Tribun News, 14 Agustus 2014

IlustrasiPOS KUPANG.COM, LABUAN BAJO - Kaum perempuan lebih terbuka dalam pemeriksaan kesehatan, termasuk dalam pemeriksaan kesehatan yang berhubungan dengan HIV/AIDS. Sedangkan kaum laki-laki lebih jarang datang ke tempat pelayanan kesehatan. Mungkin lebih memilih melakukan pemeriksaan di tempat-tempat lain.

Hal ini disampaikan Ketua Tim Voluntari, Conseling, and Testing (CVT) Puskesmas Labuan Bajo, dr. Margareth saat membawakan materi dalam kegiatan sosialisasi program pencegahan Infeksi Menular Seksual (IMS) dan HIV/AIDS untuk kelompok sekitar pelabuhan di Hotel Pelangi Labuan Bajo, Selasa (12/8/2014).

Dijelaskannya, hal ini terbukti dari data warga yang berkunjung ke klinik VCT Puskesmas Labuan Bajo. Sejak adanya klinik VCT di Puskesmas Labuan Bajo tahun 2007, jumlah warga masyarakat yang berkunjung untuk berkonsultasi dan memeriksakan kesehatan reproduksi mereka terbanyak adalah kaum perempuan.

"Sesuai data hasil pemeriksaan kita di klinik VCT Puskesmas Labuan Bajo sejak tahun 2007 sampai dengan tahun 2013 lalu, tercatat 21 warga masyarakat kita yang sudah terinfeksi HIV, dan pada umumnya adalah perempuan, karena memang lebih banyak perempuan yang datang berkonsultasi dan diperiksa dibandingkan laki-laki," urainya.

Lebih lanjut dr. Margareth menjelaskan, keberadaan warga yang terinfeksi HIV di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) memang tidak bisa dihindari dan kemungkinan warga Mabar yang sudah terinfeksi HIV maupun AIDS di Mabar lebih banyak dari yang terdata pada klinik VCT Puskesmas Labuan Bajo. Namun karena tidak semua warga memeriksakan kesehatannya di klinik VCT sehingga masih ada yang belum diketahui.

"Indonesia termasuk negara dengan epidemi terkonsentrasi dan semua kabupaten sudah memiliki warga yang terinfeksi. Prinsip kita di VCT adalah setiap warga masyarakat harus dengan sukarela datang ke klinik VCT untuk konsultasi dan jika bersedia baru dilakukan tes dalam beberapa tahapan," jelas Margareth.

Mengenai penularan HIV/AIDS, dr. Margareth menegaskan, penularannya hanya dapat melalui darah, sehingga warga masyarakat yang memiliki perilaku hidup seks bebas atau mendapatkan transfusi darah dari pendonor yang sudah terinfeksi virus HIV/AIDS baru akan tertular. Sedangkan berpegangan tangan, berciuman, tidur sekamar, atau berenang bersama tidak memungkinkan penularan HIV/AIDS.
"Semua kita berpotensi untuk tertular HIV/AIDS, sehingga kita harus bisa menghindari perilaku seks bebas, terutama para penderita IMS, karena penderita IMS lebih rentan tertular HIV/AIDS kalau terlibat hubungan seks bebas," katanya.

Wakil Bupati Mabar, Drs. Gasa Maksimus, M.Si dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Asisten I Setda Mabar, Drs. Benediktus Banu menyatakan, saat ini terdatat 6,5 juta warga negara Indonesia sudah terinfeksi HIV/AIDS.

"Dari data tersebut sebanyak dua juta di antaranya adalah ibu rumah tangga yang terinfeksi dari suaminya yang suka jajan di luar," jelas Maksimus.

Dia mengharapkan semua stakeholder pelabuhan Labuan Bajo ikut mengambil bagian dalam upaya pencegahan dirinya dari penularan HIV/AIDS, karena sampai dengan saat ini ahli kesehatan belum menemukan obat yang dapat menyembuhkan HIV/AIDS. (meo)

Penulis: PosKupang; Editor: Putra

Sumber: Tribun News