Narasumber : dr. Mubasysir Hasan Basri MA
Introduksi
- Pak Mubasysir berharap semua peserta sudah membaca dan mengerjakan tugas yang diberikan untuk membuat analisa stakeholder masing-masing. Sehingga proses belajar interaksi dapat berjalan. Pak Mubasysir akan membantu langsung berbasis hasil analisa peserta memberikan komentar dan memperbaikinya. Proses belajar menjadi dialogis dan aktif antara peserta maupun narasumber.
- Tujuan belajar dengan webinar ini adalah membuat paper dalam bidang kebijakan AIDS bukan untuk memberi nilai tetapi apa yang bisa dibangun dari pemikiran yang sudah berkembang. Fungsi narasumber membantu memfasilitasi untuk mengkerangkai kembali penelitian peserta sehingga masuk dalam kerangka kebijakan. Karena Kebijakan yang terpenting adalah analisa stakeholder untuk memahami kekuatan politik dibalik kebijakan. Maka penting untuk melakukan analisa stakeholder. Analisa stakeholder ini sebenarnya adalah policy game. Inti dari Policy game adalah proses belajar memahami siapa yang mendukung, kontra maupun yang netral. Dengan melakukan analisa kekuatan-kekuatan politik yang mendukung dan kontra akan berguna untuk menyusun strategi dalam melakukan advokasi.
- Karena peserta belum ada yang mengerjakan tugas, Pak mubasysir membantu memberikan sharing hasil analisa yang sudah dilakukan oleh mahasiswanya melalui tayangan screen dan menunjukkan bagaimana cara melakukan analisa stakeholder dengan mengambil contoh kebijakan soal narkoba. Sebagai panduan peserta wajib membaca bacaan dan tugas yang dapat dilihat dalam web: http://advokasidanpolitik.blogspot.com
- Peserta dapat berlatih melakukan analisis stakeholder dengan skema yang sudah ada (tersedia dalam table) yang dipilah menjadi tiga aktor ; pendukung, kontra dan netral. Peserta memberikan skor (1-5) untuk setiap aktor. Skoring tergantung dengan peserta, tidak mutlak. Hanya membantu untuk mempermudah dalam melakukan analisa.
Pertanyaan Peserta:
- Apakah dalam tugas analisis stakeholdernya perlu juga melakukan analisa power dan strategi yang dipergunakan untuk mempengaruhi agenda kebijakan?
- Apakah diperlukan mindmapping sebelum membuat analisis stakeholder?
- Di dalam melakukan analisis stakee holder, terutama dalam menentukan pro dan kontra, bagaimana upaya kita untuk mengurangi bias subyektifitas dari peneliti?
- Apakah kita pakai range skor yang sama seperti contoh dengan skor 1-5, apakah kita pakai range yang sama untuk di tugasnya?
- Apakah perbedaan stakeholder formal dan non formal itu dapat dibedakan dengan perbedaan skor tersebut atau langsung disebutkan bahwa yang bersangkutan adalah stake holder formal atau non formal ?
- Selanjutnya untuk analisis stakeholder berarti kita hanya bisa fokus pada satu kebijakan hiv aids yg spesifik ya? misalnya: PROGRAM PENUKARAN JARUM SUNTIK (HARM REDUCTION ) DI JAKARTA
- Apakah kita juga perlu juga memetakan kelompok-kelompok yang netral terkait isu yang kita kaji? Karena aliansi juga bisa dibangun dgn aktor netral?
- bagaimana dengan situasi dimana instansi yang bersangkutan seharusnya pro dengan kebijakan tersebut tetapi tidak memiliki kekuatan jika dalam suatu institusi, di level atas pro dengan kebijakan, tetapi di level bawahnya ( yang melakukan impelementasi terhadap kebijakan atasan tersebut ) tidak pro dengan kebijakan tsb. Kemana kita meletakkannya?
Respon Narasumber:
- Justru Analisa stakeholder ini penting untuk melihat dan memetakan kekuatan politik dibalik sebuah kebijakan. Analisa stakeholder seperti Policygame. Melalui policy game digambarkan siapa saja stakeholder yang paling kuat mempengaruhi sebuah kebijakan, siapa yang kontra. Dari peta kekuatan ini bisa dibangun sebuah strategi untuk membangun advokasi kebijakan.
- Mindmaping dapat dilakukan dan sangat membantu memahami latar setiap aktor atau stakeholder. Mindmapping dapat mempertajam analisa stakeholder yang dilakukan.
- Posisi peneliti dalam melakukan analisa stakeholder ini adalah tetap berada di luar atau independen. Akan tetapi dalam praktik ada peneliti yang sekaligus aktifis ini ini secara otomatis masuk dalam kekuatan yang kontra terhadap kebijakan kasus rokok.
- Skor yang digunakan bisa 1,2,3 atau 4. Skor ini hanya membantu untuk melihat kekuatan. Yang penting kita dapat memetakan kekuatan stakeholder. Kalo penelitian menggunakan kualitatif kita tidak harus membuat skor, tetapi dapat membuat analisis kualitatif untuk menggambarkan peta kekuatan dari stakeholder.
- Sebenarnya bisa langsung menunjuk pada aktor, tidak harus menyebut formal atau informal lagi seperti dalam kasus rokok. Bos sampurna misalnya lebih kuat daripada SBY. Karena dia yang membiayai kampanye SBY.
- Harus spesifik. Terutama dengan penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya. Dalam kasus penukaran program suntik misalkan, saya termasuk yang pro dengan jarum suntik dapat dijual di Apotek sehingga memudahkan dan cepat diakses. Di beberapa Negara lain, jarum suntik sudah dijual bebas.
- Dalam advokasi kelompok netral ini justru menjadi penting untuk dipengaruhi, sehingga kelompok netral perlu dipetakan. Karena akan menentukan hasilnya, tidak hanya yang pro dan kontra.
- Analisa stakeholder ini memang perlu dilakukan dengan leveling atau tingkat-tingkat masing-masing. Ini akan membantu lebih jelas meletakan duduk persoalannya.
Catatan Penutup:
- Silahkan para peserta membaca dan mengerjakan tugas jika ada kesulitan maka bisa langsung kontak narasumber via email, dan narasumber akan langsung merespon.
- Harapannya nanti sudah langsung bisa menjadi paper setengah jadi.
- Keaktifan para peserta menjadi utama, sehingga narasumber tidak perlu menjelas-jelaskan tetapi bisa langsung memberikan catatan perbaikan atas hasil dari para peserta.
- Peserta diharapkan aktif mengikuti perkembangan kursus pada link berikut: http://www.kebijakanaidsindonesia.net/kursus/mod/page/view.php?id=242