Galamedia, 21 Agustus 2014
RSHS,(GM).- Dalam tiga tahun terakhir (1 Juli 2010-30 Juni 2013), Rumah Sakit Hasan Sadikan (RSHS) Bandung menangani 964 pasien infeksi menular seksual. Data tersebut berdasarkan rekam medis Poliklinik Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Divisi Infeksi Menular Seksual (IMS).
Tingkat prevalensi (kecenderungan) penyakit menular ini dialami pasien berusia 10-19 tahun (9,34%) atau 90 orang. Sebanyak 35,5 persen remaja tersebut menderita lebih dari satu IMS.
Data dari Klinik Teratai, yaitu klinik yang khusus menangani human immunodeficiency virus/acquired immune deficiency syndrome (HIV/AIDS), sekitar 90% penderita adalah kelompok usia 17-25 tahun. Dengan demikian, mereka pertama kali tertular HIV pada usia remaja.
Menurut Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski), Dr. Syarief Hidayat, Sp.K.K., IMS adalah penyakit yang penularannya terutama melalui hubungan seksual. Selain itu, penularan IMS dapat melalui jarum suntik yang terkontaminasi dari ibu ke janinnya.
Populasi remaja di dunia sebanyak 18 persen dari jumlah populasi dunia dan sekitar 88 persen dari remaja tersebut tinggal di negara berkembang. Selama dekade terakhir, masalah kesehatan seksual dan reproduksi pada remaja semakin menjadi perhatian di seluruh dunia. Keadaan ini antara lain berkaitan dengan perilaku seksualnya.
"Pemahaman yang kurang atau salah mengenai masalah seksualitas menyebabkan remaja berisiko melakukan hubungan seksual yang tidak aman," ungkap Syarief melalui siaran pers yang diterima "GM", Rabu (20/8).
Ia mencontohkan hubungan seksual yang tidak aman seperti berganti-ganti pasangan, memakai narkoba, dan tidak menggunakan kondom. Perilaku seksual yang tidak aman dapat meningkatkan kejadian kehamilan yang tidak diinginkan yang berakhir dengan aborsi.
Menurutnya, berdasarkan penelitian tentang pengetahuan dan sikap siswa SMA/SMK di salah satu kota di Jawa Barat yang dilakukan mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri, ternyata sebagian besar siswa yaitu 56,5 persen memiliki pengetahuan yang kurang mengenai penyebab, gejala, dan komplikasi IMS.
Ditambahkan, anak jalanan merupakan kelompok yang berisiko tertular HIV, karena anak jalanan lebih banyak terpapar dan terlibat dalam aktivitas seksual. Juga sering mendapat eksploitasi dan perlakuan kasar dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya.
Pada penelitian yang dilakukan terhadap 110 anak jalanan di beberapa tempat di Bandung, katanya, sebanyak 20 persen positif HIV dan 63 persen dari mereka memiliki tingkat pengetahuan HIV/AIDS yang buruk.
Menurut Syarief, pada 26-29 Agustus 2014 di Bandung, pihaknya akan menggelar Kongres Nasional (Konas) Perdoski. Salah satu kegiatan pada acara itu adalah kegiatan bakti sosial, yaitu penyuluhan mengenai IMS kepada siswa SMA di Bandung. Dan kepada para relawan rumah belajar yang membina anak jalanan.
(B.96)**
Sumber: Galamedia