Tribun Network, 4 November 2014
Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Doan Pardede
TRIBUNNEWS.COM, SAMARINDA - Dalam 5 tahun terakhir sedikitnya tercatat 2.200 anak berusia dibawah 5 tahun dinyatakan positif tertular HIV/AIDS di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 60 anak berada di Kota Samarinda.
Untuk Katim kata Mauran Gamutama dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kaltim, Kota Samarinda menduduki peringkat pertama jumlah pengidap Orang Dengan HIV/AIDS di golongan usia 25-40 tahun yakni sebanyak 1.034 kasus.
"Anak sudah ada, cuma yang terbesar itu (golongan usia 24-40 tahun)," kata Mauran di rumah jabatan Walikota Samarinda, Selasa (4/11/2014).
Sebenarnya kata Mauran, penularan dari ibu hamil kepada anak masih bisa dicegah. Hanya saja menurutnya, diperlukan tenaga ahli dan keseriusan dari si ibu sendiri.
Salah satunya dengan meminum obat antiretroviral (Pengobatan untuk perawatan infeksi oleh retrovirus, terutama HIV). Penularan HIV/AIDS juga menurutnya bisa dicegah disaat proses kelahiran yang aman dan saat ini sudah pernah diterapkan.
"Yang saya pahami memang dia misalnya minum obat antiretroviral. Kemudian kehamilannya selalu dikawal oleh dokter yang menangani dia," kata Mauran.
"Yang banyak terjadi anak-anak terpapar HIV/AIDS karena ketidaktahuan. Orangtuanya nggak tahu ditubuhnya ada HIV/AIDS," tambahnya.
Dan dari jumlah total 1.034 kasus di Kota Samarinda tersebut kata Mauran, beberapa diantaranya merupakan sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak.
"Jadi sudah masuk ke tengah keluarga HIV/AIDS," katanya.
Salah satu cara mencegah meningkatkan angka penularan HIV/AIDS khususnya generasi muda, adalah memperkuat pemahaman akan bahaya penyakit tersebut.
Dengan adanya pemahaman, menurutnya bisa menjadi benteng bagi yang belum tertular untuk tidak melakukan kegiatan- kegiatan yang berpotensi besar menularkan penyakit HIV/AIDS. Diantaranya menghindari seks bebas dan penyalahgunaan obat-obat terlarang.
"Artinya dari diri mereka sendiri, paham. Agar prilaku-prilaku yang beresiko itu menjadi tidak beresiko," kata Mauran.
"Contohnya, yang tadinya dia gampang untuk memakai narkoba, (jadi) mikir 100 kali karena HIV/AIDS. Pergaulan bebas, seks bebas dan sebagainya mikir 100 kali, dibalik itu ada resiko yang mengintai," tambahnya.
Editor: Sugiyarto; Sumber: Tribun Kaltim
Sumber: Tribun Network