Reportase Serial Diskusi Kultural III
Kurniawan Rahmadi & Fitri Hudayani
Diskusi kultural yang terselenggara pada selasa, 22 September 2015 bertempat di Puskesmas Cilincing, dihadiri oleh 16 orang peserta yang terdiri dari dokter dan tenaga kesehatan. Tema diskusi pada pertemuan ini mengangkat isu “meningkatkan kepatuhan berobat”. Klinik HIV pada PKM Cilincing terbentuk sejak awal tahun 2015 dengan persiapan dimulai pada tahun 2014 dan dimulai dengan pelatihan tenaga kesehatan yang akan terlibat.
Klinik HIV baru terbentuk karena Puskesmas Cilincing masih baru terbentuk, yang sebelumnya telah terbentuk tetapi saat ini tlah berubah menjadi Rumah Sakit Umum Kecamatan (RSUK), sehingga Puskesmas Cilincing baru dibentuk begitu juga dengan klinik HIV nya. Pada pelayanan HIV di Puskesmas Cilincing melibatkan tenaga terkait yaitu dokter, perawat, farmasi, laboratorium dan gizi. Dalam membantu pengawasan dan mendampingi populasi kunci dibantu oleh kader muda yang saat ini telah menjadi staf PKM.
Kendala yang sering ditemukan adalah sulitnya populasi kunci mendapatkan jaminan karena terkait dengan domisili yang tidak sesuai dengan kartu tanda pengenal yang biasanya berasal dari kota lain sehingga apabila ditemukan yang telah terdeteksi dan seharusnya melanjutkan pengobatan tidak lagi kembali untuk berobat. Hal ini dapat dilihat dari jumlah populasi kunci yang rutin mengambil obat hanya satu orang. Hal ini juga dibenarkan oleh kader pendamping yang selalu mendapatkan calon pasien yang seharusnya mendapatkan pengobatan saat dilakukan home visit tidak ditemukan karena kemungkinan menggunakan identitas palsu.
Kejadian tersebut selalu ditemukan dilapangan sehingga untuk mengikuti terus populasi kunci menjadi kendala yang sangat sulit. Banyaknya penduduk pendatang yang tidak mengurus administrasi kependudukan sesuai prosedur menjadi masalah utama Puskesmas Cilincing dalam usaha penanggulangan HIV dan AIDS. Sampai saat ini, pengelola klinik HIV terus berusaha mengatasi masalah terkait dengan administrasi kependudukan sehingga populasi kunci bisa mendapatkan obat yang seharusnya dan dapat menggunakan jaminan untuk pengobatan lainnya mengingat kondisi kependudukan di wilayah Puskesmas Cilincing yang banyak penduduk pendatangnya.
Untuk program lain yaitu PPIA, Puskesmas Cilincing akan merujuk ke rumah sakit untuk penanganannya dan selanjutkan populasi kunci tersebut akan melanjutkan pengobatan ke rumah sakit tempat rujukan. Dalam satu semester tahun 2015 terdapat 21 populasi kunci yang dirujuk rumah sakit untuk program PPIA.