Oleh: Muhammad Suharni; Editor: Iko Safika

Prof. Drh. Wiku Adisasmito, M.Sc., Ph.D.Prof. Drh. Wiku Adisasmito, M.Sc, Ph.D[1] merupakan salah satu pembicara dalam workshop analisis penelitian “Integrasi Upaya Penanggulangan HIV dan AIDS dalam Kerangka Sistem Kesehatan Nasional”, kerjasama Pusat Kebijakan dan Managemen Kesehatan, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (PKMK-UGM) dan Department Foreign Affairs and Trade (DFAT), pemerintah Australia. Prof. Wiku berbagi pengalaman penelitian yang melihat sejauh mana integrasi program Global Fund TB, Malaria dan HIV kedalam Nasional program dan sistem kesehatan. Diskusi bersama Prof. Wiku diharapkan membantu para peneliti dari 9 universitas yang terlibat dalam penelitian ini dengan menguatkan pemahaman tentang konsep integrasi dan cara pengukurannya.

Mengawali sesi ini di jelaskan bahwa hal yang sangat penting dalam sebuah studi termasuk dalam studi  sistem kesehatan adalah perumusan tujuan  penelitian.  Tujuan penelitian ini mesti jelas dan jika sudah ditetapkan tujuan maka langkah selanjutnya adalah menetapkan metode apa yang akan dipakai untuk mencapai tujuan penelitian tersebut[2].  Menganalisa integrasi penanggulangan HIV dan AIDS ke dalam sistem kesehatan Indonesia perlu melihat konteks global dan lokal.  WHO telah membuat suatu kerangka sistem kesehatan yang dikenal dengan The Six Building Blocks of a Health System (WHO) 2007[3]. Sistem kesehatan Indonesia telah ditetapkan tahun 2007[4] dengan mengadopsi WHO dan menambahkan  komponen pemberdayanan masyarakat.

Sistem Kesehatan Nasional adalah cerminan sistem kesehatan daerah baik dari provinsi maupun kabupaten. Dengan kata lain, sistem kesehatan daerah harus terintegrasi dengan sistem kesehatan nasional yang pada akhirnya akan menjadi penguat sistem ketahanan nasional.  Namun yang menjadi pertanyaan, mengapa ketahanan kesehatan tidak menjadi prioritas, sedangkan ketahanan pangan menjadi prioritas. Terkait dengan penanggulangan HIV dan AIDS, tujuan program penanggulangan HIV dan AIDS harus memberikan kontribusi terhadap tujuan sistem kesehatan nasional. Sehingga integrasi program HIV dan AIDS ke dalam sistem kesehatan  nasional menjadi penelitian yang penting.   Prof. Wiku membuat ilustrasi  tentang Integrasi sebagai berikut:

Jika ada dua benda misalnya  A dan  B yang akan diintegrasikan. Anggaplah  A akan diintegrasikan dengan B. Maka untuk bisa melihat apakah A telah terintegrasi ke B maka ketika kedua benda itu membentuk benda baru yang menunjukkan karateristik kedua benda itu sudah menyatu secara utuh, sebagian atau tidak bisa disatukan. Jika benda A hanya di tempelkan pada benda B dan kedua karateristik kedua benda itu tetap berbeda maka penggabungan ini bukan lah integrasi.  Hal ini tentu memerlukan proses dan pendorong dalam pembentukan benda baru ini.

