Oleh : Hersumpana[1].

Ilustrasi | afritorial.comPengetahuan Komprehensif AIDS merupakan indikator penting dalam upaya penaggulangan AIDS yang berguna untuk pengembangan kebijakan dan program yang tepat. Pengetahuan dalam tulisan ini dipahami sebagai sebuah informasi komprehensif terkait dengan pemahaman HIV/AIDS berdasarkan 5 pertanyaan kunci yang selama ini menjadi pertanyaan standard survey terpadu biologis dan perilaku[2]. Selama ini, pengetahuan tentang AIDS diperoleh melalui pendidikan yang dikembangkan oleh Kemenkes melalui dinas kesehatan dan nakes maupun pendidikan yang dilakukan oleh berbagai kelompok swadaya masyarakat, kelompok penjangkau, kader kesehatan dan Kelompok dukungan sebaya. Sasaran program pendidikan AIDS masih fokus pada kelompok populasi kunci atau kelompok resiko tinggi seperti WPS, Waria, LSL, HRM (high risk man). Banyak program dikembangkan fokus pada kelompok populasi kunci. Jika mencermati data pengetahuan komprehensif dari data IBBS pada kelompok berisiko dari kita mendapatkan gambaran bahwa tingkat pengetahuan yang dimiliki ternyata tidak berbanding lurus dengan perilaku. Seperti data IBBS tahun 2013 menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan kelompok populasi kunci pada penasun dan kelompok LSL cukup tinggi mencapai 41 % 2013 dibanding tahun 2009. Namun demikian prevalensi AIDS-nya tidak banyak mengalami perubahan bahkan semakin meningkat. Pertanyaannya bagaimana pendidikan untuk masyarakat umum yang selama ini terabaikan?

Katergori populasi umum selama ini didefinisikan sebagai remaja usia 14 – 25 tahun yang menurut data terkini dari UNAIDS (2014) menunjukkan bahwa tingkat prevalensi infeksi baru tertinggi mencapai 60 % diantara kategori yang lain. Tingkat infeksi baru di Indonesia juga mengalami kenaikan drastis mencapai 48 %. Data yang dikeluarkan oleh UNAIDS ini sempat membuat berang pemerintah Indonesia, akan tetapi hal ini merupakan tantangan keseriusan pemerintah dalam upaya penanggulangan AIDS? Sejauhmana dampak dari program promosi dan prevensi melalui pendidikan yang dilakukan? Apakah masih relevan untuk kategorisasi yang memisahkan secara tegas kelompok populasi kunci dengan populasi umum. Berkaca dari data yang semakin menunjukkan peningatan prevalensi AIDS di kalangan populasi umum, pemerintah Indonesia perlu secara fundamental meretas kategorisasi antara populasi kunci dan populasi umum. Pendidikan AIDS perlu dikembangkan lebih luas untuk populasi umum khususnya usia remaja (14 – 25 tahun) dan kelompok perempuan resiko rendah dan pria resiko rendah. Trend tingkat pengetahuan pada kelompok populasi umum ini masih minim (rendah) seperti hasil Survey Terpadu Biologis dan Perilaku bahwa untuk remaja tingkat pengetahuan justru mengalami penurunan dari tahun 2007 mencapai 23 % pada 2013 mencapai 17 %, dan pada pria risti cenderung stagnan mencapai 16- 18 % pada 2013.

Pentingnya pendidikan dan informasi terkait AIDS pada kelompok populasi umum ini dipertegas oleh hasil survey 2013 yang dilakukan pada kelompok remaja SMA di Jakarta yang menunjukkan bahwa 84 % remaja Jakarta masih membutuhkan informasi HIV untuk memenuhi keingintahuannya. Sementara di Kota Yogyakarta tingkat pengetahuan komprehensif HIV dan AIDS di kalangan remaja masih rendah dari target 90 % yang ditetapkan oleh Dinas Kesehatan dan belum mencapai target MDGs dengan 95 %  pengetahuan komprehensif HIV dan AIDS pada kelompok remaja pada 2015. Hasil survey dengan pertanyaan yang disesuaikan pada 2014 menunjukkan bahwa Survey pengetahuan HIV remaja kota Yogyakarta  77,98 %, dan survey remaja usia 14-25 tahun yang berstatus WBP menunjukkan angka 73 % (2014) meningkat dibanding survey pengetahuan remaja  tahun  2013 sebesar 17 % (Monev 2014, KPAP Yogyakarta).

