Blog CFR, 4 September 2014
In the aftermath of the miracle of a democratic transition from apartheid to "non-racial" democracy, South Africa faced a disease nightmare. During the presidencies of Nelson Mandela and his successor, Thabo Mbeki, up to a third of some population groups in South Africa were victims of HIV/AIDS. Deaths soared, and the national life expectancy dropped by a decade.
The black population bore much of the HIV/AIDS burden. The white population had access to South Africa's apartheid-era first world private medical facilities, and they procured anti-retrovirals from abroad. On the other hand, most blacks depended on the state medical facilities that also dated from the apartheid era. Mbeki and his then minister of health appeared bewitched by pseudo-scientific theories about HIV/AIDS circulating on the internet. Mbeki, also, saw foreign and white criticism of his approach to HIV/AIDS as part of an effort to discredit a new, black government. A consequence was that the government health system on which most blacks depended largely ignored HIV/AIDS and did not provide the most modern medical treatment.
Tempo.Co, 4 September 2014
TEMPO.CO, Oregon - Miliarder sekaligus pendiri Microsoft, Bill Gates, akan menyumbangkan uang US$ 25 juta atau sekitar Rp 294 miliar untuk penelitian HIV kepada Oregon Health & Science University, Amerika Serikat, yang berhasil menemukan vaksin pencegah HIV pada primata. Peneliti di sana berharap dana tersebut dapat digunakan untuk mengembangkan vaksin yang juga bisa menyembuhkan manusia yang sudah terkena virus itu.
"Kami ingin membantu menemukan vaksin yang dapat memburu dan membunuh virus yang sulit diatasi itu. Kami yakin pendekatan vaksin ini juga dapat bekerja secara efektif pada manusia," kata ketua peneliti, Louis Picker, seperti dilaporkan Reuters, Rabu, 3 September 2014.
Merdeka.com - Peneliti asal Universitas California berpeluang menghilangkan 'stempel' kematian dari seseorang pengidap AIDS, menggunakan teknologi gunting DNA. Seperti apa prosesnya?
Profesor Yuet Kan sebagai pemimpin penelitian tersebut mengklaim telah berhasil menghentikan infeksi dari virus HIV yang menyerang tubuh manusia lewat teknik editting DNA yang akan merubah salah satu protein penyusun DNA, The Daily Beast (11/6).
Tim peneliti merubah protein dengan kode CCR5 pada DNA yang digunakan oleh virus HIV untuk masuk ke dalam sel darah putih. Virus HIV memang dikenal menyerang dan menggunakan sel darah putih untuk bisa bertahan hidup, berkembang, dan bermutasi.
© 2026 Kebijakan AIDS Indonesia