Salah satu kerangka kerja yang dapat digunakan dalam analisa sistem kesehatan dengan menggunakan kerangka kerja SYSRA yang dikembangkan oleh Sandra Mounier-Jack[5].  Untuk mengatasi masalah kesehatan publik, Prof. Wiku cenderung membedahnya mulai dari strategi yang dipakai dari pada membedahnya mulai dari policy. Dalam pandangan Prof. Wiku strategi yang menentukan kebijakan, program, target dan outcome.  Sebagai contoh, upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia. Strategi yang digunakan dilihat dari segi pencegahan, kuratif, dan rehabilitative dengan mengembangkan kebijakan yang berupa penetapan beberapa wilayah prioritas, penguatan koordinasi dalam perencanaan, pelaksanaan dan monitoring serta evaluasinya. Program-program yang dikembangkan antara lain Pencegahan Melalui Transmisi Seksual (PMTS), program pengurangan dampak buruk narkoba, tata laksana Infeksi Menular Seksual (IMS), danPengobatan, Dukungan, dan Perawatan (PDP) dengan target dan cakupannya masing-masing. Secara simultan hal ini juga harus disinkronisasikan dalam sistem kesehatan nasional. Singkronisasi, penguatan, dan integrasi dapat dilihat dengan cara menentukan dengan jelas indikator program penanggulangan HIV dan AIDS dalam sistem kesehatan nasional.

Dalam kaitannya dengan penelitian ini, penentuan kerangka kerja dan indikator penelitan dapat mengacu pada konsep yang dipaparkan Prof. Wiku.  Seperti yang dijelaskan penelitian terkait dengan Sistem Kesehatan harus melihat faktor yang lebih besar yang mempengaruhi sistem kesehatan, seperti Sistem Kesehatan yang sudah dikembangkan oleh WHO, serta kondisi Indonesia yang sudah mengalami perubahan sistem pemerintahan dari sentralisasi dan desentralisasi.

Terkait dengan pengukuran integrasi, Prof. Wiku memberikan analogi pengukuran ketahanan nasional, yakni dengan cara; panca gatra, aspek, variable, indikator, dan instrumen.  Dalam penelitian ini dikembangkan subsistem, dimensi, kata kunci, dan instrumen. Untuk menentukan tingkat integrasi, indikatornya bisa mengacu pada berbagai kajian pustaka[6] yang sudah ada. Jika belum ada maka bisa juga dengan metode Delphi untuk mecapai mufakat. Tantangan dari penelitian integrasi kebijakan penanggulangan HIV dan AIDS dalam kerangka sistem kesehatan ini adalah bagaimana tingkat integrasi dirumuskan selaras dengan kenyataan yang secara normatif sudah dirumuskan dalam berbagai kebijakan mulai dari tingkat nasional hingga daerah.  Tingkat integrasi upaya penanggulangan HIV dan AIDS pada level lokal dengan sistem kesehatan daerah merupakan satu persoalan baru yang belum ada model dan bentuknya. Pengalaman Prof Wiku merujuk integrasi pada level nasional terutama yang mendapatkan support dari Global Fund.  Penelitian ini mengkaji integrasi dengan sistem kesehatan nasional/daerah, bagaimana penanggulangan AIDS dapat dilakukan melalui dukungan pendanaan APBD/N dengan mekanisme yang berlaku di masing-masing daerah.


[1] Sharing pengalaman Prof. Wiku melakukan  studi  bersama tim peneliti di London School of Hygiene and Tropical Medicine. Paper dengan judul:  Crirical interaction between Global Fund-supported programmes and health system: a case study in Indonesia. Healath Policy and Planning 2010:25:i43-i47.

[2] Lihat bahan presentasi Prof. Wiku  Health System Analysis

[3] WHO. Every Body Bussiness: Strengthening  Health System to Improve Outcomes; WHO’s Frame Work for Action, 2007

[4] Lihat: Perpres No 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional

[5] Sandra Mounier-Jack, Joia de Sa, Ralf Krumkamp, Richard Coker: A Toolkit for rapid assessment of health systems and pandemic influenza preparedness and response: Sysrematic Rapid Assesment Toolkit: (Sysra), 2008.

[6] Lihat: Conseil A, Mounier-Jack S, Coker R. 2010. Integration of Health Systems and priority health interventions: a case study of the integration of HIV and TB control programmes into the general health system in Vietnam. Health Policy and Planning 25(suppl.1) i32-6