Melihat sejarah pengembangan program pendidikan AIDS yang sudah dilakukan oleh pemerintah Indonesia, sejak 2002 pemerintah sudah ada program LSE (life Skill Education) untuk anak-anak Usia SMP di Papua 13-15 tahun. Program pendidikan ini mendapat dukungan dari komite sekolah dan para orang tua murid.  Dengan dukungan dari UNESCO pemerintah Indonesia pada 2005 – 2007 mengembangkan training untuk calon guru dan murid di 500 sekolah pada 20 provinsi, pada kurun waktu yang sama ada juga pengembangan program yang didukung oleh UNICEF yang menyasar pada kebijakan sekolah untuk mengalokasikan resources pendidikan kesehatan khususnya HIV dan AIDS yang disebut FRESH (focusing resources for effective School Health). Program pendidikan yang masih berjalan adalah ABAT (Aku Bangga AkuTahu) yang diinisiasi oleh Kemenkes di hampir seluruh Kabupate/kota di Indonesia sejak 2011.  Berbagai inisiasi program pendidikan untuk populasi umum ini sangat penting meski mendapatkan berbagai tantangan dari sebagian elemen masyarakat maupun elemen pemerintah sendiri seperti depatermen agama.

Rendahnya pengetahuan kalangan populasi umum tidak terlepas dari pengaruh bias moral yang mentabukan informasi HIV dan AIDS karena informasi seks dan kondom misalkan  dipandang memberikan kontribusi untuk  promosi budaya seks bebas. Kenyataan ini menunjukkan pentingnya pendidikan seks tidak hanya menyasar orang muda usia tetapi juga untuk orang tua. Pendidikan seksualitas  seperti kesehatan reproduksi menjadi sangat penting bagi para orang tua, pendidik, dan berbagai kalangan luas sehingga orang dapat membedakan dengan jelas antara permasalahan kesehatan dengan permasalahan moralitas. Berbagai kebijakan pemerintah tentang penutupan lokalisasi juga perlu dibarengi dengan kebijakan pendidikan HIV dan AIDS yang lebih luas sebagai konskwensi hilangnya kontrol atas penyakit menular dari kebijakan penutupan lokalisasi di berbagai tempat. Pendidikan HIV dan AIDS untuk populasi umum adalah sebuah kewajiban untuk promosi dan pencegahan yang perlu diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan kesehatan nasional. Pemerintah perlu meretas dan membongkar batas-batas yang selama ini dikhususnya untuk populasi kunci karena trend prevalensi infeksi baru sekarang semakin menyebar untuk kalangan umum, khususnya remaja dan ibu-ibu rumah tangga. Dengan pendidikan yang tepat dapat menyelamatkan generasi masa depan.


[1] Pengembangan tulisan dari Presentasi Seminar Close The Gap : Pencegahan, Pengobatan, Perawatan, dan Mitigasi Dampak dalam Penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia yang diselenggarakan PKMK FK UGM pada 23 Desember 2014 dalam rangka peringatan Hari AIDS sedunia (HAS).

[2] Kriteria pengetahuan komprehensif dari WHO meliputi: 1) setia dengan  pasangan dan 2) penggunaan kondom sebagai pencegahan penularan HIV, 3) HIV tidak menular melalui penggunaan peralatan makan besama dan gigitan nyamuk serta 1) status HIV tidak bisa ditentukan jika hanya dengan melihat.  Lima pertanyaan tersebut selama ini digunakan sebagai kriteria mengukur pengetahuan komprehensif tentang HIV dan AIDS dalam Survey  Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP/IBBS).