Ayu berlangsung lancar. Dengan ditemani belasan perwakilan lain dari kawasan Asia Pasifik yang juga mengenakan pakaian tradisional, Ia menyerukan agar mereka yang terinfeksi HIV tidak lagi didiskriminasi.
" Saya HIV positif karena kurang informasi. Yang terjadi pada saya sering juga terjadi di kawasan kami dan di dunia," jelasnya.
"Banyak dari kami terinfeksi HIV karena kami tak punya cara melindungi diri kami," ucap Ayu dalam pidatonya dalam pembukaan konferensi yang juga dihadiri wartawan ABC International, Dina Indrasafitri.
Dalam pidato dalam bahasa Inggris tersebut, Ayu juga bercerita tentang kesulitannya melanjutkan hidup setelah terinfeksi, karena menghadapi diskriminasi dan tekanan sosial.
"Pekerja kesehatan bertanya-tanya, 'Mengapa terinfeksi HIV dalam usia muda?' saat saya mau melakukan tes Pap Smear, saya tidak dibolehkan, karena saya belum menikah," ucap Ayu, yang tergabung dalam dewan Ikatan Perempuan Positif Indonesia.
"HIV tak bisa diselesaikan hanya dengan ilmu pengetahuan. Karena stigma HIV, kita perlu mengikutkan orang yang hidup dengan HIV dalam penyikapan."
Ia mengajak anak-anak muda dengan HIV untuk bekerja sama berbagi informasi dan berusaha agar semua yang terinfeksi HIV diperlakukan dengan hormat.
Bersama dengan semangat yang mewarnai pembukaan konferensi tersebut, hadir juga duka, terkait musibah yang menimpa pesawat MAS MH17 minggu lalu di wilayah udara Ukrainia.
Bersama hancurnya pesawat tersebut, tewas pula beberapa peserta konferensi, termasuk pakar bidang HIV Dr Joep Lange.
Sejumlah pembicara dalam acara pembukaan menyampaikan ungkapan duka cita atas peristiwa itu.
"Dalam perjuangan panjang melawan penyakit yang sudah merampas begitu banyak nyawa, kita menjadi komunitas global yang juga akrab," bunyi sambutan yang disampaikan oleh Lambert Grijns, Duta Bidang Kesehatan Reproduksi dan Seksual serta HIV/AIDS.
"Dalam komunitas inilah kita berbagi harapan, ketakutan, keberhasilan dan kekecewaan. Mereka yang pergi dari kita hari Kamis lalu telah menyumbang banyak keberhasilan dan memberi harapan."
Konferensi Internasional AIDS tahun 2014 dijadwalkan berlangsung dari tanggal 20 -25 Juli 2014. Jumlah peserta diperkirakan 14.000 orang, dari hampir 200 negara.
Dina Indrasafitri
Sumber: Radio Australia