DISKUSI KULTURASI I - YAYASAN PELITA ILMU

Tebet, 19 September 2015, 09:30 – 12:00 WIB

Penyaji                  : Kurniawan Rachmadi, SKM, MSi

Anggota                : Bayu Samudra, S.Gz

                               Yudhi Adrianto, S.Gz

Suasana DiskusiHasil Diskusi:

Ny. W (Topik: Efek Samping Obat)

Pengalaman mengenai rekan yang menggunakan obat single dose kemudian habis dan berubah menjadi 3 dose namun efeknya tidak enak ke tubuh, badan bereaksi dan menimbulkan rasa tidak nyaman.

Jawaban:

Sebenarnya yang memberikan efek tidak enak ke tubuh itu kemungkinan berasal dari zat tambahan yang ditambahkan ke dalam obat, seperti contohnya obat nevirapin yang berasal dari India meskipun dosisnya sama dengan obat buatan kimia farma, namun obat yang berasal dari dari india volumenya lebih besar karena ada zat tambahan diduga tepung dalam obatnya. Sehingga menimbulkan efek tidak nyaman bagi penggunanya. Sebenernya bukan unsur obatnya yang membuat rasa tidak nyaman, melainkan zat tambahan itu yang mengakibatkan rasa tidak nyaman dan rasa tidak nyaman setiap orang tentunya berbeda beda. Menjadi kewajiban pemerintah seharusnya untuk menyediakan obat yang fix dose itu.

Ny. H (Topik: Efek Samping Obat)

Setiap pagi mengkonsumsi obat dan menimbulkan reaksi mual dan muntah. Dan kebiasaan Ny. H minum obat tanpa sarapan pagi.

Jawaban:

Setiap minum obat adakalanya bersamaan dengan makan pagi sehingga obat dapat dicerna bersama makanan. Minum obat tanpa sarapan tidak dianjurkan dan tidak sesuai dengan peraturan penggunaan dan konsumsi obat.

Ny. E (Topik: Jadwal Minum Obat)

Jadwal minum obat tidak teratur, terkadang adanya kesibukan sehingga lupa untuk mengkonsumsi obat di malam hari. Sehingga obatnya berlebih sehingga apakah diperbolehkan meminum obat malam yang lupa pada saat minum obat pagi atau merapel konsumsi obat.

Jawaban:

Dalam mengkonsumsi obat sebaiknya gunakan pengingat atau alarm dalam ponsel sehingga dapat diharapkan tidak putus obat karena lupa ataupun tidak ada waktu. Kepatuhan dalam minum obat sangat penting berkaitan dengan status virus yang terdapat dalam tubuh serta dikhawatirkan akan memperparah penyakit karena virus yang resisten. Oleh karena itu wajib disiplin manajemen waktu dalam konsumsi obat.

Ny. E (Topik: Standar Prosedur Pemberian Obat)
Ny. E telah positif, namun selama ini belum meminum obat ARV karena saat memeriksakan ke dokter, hasil CD4 masih relative tinggi dan Ny. E sering mengalami demam, namun dokter yang memeriksakan tidak memberikan obat ARV dengan alasan kadar CD4 masih tinggi

Jawaban:

Seharusnya apabila orang dengan status positif langsung diberikan terapi pengobatan ARV. Akhir-akhir ini berdasarkan referensi dari WHO. Orang dengan status positif berapapun kadar CD4nya harus mendapatkan terapi obat ARV.

Ny. D (Topik: Resistensi Obat)

Resistensi terhadap obat ARV apakah dapat terjadi setelah konsumsi obat selama 5 tahun. Kemudian apakah terdapat pengaruh apabila konsumsi lebih dari 5 tahun.

Jawaban:

Konsumsi lebih dari 5 tahun tidak akan berpengaruh terhadap resistensi ARV. Resistensi obat ARV dapat terjadi apabila putus pengobatan. Obat memang memiliki waktu resisten, namun dengan penggunaan secara tekun, teratur dan sesuai yang dianjurkan  resistensi obat tidak perlu di hawatirkan. Kemungkinan obat resisten ketika memiliki tanda tanda seperti  jumlah virus dalam darah yang tidak kunjung turun ketika sudah meminum obat secara teratur dan dalam jangka awaktu yang cukup lama.  

Ny. W (Topik: Status Virus)
Ny. W sudah minum obat sejak tahun 2012, namun mengapa virus masih terdeteksi padahal Ny. W patuh minum obat.

Jawaban:

Virus tersebut akan masih tetap ada meskipun patuh minum obat. Namun yang menjadi penting adalah jumlah virus tersebut menurun dibandingkan dengan tidak minum obat dan virus tersebut ditahan oleh obat untuk tidak bereaksi terhadap penyakit dalam tubuh.

Ny. S (Topik: Efek Samping Obat)

Ny S mengkonsumsi obat selama 2 bulan (masih baru) kemudian setelah mengkonsumsi obat terjadi perubahan perilaku dan emosional menjadi tempramen atau sering marah. Serta dalam 2 bulan terjadi peningkatan berat badan dari 30 kilogram menjadi 43 kilogram.

Jawaban:

Efek samping obat ada bermacam-macam dan berbeda-beda pada setiap individu. Tidak dapat dikatakan perubahan emosi dan perilaku dapat dipengaruhi dari obat saja, namun ada faktor-faktor lain yang dapat merubah emosi juga seperti permasalahan dalam keluarga. Kemudian tentunya naiknya berat badan merupakan indicator dan efek samping yang bagus dalam pengobatan ARV karena mencegah terjadinya masalah gizi (risiko malnutrisi) akibat HIV.

KESIMPULAN HASIL DISKUSI

Suasana DiskusiDari hasil diskusi kulturasi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa masih awamnya pengetahuan masyarakan tentang pentingnya kepatuhan dalam meminum obat. Kepatuhan dalam meminum obat haruslah diterapkan pada pasien dengan HIV AIDS sehingga tidak memperparah prognosis dan menimbulkan komorbiditas akibat resistensi virus. Selain itu efek samping yang terjadi dalam konsumsi obat ARV belum sepenuhnya dimengerti oleh masyarakat sehingga masih terjadi indikasi-indikasi yang dikaitkan dengan konsumsi obat ARV.

Efek samping obat memang sangat penting untuk diketahui bagi pengguna obat, namun manfaat dari obat yang akan digunakan jauh lebih penting dan penggunaan obat sesuai dengan dosis dan tepat waktu dalam penggunaannya sangat membantu dalam keberlangsungan hidup penggunanya. Efek samping dari penggunaan obat bukanlah alasan untuk tidak menggunakan obat, karena manfaat yang akan diterima bagi pasien dengan HIV AIDS jauh lebih besar.

Berdasarkan hasil kesumpulan tersebut sebaiknya tenaga kesehatan ataupun lembaga swadaya masyarakat yang menangani kasus orang dengan HIV dapat memberi edukasi dan sosialisasi terus menerus berkaitan dengan pentingnya dalam kepatuhan minum obat serta dalam efek samping yang terjadi selama pengobatan ARV. Selain itu juga saling menghormati antara penyedia layanan kesehatan dan pasien menjadi kunci untuk keberlangsungan pelayanan kesehatan serta kepatuhan untuk meminum obat.

Suasana Diskusi

Suasana Diskusi