Oleh: Chrysant Lily Kusumowardoyo

HIV/AIDS | ThinkstockDalam buku Reimagining Global Health, ada bab menarik yang ditulis oleh Messac dan Prabhu (2013) yang berjudul Redifining the Possible: The Global AIDS Response. Dengan mengambil perspektif global, bab ini mengulas secara historis tentang perjalanan naik turunnya respon AIDS dalam kurun waktu tiga dekade; yaitu 90an, dekade pertama di 2000, dan dekade yang sedang kita jalani sekarang. Berbagai dorongan geopolitik yang mempengaruhi komitmen untuk mencapai kesetaraan dalam kesehatan global dibahas dalam bab ini, dengan secara khusus melihat bagaimana penanggulangan HIV, penyakit yang justru menuntut perawatan yang lebih kompleks dan mahal dibanding penyakit global lainnya seperti malaria atau diare, justru berperan besar untuk mendorong peningkatan yang tidak terduga dalam bantuan pendanaan kesehatan global.

Messac dan Prabhu menjelaskan bagaimana pada dekade 90an, perhatian dan pendanaan untuk kesehatan global sedang dalam posisi status quo. Dengan menggunakan konsep institusionalisasi dari Berger dan Luckmann (1966), Messac dan Prabhu menjelaskan bagaimana para aktivis, pembuat kebijakan dan praktisi kesehatan internasional telah menginternalisasi bahwa sumber pembiayaan yang ada sangat terbatas dan tidak mungkin ditingkatkan. Akibatnya, para penyedia layanan kesehatan di negara-negara miskin menjadi terbiasa untuk menarget “low-hanging fruit of public health” seperti vaksin, kelambu anti nyamuk, kondom dan sebagainya. Sama halnya, para donor juga menjadi terbiasa untuk menyalurkan pendanaan yang sangat minim untuk program-program kesehatan global.

Tetapi di akhir 90an ada beberapa faktor pendorong yang melahirkan perubahan, seperti ditemukannya ARV, kemudian tersedianya ARV dalam harga yang lebih terjangkau, semakin banyaknya bukti yang menunjukkan bahwa pengobatan ARV juga bisa diterapkan di negara-negara miskin, ditambah lagi dengan gabungan pergerakan aktivis grassroot serta advokasi oleh para elit. Hasilnya, terjadi peningkatan bantuan kesehatan global dari 5.6 milyar dolar di awal tahun 90an menjadi 21.8 milyar dolar di tahun 2007. Kemungkinan terjadinya peningkatan seperti ini tidak terbayangkan pada dekade 90an.

Di dekade pertama di abad 21, konsepsi umum tentang apa yang mungkin itu juga dirubah oleh berbagai pemain global yang menyalurkan puluhan milyar dolar untuk kesehatan global, termasuk yayasan privat seperti Bill and Melinda Gates Foundation dan institusi multilateral seperti Global Fund. Selain itu, ada juga perubahan yang tidak terduga dari kebijakan pemerintah AS pada masa Presiden Bush – dari yang awalnya enggan terlibat menjadi salah satu pemeran utama dalam penanggulangan AIDS global. Bush-lah yang membuat kebijakan bernama U.S. President's Emergency Plan for AIDS Relief (PEPFAR), yang mengotorisasi pembiayaan 15 milyar dolar untuk anggaran lima tahun pada 2003. Dengan perubahan-perubahan di dekade ini, para praktisi kesehatan dan pembuat kebijakan di seluruh dunia mulai bisa membayangkan kemungkinan tercapainya kesetaraan kesehatan global.

Sayangnya perjalanan masih panjang untuk mencapai “health for all.” Dengan terjadinya krisis ekonomi pada tahun 2008, banyak negara donor termasuk Amerika Serikat melakukan pemotongan dalam bantuan asing mereka. Penurunan ini sangat kontras karena terjadi di saat munculnya bukti-bukti bahwa perawatan antiretroviral bisa mengurangi angka penularan sampai 96 persen (studi dari National Institutes of Health, 2011). Dengan kata lain, pengobatan adalah pencegahan. Artinya, peningkatan komitmen dalam pembiayaan dan pelaksanaan program-program pengendalian HIV sebenarnya bisa sangat menekan (atau bahkan menghentikan) pandemik ini.

Di tengah-tengah menurunnya jumlah pendanaan kesehatan global, dituntut adanya efisiensi atau penggunaan uang yang lebih baik. Karena itu di dekade ini, banyak penyedia layanan kesehatan yang kemudian menggunakan program-program AIDS yang “vertikal” untuk sekaligus menguatkan layanan kesehatan tingkat dasar yang bersifat “horisontal” (ini melahirkan istilah integrasi secara “diagonal”.) Layanan AIDS yang kompleks menuntut tersedianya staf yang terlatih, fasilitas yang modern, didukung oleh remunerasi yang baik dan sistem rujukan yang kuat. Oleh sebab itu, program-program AIDS yang vertikal ini bisa membawa ‘spillover effects’ pada penanggulangan masalah kesehatan lainnya, sehingga dengan kata lain perawatan AIDS bisa digunakan sebagai dasar untuk memperkuat sistem kesehatan di negara-negara yang sumberdayanya terbatas.

Apakah model integrasi seperti ini adalah definisi baru tentang jalan yang memungkinkan untuk tercapainya kesetaraan kesehatan global di tengah-tengah menurunnya komitmen pendanaan? Apakah ia adalah cara bagi praktisi kesehatan global dan para pembuat kebijakan untuk bisa mempertahankan dan menguatkan kemajuan yang telah dicapai di dekade pertama di abad 21? Messac dan Prabhu mengakhiri tulisannya tanpa memberikan jawaban secara eksplisit, sebab pertanyaan ini memang masih terbuka untuk kita jawab bersama di dekade ini.