Pengantar Minggu Ke-21 2016
Website edisi minggu ini mengangkat tema tentang TB Multi Drug Resistance (TB-MDR). Indonesia merupakan salah satu dari 10 negara dengan angka kasus TB MDR terbanyak di dunia. TB MDR adalah bentuk spesifik dari penyakit TB dimana kuman resisten terhadap setidaknya dua jenis dari obat anti tuberkulosis (OAT) yang utama yaitu Isoniazid (H) dan Rifampicin (R). Program Manajemen Terpadu Pengendalian Tuberkulosis Resisiten Obat (MTPTRO) di Indonesia telah dimulai sejak tahun 2009, yang dikembangkan secara bertahap di wilayah Indonesia, sehingga pasien dapat mengakses layanan secara cepat dan sesuai dengan standar. Program MTPTRO merupakan bagian dari integral pengendalian TB Nasonal yang diperkuat dan dinyatakan dalam Permenkes RI No 13/MENKES/PER/II/2013.
Beberapa artikel yang disajikan dalam website ini mencoba mengulas tentang tantangan pengendalian TB MDR di Indonesia. Berbagai tantangan dalam pengendalian TB-MDR adalah masih rendahnya angka cakupan deteksi TB MDR, serta angka cakupan pengobatan yang masih rendah. Dalam artikel ini diulas persoalan yang mendasari rendahnya dua tantangan tersebut dalam pengendalian TB MDR. Pengobatan TB MDR membutuhkan komitmen yang tinggi baik dari pasien maupun penyedia layanan kesehatan karena pengobatan ini membutuhkan jangka waktu yang relatif panjang dibandingkan dengan pengobatan TB biasa (link).
Solusi atas tantangan tersebut salah satunya adalah dengan melakukan pendekatan komunitas yang diharapkan dapat mengurangi beban (dari sisi biaya dan sumber daya manusia) serta meningkatkan cakupan karena akses layanan menjadi jauh lebih dekat kepada masyarakat.